PR Muhammadiyah: Benahi Sistem Pendidikan Akhlak

0
449

 (Tulisan ini pernah dimuat di Pabelan Edisi Jurnal XIX edisi 2003 dan ditulis ulang oleh Meliana Diah Pertiwi)

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi terbesar dan termasyhur di Indonesia dengan anggota yang sangat banyak pula. Organisasi yang berdiri pada tahun 1912 ini diketahui banyak berkontribusi dalam membina umat, khususnya umat Islam. Salah satu kontribusi Muhammadiyah yakni banyak mendirikan berbagai macam lembaga, dimulai dari lembaga dalam bidang pendidikan sampai lembaga dalam bidang kesehatan. Tidak lain untuk menjalankan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan umur yang mencapai satu abad, Muhammadiyah turut menyumbangkan pemikiran-pemikirannya terhadap bangsa ini, terutama dalam bidang pendidikan. Kurang lebih 12.400 lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, dari tingkat SD sampai dengan peguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah nusantara. Tentunya perlu bagi kita mengkaji ulang bagaimana sistem pendidikan yang dikembangkan Muhammadiyah untuk mencetak lulusan-lulusan yang kompetitif dan berakhlak mulia.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebar di beragam kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Solo, Malang, dan sebagainya. Jika kita amati lebih dalam, fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh Muhammadiyah tidak kalah dengan sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Bisa ditarik kesimpulan bahwa Muhammadiyah sudah bertransformasi dari pendidikan tradisional ke wajah barunya, yaitu pendidikan modern. Dengan pembawaan kurikulum yang jelas dan silabus yang tegas, kemampuan anak didik bisa diukur dengan standar yang jelas. Terlihat dalam pendidikan agama, jika dulu pendidikan agama hanya dalam bentuk halaqoh-halaqoh, sekarang dikemas dengan sistem klasikal.

Meskipun sudah tak terhitung lagi pencapaian-pencapaian Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah belum boleh untuk berpuas diri dan merasa cukup. Karena apabila Muhammadiyah stagnan di salah satu titik, dalam arti berhenti untuk mengembangkan kreativitasnya maupun pemikiran-pemikirannya, bisa saja keberadaan Muhammadiyah akan tergulung arus kencang globalisasi era sekarang ini.

Tidak hanya tentang fasilitas, seharusnya Muhammadiyah juga harus memperhatikan dan memprioritaskan pendidikan akhlak yang rasional dan argumentatif. Tanpa kedua elemen tersebut dalam pendidikan, maka Muhammadiyah akan kesulitan dan sulit untuk menerjang arus modern di era milenial seperti sekarang ini. Maka dari itu pendidikan akhlak sangatlah penting untuk mencetak lulusan yang berbudi luhur.

Tanpa adanya akhlak yang luhur, maka suatu bangsa akan tergerus eksistensinya oleh kehidupan duniawi yang melenakan. Seperti yang dituturkan oleh Ahmad Syauqi, “Sesungguhnya eksistensi umat tergantung pada akhlak luhur mereka, jika akhlak mereka hancur maka musnahlah bangsa itu”.

Muhammadiyah memang sudah menanamkan nilai-nilai akhlak di sistem pendidikannya, namun pada kenyataannya pendidikan akhlak ini dinilai belum maksimal. Tentunya bukan hanya tugas Muhammadiyah untuk memberikan pendidikan akhlak ini, namun juga lembaga-lembaga yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah agar pandangan negatif bangsa kita dieliminasi, terutama kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Diambil dari katadata.id sudah tercatat sekitar 1007 kasus KKN dari tahun 2004 sampai dengan 2019 ini. Data tersebut tentunya sangat memprihatinkan sekaligus memalukan, namun apa mau dikata memang demikian faktanya. Berdasarkan fakta tersebut, bisa dibilang pendidikan akhlak kita masih pada taraf sekolah dasar. Seharusnya pendidikan akhlak sampai di tahap kognitif dalam pembelajaran, baik sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini dilakukan agar anak didik sehat secara mental, spiritual, psikis, maupun fisik.

Rasanya memang tak adil jika pendidikan menjadi kambing hitam atas bobroknya moral anak bangsa. Namun kenyataannya kaderisasi moral terbentuk dari aspek-aspek dan elemen di masyarakat, baik formal maupun non formal. Semua ikut bertanggung jawab mengawasi dan menerapkan bab moral ini. Namun lagi-lagi, pendidikan lah yang paling besar memikul beban moral tersebut, karena pendidikan akhlaklah yang mendasari perilaku masyarakat. Para guru dan masyarakat bertugas memberikan contoh atau tauladan yang baik.

Apabila sistem pendidikan yang digambarkan di atas diterapkan dan diindahkan secara baik dan juga intensif sebagaimana yang tercurah dalam kitab suci kita, Alquran, maka umat akan berbudi luhur. Otomatis perilaku-perilaku kurang baik memudar, dan hilang KKN dengan seiringnya. Namun masih menjadi tanda tanya besar, maukah kita?

Dengan berbekal dua komponen rasional dan argumentatif, Muhammadiyah bisa menghidupkan kembali semangat tajdid. Artinya apabila Muhammadiyah bergerak untuk membenahi sistem pendidikan, terutama pengembangan pemikiran rasional, maka jelas pola pikir ijtihad yang diterapkan oleh pendahulu perlu diikuti dengan konsekuen dan bertanggung jawab. Maka pengembangan rasional ini harus mengacu pada Alquran dan As Sunah. Berlandaskan hal tersebut, Muhammadiyah diharapkan bertransformasi ke arah yang lebih baik lagi untuk menghasilkan pemikir juga pemikiran yang dapat menjawab tantangan zaman.

 

Editor              : Annisavira Pratiwi