PLP II FKIP UMS: Home Schooling Lebih Banyak Diminati Dibanding School Visit

0
147

UMS, pabelan-online.com – Mahasiswa yang mengikuti program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dilakukan dengan dua alternatif, yaitu home schooling dan school visit. Alternatif dengan home schooling lebih banyak diminati oleh peserta PLP II pada tahun ini.

Tingginya antusiasme peserta dalam memilih home schooling dikarenakan faktor keadaan saat ini, di mana sedang terjadi wabah Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang menyebabkan belum memungkinkan untuk memulai pembelajaran seperti sediakala.

Di samping itu, alternatif home schooling ini membuat peserta PLP II lebih mudah untuk menjalankan praktik karena mengajar siswa di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan (WD) I FKIP UMS, yakni Sutama juga mengatakan bahwa memang tidak banyak mahasiswa yang di sekitar rumahnya dekat dengan sekolah, sehingga mahasiswa banyak yang memilih untuk home schooling.

Selain itu, school visit dinilai memiliki beberapa kesulitan, seperti karena faktor transportasi untuk sampai ke sekolah dan sulitnya menemui guru untuk membahas program pengajaran.

Namun, kedua alternatif tersebut tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan, sebab keduanya sama-sama harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk menjalankan masa praktiknya.

Praktik home schooling perlu membuat RPP untuk mengajar anak-anak di sekitar lingkungan rumah, karena mahasiswa memerlukan izin dari orang tua atau wali siswa.

Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan bahwa mahasiswa peserta PLP II ini perlu membuat luaran, yang berupa artikel bidang studi. Menurutnya, kedua alternatif ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dalam pembuatan luaran. Untuk home schooling bersifat mandiri, maka akan mengalami sedikit kesulitan karena tidak memiliki contoh dalam pembuatan luaran.

Baca Juga: Pesma UMS Buka Pendaftaran Online, Jumlah Kuota Mahasantri Dikurangi

Sedangkan bagi yang mengambil school visit akan lebih terbantu, sebab guru bidang studi biasanya memiliki banyak contoh yang bisa digunakan dan dikembangkan lagi oleh mahasiswa. Untuk pengajarannya juga ditetapkan aturan yang berbeda antara home schooling dan school visit.

“Untuk home schooling, hanya boleh paling banyak memiliki tiga murid untuk mengantisipasi tidak efektifnya proses belajar mengajar. Sedangkan untuk school visit, satu guru mata pelajaran hanya diizinkan memiliki maksimal tiga mahasiswa yang menjadi asistennya,” jelasnya kepada tim Pabelan Online, Selasa (7/7/2020).

Dihubungi via WhatsApp, Fahriza Hilmi salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sekaligus peserta PLP II FKIP ini menyatakan, bahwa dirinya tidak merasa terkejut jika peserta PLP II lebih banyak memilih home schooling.

Menurutnya, karena adanya pandemi ini menjadikan hampir kebanyakan sekolah di daerah peserta belum tentu sudah memasuki kegiatan belajar mengajar seperti sediakala. Sehingga mahasiswa lebih memilih untuk mengantisipasi hal tersebut dengan memilih home schooling.

Ia mengatakan, meskipun pelaksanaan PLP II ini dibagi menjadi dua alternatif, jangan sampai peserta menyepelekan program tersebut dengan hanya melihat eksistensi luaran dari kegiatan PLP II yang hadir di masa pandemi ini. Namun, sebaiknya esensi dari praktik ini, yakni proses mendidik anak-anak juga harus diresapi.

“PLP II ini tidak sekadar eksistensi atau hanya memperhatikan luaran PLP II dalam bentuk laporan maupun sekadar video dokumenter yang diunggah, tetapi yang utama adalah memerhatikan proses dalam mendidik selayaknya calon pendidik,” pesan Fahriza, Jumat (3/7/2020).

Reporter         : Sarah Dwi Ardiningrum

Editor             : Novali Panji Nugroho