Jadi Aktivis yang Berprestasi, Isna: Semua Harus Seimbang

0
216

Menjadi aktivis kampus dan mahasiswa yang mempunyai segudang kegiatan, bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa. Karena, waktu yang sedianya terbatas harus dibagi rata dan seimbang baik antara kuliah dan organisasi maupun urusan pribadi, belum lagi jika ada organisasi di luar kampus.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi mahasiswi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) bernama lengkap Isna Nur Insani. Mahasiswi kelahiran Kabupaten Semarang ini banyak mengikuti organisasi, baik di dalam maupun di luar kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS selama dua tahun, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan selama satu tahun, dan terakhir saat akhir tahun perkuliahan, ia mengikuti Ikatan Mahasiswa Berprestasi (IMAPRES) UNS.

Di samping itu, ada juga organisasi luar kampus yang diikutinya, seperti Young On Top (YOT) Solo, Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) Cakra UNS, dan forum Generasi Berencana (Forum GenRe) Kota Surakarta, serta Komunitas Semarak Inspirasi.

Isna sendiri merupakan founder komunitas Semarak Inspirasi. Bermula sejak tahun 2017 ketika pertama kali dicetuskan, komunitas ini masih berjalan sampai sekarang. Tujuan Isna membuat komunitas ini adalah karena dirinya melihat, sebenarnya banyak orang yang ingin berbuat baik, hanya saja tidak semua orang mempunyai wadah organisasi yang bisa menampung mereka. Pikirnya, untuk orang-orang yang semangat berbuat kebaikan seperti itu, mengapa tidak dibuatkan wadah saja agar bisa menebar kebaikan untuk orang-orang sekitar.

Hingga pada akhirnya, sebuah komunitas atau ‘wadah’ bernama Komunitas Semarak Inspirasi itu lahir. Beranggotakan mahasiswa, komunitas ini pun fokus bergerak di bidang pendidikan. “Karena  pendidikan itu, kan, kayak umum banget dan basic banget dan itu bener-bener diharapakan dan dibutuhkan oleh banyak orang,” jelasnya.

Isna menambahkan, komunitasnya mempunyai prinsip menginspirasi dan terinspirasi. Itu berarti, di dalamnya tidak hanya berisikan orang-orang yang terlihat pintar dan bisa langsung menginspirasi banyak orang, tetapi Semarak Inspirasi juga berharap untuk bisa mendapatkan asupan-asupan inspirasi termasuk dari dinamika di luar komunitas.

Di samping kesibukannya berorganisasi, Isna juga memiliki kesibukan lain seperti bergabung dengan Hubungan Masyarakat (Humas) UNS dan menjadi jurnalis. Ada juga Beasiswa Bakti Nusa yang di dalamnya terdapat kegiatan sosialnya, meliputi advokasi pasar, peduli dengan anak-anak  Sekolah Menegah Atas (SMA)  yang kurang mampu dengan mengadakan les untuk mereka, serta ada beberapa partisipasi dalam aktivitas sosial yang juga berangkat dari Komunitas Semarak Inspirasi.

Mengenai perbedaan ketika mengikuti organisasi di kampus dan di luar kampus, ia menjelaskan, “Kalau misal di kampus lebih terstruktur, lebih jelas, harus patuh, dan ada Aturan Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) juga. Kalo organisasi di luar kampus biasanya lebih fleksibel, dan lebih nyaman aja, sih.”

Adapun tentang bagaimana caranya dalam memanajemen waktu, Isna mengaku bahwa ia memakai empat jendela prioritas: pertama, penting dan mendesak, kedua penting dan tidak mendesak, lalu tidak penting dan mendesak, dan yang terakhir adalah tidak penting dan tidak mendesak. Yang ia lakukan pertama adalah menganalisis hal apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, lalu jika ada yang kurang penting maka akan ditinggalkannya. “Kalo ikut banyak organisasi itu, aku mengikuti apa yang aku inginkan. Jadi, aku ikut beberapa organisasi sesuai dengan apa yang aku inginkan, jadi nggak semuanya,” ujarnya mengakhiri penjelasannya.

Dengan rendah hati, perempuan yang lahir pada 29 Oktober 1997 ini juga menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki terlalu banyak prestasi, hanya ada beberapa saja. Menurut Isna, prestasi itu tidak hanya ajang untuk kita dikenal sebagai apa, atau agar orang mengetahui siapa kita.

Lebih dalam, prestasi menurutnya adalah ajang untuk kita melawan diri sendiri. Semakin kita punya banyak tantangan, semakin kita belajar banyak hal dan menaklukan tantangan itu. Jadi tantangan untuk melawan diri sendiri itu lebih besar dari melawan omongan orang. Hal itu menurutnya memiliki kaitan erat dengan personal branding.

Untuk urusan pekerjaan sendiri, Isna mengaku ingin menjadi dosen dan rencananya ingin meneruskan S2. Meskipun, Isna juga tak memungkiri bahwa ketika menjadi jurnalis dirinya pun bisa enjoy. Kerena baginya menjadi jurnalis itu bisa mengetahui banyak hal. “Turun lapangan secara langsung dan capek, tapi banyak yang didapatkan seperti relasi, ilmu, dan lain-lain,” ungkapnya.

Isna mengungkapkan, salah satu kendala yang dialaminya adalah dirinya harus bisa mengusahakan agar semuanya seimbang. Ada beberapa aspek penting yang tak bisa ditinggalkan, seperti aspek organisasi, sosial, wirausaha, maupun prestasi.

Semua itu harus saling terkait, jangan sampai timpang sebelah. Konsekuensi berkecimpung di dunia sosial dan organisasi membuat Isna juga harus bisa mempertahakan prestasi yang sudah diraihnya walaupun tidak maksimal. Menurutnya, menjadi mahasiswa merupakan kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Ia juga berpesan bahwa mahasiswa itu seharusnya mempunyai life plan yang jelas karena penyesalan itu pasti datangnya di akhir, dan ketika itu terjadi, bisa jadi kita tidak punya kesempatan lagi untuk memperbaiki. Menurut Isna, ada banyak kesempatan selama menjadi mahasiswa, Sedangkan sebaik-baik kesempatan itulah kesempatan yang diambil.

“Jadi untuk yang masih punya kesempatan silahkan  menunda penyesalan, sebelum penyesalan itu menghampiri dan merusak banyak hal kedepannya,” pesannya.

Hidup hanya satu kali, jangan merugi. Prinsip itulah yang selalu dipegang oleh dara kelahiran 1997 ini. Hingga ketika mempunyai kesempatan, ia merasa harus berusaha memaksimalkan kesempatan itu. Tidak hanya menunggu, tetapi juga dengan berusaha keras agar bisa membuka pintu dalam mendapatkan kesempatan itu.

Sebab tidak semua kesempatan itu hadir dengan tiba-tiba, jadi jangan hanya menunggu, tetapi harus mencari dan mencari. Meskipun ia juga merasa, dirinya tidak harus terus mencari karena ia yakin bahwa kelak, akan tiba juga waktunya untuk dicari. “Cuma, ya, intinya itu berusaha. Kembali ke proses, bukan ke hasil,” pungkasnya.

Reporter              : Rifqah

Editor                    : Akhdan Muhammad Alfawwaz