Sumpah di Bawah Al-Quran Sebagai Syarat Mengikuti Ujian Susulan di FH UMS

0
208

UMS, pabelan-online.com – Ujian Tengah Semester (UTS) secara daring yang telah dilakukan di Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) masih mengalami kendala pada koneksi internet di tempat masing-masing. Hal itu membuat FH UMS mengadakan E-UTS susulan bagi mahasiswa dengan syarat sumpah di bawah kitab suci Al-Quran.

Akibat dari pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang belum mereda membuat pelaksanaan UTS dilakukan secara daring sesuai dengan kebijakan dari universitas. Dalam UTS secara daring tersebut, permasalahan yang kerap ditemukan oleh mahasiswa yaitu pada koneksi internet yang tak menentu. Hal itu yang membuat pihak FH UMS mengadakan ujian susulan bagi mahasiswa yang belum sempat mengikuti.

Selama ini (sebelum ujian daring-red) pemberian ujian susulan yang berlaku di FH UMS umumnya mengacu pada kebijakan universitas yang hanya diberikan kepada mahasiswa.

Mahasiswa yang berhak mengikuti ujian susulan berdasarkan kebijakan universitas, ialah jika opname disertai bukti, berbarengan mendapatkan penugasan dari fakultas seperti mengikuti lomba, keluarga dekat meninggal dunia dengan bukti surat kematian, dan apabila bersamaan dengan ibadah haji atau umroh.

Selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) FH UMS, Muchammad Iksan mengatakan, bahwa ujian susulan tersebut hanya berlaku bagi mahasiswa dengan alasan atau keterangan yang jelas dan benar tanpa ada unsur kebohongan.

Ia menambahkan, bahwa untuk mengantisipasi kebohongan tersebut akan dilakukan verifikasi secara teliti oleh panitia ujian dengan mengecek lewat laman Schoology. Selain itu, mahasiswa diminta untuk bersumpah di bawah Al-Quran sebagai bukti mahasiswa benar-benar tidak dapat mengikuti ujian.

“Karena tidak ada bukti, maka harus berani melakukan sumpah di bawah Quran melalui video call dengan Sekretaris Prodi (Sekprodi) FH UMS, bahwa alasan atau keterangan yang diberikan itu benar, tidak bohong, lebih detail, objektif, dan tidak disalahgunakan,” jelasnya kepada tim Pabelan Online, Kamis (18/6/2020).

Baca Juga: HMP Fisioterapi UMS Beri Pemahaman Mengenai PKM Melalui Workshop Online

Teknis pelaksanaan ujian susulan tersebut sama halnya dengan ujian yang telah dilakukan. Ikhsan mengatakan, bahwa ujian susulan ini memang tidak sesederhana ketika mengikuti E-UTS sesuai jadwal, seperti harus mengoordinasikan persyaratan yang telah ditetapkan, serta batas waktu unggah untuk dinilai oleh dosen.

Lewat WhatsApp, ia berpesan jika mahasiswa sebaiknya mengikuti ujian reguler dengan sebaik-baiknya tanpa mengandalkan ujian susulan. Alangkah baiknya, jika mahasiswa selalu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan mengecek koneksi internet yang baik dan tak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah.

Iksan mengungkapkan, bahwa ujian reguler harus dimanfaatkan karena syarat untuk mengikuti ujian susulan tidaklah mudah. Dengan begitu, baik mahasiswa, panitia ujian, maupun dosen, tidak merasa direpotkan karena ujian susulan tersebut memiliki soal yang berbeda dengan ujian reguler.

Kebijakan FH UMS dalam mengadakan ujian susulan ini bertolak belakang sebagaimana yang terlampir pada surat keputusan bersama yang telah diedarkan. Iksan menjelaskan, secara garis besar ketentuan ujian pada umumnya memang mengikuti kebijakan dari pihak universitas dalam segala teknis pelaksanaannya.

“Namun terkadang dalam praktiknya terdapat ihwal yang perlu diberikan solusi terbaik melalui kebijakan di tingkat fakultas dengan kondisi tertentu, yang tentunya tidak boleh bertentangan dengan kebijakan dari universitas,” tambah Iksan.

Menanggapi mengenai pelaksanaan ujian susulan di FH UMS, Muhammad Abdillah Awang, salah satu mahasiswa FH UMS mengungkapkan bahwa dirinya belum mengetahui adanya kebijakan tersebut.

Namun, ia mengatakan bahwa pada saat Program Penyampaian Aspirasi Mahasiswa (E-Propasma) lalu, terdapat dosen yang mengusulkan kebijakan untuk bersumpah di bawah Al-Quran sebagai syarat mengikuti ujian susulan.

Ia berpendapat, bahwa dirinya kurang sepakat mengenai kebijakan tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut bentuk dari kampus yang tidak memiliki inovasi lain sehingga Tuhan pun dibawa-bawa dalam ujian.

Awang juga mengatakan, bahwa mahasiswa FH UMS telah membagikan ke seluruh dosen terkait sistematika ujian. “Harusnya birokrat kampus memperbaiki sistem ujiannya, karena FH terikat dengan UMS keputusan tetap ada di pihak rektorat,” ungkapnya lewat WhatsApp kepada tim Pabelan Online, Kamis (18/6/2020).

Reporter         : Earleane Typhano Rachmadie

Editor             : Novali Panji Nugroho