Ada Apa Dengan Cadar?

0
545

Perdebatan penggunaan cadar akhir-akhir ini acap kali kita dengar. Setelah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Suka) mengeluarkan surat keputusan yang melarang mahasiswanya menggunakan cadar pada tahun 2018 lalu.

Kemudian disusul Menteri Agama, Fachrul Razi yang mengusulkan pelarangan Aparatur Sipil Negara (ASN) bercadar dan bercelana cingkrang.

Kini salah satu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Endang Fauziati terang-terangan mengutarakan ketidaksukaannya terhadap penggunaan cadar, yang ia sampaikan di setiap perkuliahan.

Salah satu mahasiswanya mengakui bahwa Endang sering kali terlalu berlebihan dalam mengutarakan ketidaksukaannya mengenai cadar. Bahkan mahasiswa bercadar yang diajarnya di kelas seperti dijelekkan.

Endang ketika ditemui mengonfirmasi hal itu memang selalu ia sampaikan dalam kelas, sebab ia merasa seolah jadi ibu yang selalu khawatir bercadar itu menjurus ke arah eksklusif.

Berkaca dari pengalamannya, ia merasa takut bila ada kelompok-kelompok khusus yang bertujuan melamar, dari kelompok yang tidak jelas.

Sebenarnya ada apa dengan cadar? Bukankah di Indonesia sendiri tidak ada kewajiban atau larangan dalam menggunakan cadar di tempat umum?

Memilih apa yang ingin dipakai, merupakan suatu bentuk kebebasan yang dijamin hak-haknya oleh negara. Namun apa yang ada di pikiran masyarakat kebanyakan kini telah terbius stereotip bahwa wanita bercadar adalah radikal.

Padahal dalam perihal keamanan sendiri, tidak ada korelasi antara gaya berpakaian menentukan tindakan seseorang.

Pola pikir dangkal seperti itu harusnya diperbaiki dan tidak melulu berfokus pada trauma pribadi. Kita perlu menggunakan kacamata kita untuk melihat dari berbagai perspektif.

Bercadar merupakan hak seorang wanita untuk melindungi dirinya dari hal yang tidak diinginkan. Tidak serta merta hal itu terkesan seolah selalu menjurus ke arah yang negatif.

Meskipun terkadang ada beberapa oknum tertentu yang memanfaatkan cadar sebagai tameng melakukan kejahatan, tapi bukanlah cadar yang semestinya dipermasalahkan. Oknumnya, bukan cadarnya.

Beberapa waktu lalu kita dengar ada cross hijaber yang nekat menyamar menjadi wanita bercadar demi obsesi untuk fetish-nya melihat tubuh perempuan.

Untuk hal-hal seperti itu memang mengerikan, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika berada di tempat umum. Namun ketika di lingkungan kampus, selama penggunaan cadar sendiri tidak dilarang atau tidak diwajibkan oleh madzhab manapun, maka tidak sepantasnya asal menuduh bahwa yang bercadar adalah radikal. Alangkah sempit pemikiran yang seperti itu. Saling menghormati saja antara preferensi masing-masing individu.

Dalam perkara ini, dosen juga seharusnya bisa membentuk diskusi yang sehat sehingga dapat saling bertukar pikiran. Mengingat ruang lingkupnya adalah civitas academica.

Dosen pun seyogianya dapat menyampaikan nasihat ataupun pendapatnya dengan baik sesuai adabnya; langsung kepada person. Bukan malah di dalam perkuliahan yang bisa membuat suasana kuliah menjadi tidak nyaman.