Menakar Eksistensi Ormawa di Mata Warga Kampus

0
119

(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos Edisi 51/September 2003 dan ditulis ulang oleh Annisa Nur Aisyah)

Organisasi mahasiswa (ormawa) diadakan untuk kepentingan mahasiswa. Tidak adanya ormawa di Perguruan Tinggi (PT) bisa berdampak pada hilangnya tempat penyaluran aspirasi mahasiswa. Sejak dulu, jumlah mahasiswa yang mengikuti ormawa jumlahnya kurang dari 10 persen. Penurunan angka partisipasi aktivis mahasiswa menjadi sesuatu yang jamak dijumpai. Keapatisan mahasiswa menjadi penyebab rendahnya angka itu.

Diambil dari Tabloid Pabelan Pos Edisi 51/September 2003 dalam rubrik “Urem”, Drs, M. Yahya, Msi berpendapat bahwa turunnya eksistensi ormawa disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak ormawa untuk menarik minat mahasiswa. Di sisi lain, orientasi kuliah mahasiswa cenderung hanya study minded.

Menurutnya, eksistensi Ormawa merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab rektorat, dosen, maupun ormawa saja. Suatu tindakan represif oleh rektorat akan berpengaruh terhadap mahasiswa. Kalau ini dibiarkan, maka tidak mustahil mahasiswa (ormawa –red) semakin tidak ada kegiatan.

Menurut Drs. Priyono, M. Si. (PR III UMS), berdasarkan pada Surat Keputusan (SK) Kementrian Pendidikan Nasional (Mendiknas), keberadaan organisasi mahasiswa (ormawa) dalam kampus adalah dari, oleh, dan untuk mahasiswa. Berdirinya ormawa sendiri bertujuan untuk pengkayaan mahasiswa.

Pengkayaan tersebut meliputi lima hal, yakni Integritas (keilmuan di luar PBS) memproduk intelektual, meningkatkan kemampuan di bidang kepemimpinan dan manajemen, integritas moral, menyalurkan minat bakat, serta memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa.

Lain halnya dengan apa yang disampaikan Nafisatun, Mahasiswa Akademi Akuntasi dan Perpajakan (AAP). Ia mengatakan, ormawa sudah seringkali disosialisasikan kepada mahasiswa, bahkan sejak pertama kali mahasiswa memasuki dunia kampus melalui inagurasi sampai pamflet-pamflet. Jadwal kuliah yang padat membuat mahasiswa enggan untuk mengikuti ormawa. Padahal, sebenarnya kedudukan ormawa sebagai sarana menyampaikan aspirasi, bakat, dan kemampuan.

Menurut Hadi Wardani selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas ekonomi saat itu, keikutsertaan mahasiswa dalam Ormawa akan berdampak positif bagi mahasiwa, untuk membentuk kepribadian dan pola pikir mahasiswa pragmatis sehingga mampu bersosialisasi dengan masyarakat.  Masalahnya, paradigma yang terbentuk tentang ormawa masih cenderung eksklusif. Maksud eksklusif di sini didasarkan pada tindakan di internal organisasi. Rasa individualis yang sudah melekat membuat mahasiswa merasa tidak bisa meluangkan waktu untuk berorganisasi, di samping faktor ketakutan jebloknya nilai akademik.

Salah satu mahasiswa FKIP UMS, Erni H.A Rawe mengaku tidak mengikuti ormawa. Menurutnya, ormawa bukanlah suatu organisasi yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Di sisi lain, ormawa bukan minat, bakat, pun potensi untuknya. Ormawa sendiri sebenarnya memiliki manfaat untuk mahasiswa karena kehadiran ormawa untuk melindungi mahasiswa itu sendiri. Meskipun terkadang interaksi antara mahasiswa secara umum dan ormawa tidak berjalan mulus, ia pun masih mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan ormawa selama kegiatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan keinginannya.

 

Editor             : Muhammad Akhdan Alfawas