Lunturnya Daya Tawar Mawapres

0
114

(Tulisan ini pernah dimuat di Pabelan Pos edisi 92 Tahun 2011 dan ditulis ulang oleh Mulyani Adi Astutiatmaja)

Prestasi merupakan suatu hal yang selalu diinginkan tiap mahasiswa. Demi memperoleh itu, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan, baik dalam hal akademik maupun non akademik. Perguruan tinggi sebagai tempat para mahasiswa belajar, memiliki peran penting untuk meningkatkan kemampuan mahasiswanya.

Salah satu upaya perguruan  tinggi untuk memacu prestasi keaktifan mahasiswa, sekaligus membangun iklim positif di lingkungan kampus adalah dengan mengadakan Program Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) sebagai bentuk penghargaan kepada para mahasiswa.

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang gemar meraih prestasi, setiap tahunnya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) juga selalu melakukan pemilihan mawapres. Sayangnya, pengetahuan tentang bagaimana menjadi seorang mahasiswa berprestasi masih sangat jarang diketahui oleh mahasiswa di UMS, terlebih bagi mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa baru.

Kendati pemilihan mawapres pertama kali dilakukan UMS pada tahun 2004, tetapi hingga kini pun kenyataannya masih terdapat mahasiswa yang minim pengetahuan akan hal itu. Pemilihan mawapres di UMS sendiri dilakukan dengan melalui beberapa tahapan seleksi, mulai dari tingkatan program studi (prodi), fakultas, hingga universitas.

Peran penting diemban oleh dekanat dalam seleksi pemilihan mawapres dengan mempersiapkan mahasiswanya bersaing dengan fakultas lain. Jadi, pada dasarnya, setiap prodi mengirimkan satu perwakilan mahasiswa terbaik dengan syarat yang ditentukan universitas, kemudian wakil dari tiap prodi tersebut akan diseleksi kembali oleh pihak fakultas dan yang terbaik akan dikirim ke tingkat universitas.

Namun, kondisi di lapangan tidak sesimpel tahapan-tahapan seleksi di atas, salah satu contohnya adalah seleksi atau penyaringan yang dilaksanakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Meskipun menjadi fakultas dengan mahasiswa paling banyak, proses penyaringan di FKIP pada saat itu tidak dilakukan secara resmi dengan wawancara seperti di universitas.

Yakub, selaku Wakil Dekan (WD) III FKIP tahun 2011 menuturkan, sosialisasi pemilihan mawapres harus digencarkan karena masih banyaknya mahasiswa yang hanya memandang mawapres sebagai ajang menunjukkan prestasi. Pemilihan mawapres di FKIP sedang kendor dua sampai tiga tahun selama dia menjabat dan belum ada lagi. “Terpilihnya mawapres di suatu fakultas akan menunjukkan kualitas pengajaran pada fakultas tersebut,” ucap Yakub (2011).

Menengok ke kampus II UMS, Fakultas Psikologi (FP) menjadi fakultas yang mahasiswanya paling sering terpilih sebagai mawapres. WD III Psikologi tahun 2011, Setiyo Purwanto memiliki pendapat sendiri akan arti mahasiswa berprestasi. Menurutnya, mahasiswa berprestasi adalah ia yang berhasil mencapai prestasi akademik tinggi dalam bidang ilmu, teknologi atau seni yang ditekuni, berjiwa pancasila, dan aktif dalam kegiatan intra maupun ekstrakurikuler.

Setiyo pun menyampaikan, FP selalu memberikan apresiasi dalam mendukung, memfasilitasi, dan membimbing mawapres terpilih. Selain itu, kelonggaran waktu akan diberikan demi upaya terbaik mawapres terpilih. Selaras dengan Yakub, ia juga merasa bahwa sosialisasi mengenai mawapres masih minim. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya antusiasme mahasiswa akan adanya mawapres.

Terkait sistem saling tunjuk, Setiyo mengiyakan kemungkinan adanya sistem langsung tunjuk tanpa adanya seleksi. Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mengingat di beberapa fakultas masih kekurangan peminat, lain halnya di fakultas dengan peminat dalam jumlah besar dan proses rekrutmen yang baik. “Kendala memilih mawapres memang banyak terjadi di tingkat fakultas ketimbang pada tingkat universitas,” ucap Setiyo.

Proses sosialisasi tentang mawapres harus kian digencarkan agar informasi tidak berhenti di pihak tertentu saja. Selain itu, bagaimana dan apa keuntungan menjadi mawapres juga masih kurang disosialisasikan kepada mahasiswa. Hal tersebut membuat kurang lancarnya mahasiswa dalam memahami dan menunjukkan minat untuk menjadi mawapres.

Arum Sari, mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID—sekarang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia–atau PBSI), pada tahun 2011 mengeluhkan kurangnya sosialisasi pemilihan mawapres. Ia mengaku tidak pernah mengetahui kapan pemilihan mawapres itu diadakan. Padahal, sosisalisasi mawapres yang baik juga akan berimbas pada mahasiswa baru yang kian antusias meraih prestasi selama menjadi mahasiswa UMS.

Menurut Arum, setiap mahasiswa memiliki kesempatan akan mendapat predikat tersebut. Selain prestasi, rasa percaya diri dari mahasiswa juga menjadi poin penting pada mawapres terpilih. “Mahasiswa yang kompetitif, baik dalam kampus maupun luar akademi, patut mendapat gelar mawapres jika berprestasi lebih dari rata-rata,” tutupnya (2011).

Adanya mawapres di kampus adalah hal yang menarik, tetapi jika mawapres hanya diketahui oleh kalangan aktivis, maka itu berarti mawapres sendiri belum dikenal oleh mahasiswa secara menyeluruh. Sama halnya apabila proses seleksi yang dilakukan kurang maksimal dan merata, maka hasilnya pun kurang maksimal dan perlu dipertanyakan.

Editor : Akhdan Muhammad Alfawwaz