Setengah Abad Lebih UMS Berdiri, Saatnya Kritisi Implementasi Misi

0
514

Kampus tercinta kita tahun ini telah menginjak usia ke 61. Terhitung sudah setengah abad lebih UMS berdiri sejak 18 Oktober 1981. Bukan usia yang bisa dikatakan muda lagi tentunya, karena UMS kini sudah banyak berkembang hingga memiliki 54 program studi dari 12 fakultas.

Nama UMS telah mampu disandingkan dengan beberapa perguruan tinggi negeri lain di Indonesia, karena sudah banyak melahirkan prestasi yang membanggakan dari sivitas akademikanya, baik dari dosen maupun mahasiswa. Selain itu, UMS juga mendapatkan akreditasi A BAN-PT yang berlaku dari 27 Desember 2016 sampai 27 Desember 2021.

Dilansir dari website resmi ums.ac.id, diketahui saat ini UMS memiliki 35.000 mahasiswa aktif yang terdiri dari mahasiswa program vokasi, Strata 1, Strata 2, dan program Doktor. Namun apakah sejauh ini UMS sudah menjadi kampus yang ideal? Data tersebut seakan terbentur dengan buruknya berbagai sarana dan prasarana yang seharusnya bisa menunjang kegiatan akademik mahasiswa.

Mulai dari parkiran yang membludak, sistem STAR UMS yang berulang kali error, ruang kelas minim, wifi yang sebenarnya bisa connect tetapi tidak bisa untuk searching. Bahkan akhir-akhir ini UMS seringkali mati air dan listrik. Beberapa masalah tersebut tentu sangat mengkhawatirkan dan mengganggu kegiatan mahasiswa.

Seperti kejadian beberapa pekan lalu, saya sebagai mahasiswa Fakultas Farmasi tentunya merasa sangat dirugikan karena praktikum harus terhenti setengah jam untuk menunggu listrik tersambung kembali. Akibatnya instrumen atau alat yang saya gunakan saat praktikum harus diatur dari awal dan itu cukup banyak menghabiskan waktu.

Dengan melihat realita saat ini, apakah sudah selaras dengan visi misi yang telah dicanangkan oleh UMS? Dalam salah satu misi disebutkan: mengembangkan sumber daya manusia berdasarkan nilai-nilai keislaman dan memberi arah perubahan dalam rangka mewujudkan masyarakat utama.

Bagaimana bisa mahasiswa dan dosen dapat menjadi sumber daya manusia yang unggul jika fasilitas atau sarana dan prasarananya kurang menunjang? Terlebih lagi ketika datang musim penghujan, kampus satu menjadi langganan banjir tiap tahunnya.

Griya mahasiswa yang merupakan komplek unit kegiatan mahasiswa pun tak luput dari genangan air hujan karena sistem drainase yang kurang memadai. Hal ini semakin memperparah lingkungan griya mahasiswa itu sendiri yang dari awal kondisi bangunannya sudah cukup memprihatinkan.

Wacana untuk merelokasi griya mahasiswa yang pernah dijanjikan bahkan tak kunjung direalisasikan. Hal ini membuat para aktivis mahasiswa sedikit gelisah dan menuntut adanya perbaikan atau setidaknya menuntut tempat yang lebih layak untuk kegiatan keorganisasian setiap UKM dan Ormawa.

Di sisi lain, UMS merealisasi beberapa bangunan seperti Masjid Sudalmiyah Rais, Kantin Tepi Danau, dan Edutorium yang rencananya akan rampung akhir tahun ini. Namun bangunan baru itu pun juga tidak lepas dari masalah, misalnya tiba-tiba ditemukan genangan air pada basement Masjid Sudalmiyah Rais padahal belum memasuki musim penghujan.

Kemudian limbah masakan dari Kantin Tepi Danau yang lambat laun akan mencemari air danau di samping Siti Walidah. Jika tidak segera ditangani, hal ini justru akan mengurangi estetika Danau Siti Walidah. Pembangunan Edutorium itu sendiri juga menuai kontroversi sebelumnya. Pasalnya Edupark merupakan salah satu ruang terbuka hijau Kota Solo, namun sekarang harus lenyap menjadi bangunan megah untuk keperluan Muktamar Muhammadiyah ke-48.

Dilihat dari kondisi-kondisi tersebut, saya kurang yakin visi UMS pada tahun 2029 untuk menjadi Pusat Pendidikan dan Pengembangan IPTEKS yang Islami dan memberi arah perubahan akan terwujud. Dari beberapa bangunan baru yang telah terealisasi, lantas apakah bisa dijadikan tolak ukur pengembangan sumber daya manusia yang lebih baik? Bisa kawan-kawan nilai sendiri.

 

Penulis : Radixza Afiffatul Rohmanna

Mahasiswa Aktif Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor   : Annisavira Pratiwi