Pro Kapitalisasi, Disorientasi Perguruan Tinggi

0
286

Mahasiswa, merupakan warga vital dalam ruang lingkup perguruan tinggi. Adanya mahasiswa menjadi bagian penting dalam kehidupan di suatu perguruan tinggi manapun. Di sisi lain, mahasiswa juga turut menjadi penyumbang anggaran dana terbesar oleh kampus yang ditarik dalam biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) tiap semesternya. Entah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar atau memenuhi fasilitas kegiatan lain yang terdapat di kampus.

Aktifitas kampus kini terpaksa harus dibatasi, bahkan ditutup karena adanya pandemi Covid-19 atau biasa disebut Corona Virus. Sekitar tujuh bulan lebih pendidikan, mulai dari tingkat Taman Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi dialihkan menjadi pembelajaran secara daring dengan tujuan kemaslahatan bersama.

Semenjak itu pula, beragam keluhan mulai dirasakan oleh para mahasiswa, baik dari efektivitas maupun fasilitas pembelajaran yang kurang memadai. Lantas bagaimana jika mahasiswa tidak merasakan dan menikmati fasilitas kampus yang disediakan sebab semuanya pembelajaran dialihkan secara daring?.

Tuntutan pengurangan biaya telah banyak dilontarkan oleh mahasiswa seantero negeri, termasuk pada kampus tercinta Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). UMS sendiri telah melakukan pemotongan biaya kuliah sebesar Rp. 200.000 dalam satu semester, dengan dalih penggunaan kuota belajar dalam kegiatan daring. Hal tersebut termasuk upaya UMS guna mencapai baku mutu universitas sebagai kelas World University.

Namun, pemotongan biaya SPP dari UMS tak memberikan efek apapun karena biaya SPP mahasiswa tiap semesternya masih terbilang tinggi. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, semenjak berlangsungnya pandemi sendiri sudah sangat memberikan dampak pada semua orang, termasuk para orang tua.

Sebagian orang tua mahasiswa kehilangan pekerjaan, terutama yang bekerja di sektor industri dan manufaktur, diantara mereka juga ada yang dirumahkan hingga PHK. Singkatnya, banyak yang mengalami kesulitan secara ekonomi lantaran minimnya pendapatan hingga tidak ada kepastian sumber pendapatan mereka.

Rasa-rasanya sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang menjunjung tradisi filantropi itu tidak ditunjukkan. Tersistem seperti kapitalis yang mapan dan enggan untuk merugi sedikitpun di tengah krisis pandemi ini. Ada uang, ada pendidikan. Tak ada uang, silahkan bertahan dalam kebodohan dan kemiskinan. Ironis memang.

Nurani dan akal budi yang sehat di tengah pandemi seharusnya meringankan beban orang tua dari mahasiswa. Terlebih semester ganjil ini, Pemerintah Pusat bagian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan bantuan kuota internet sebesar 50GB untuk dosen dan mahasiswa guna mendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sudah barang tentu, pemotongan biaya semesteran ditambah untuk meringankan dalam krisis ekonomi di tengah pandemi ini.

UMS seharusnya fokus mencetak intelektual untuk kemaslahatan umat dan membangun peradaban yang gemilang. Namun kini justru mengalami disorientasi tujuan menjadi pragmatisme-pro pasar, dikarenakan kebutuhan menambah pundi-pundi rupiah. Inilah kedzoliman nyata sistem kapitalisme.

Layaknya sebagai AUM sebenarnya tidaklah menegasikan tradisi Filantropi. Dalam buku “Kosmopolitan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah)” disebutkan, bahwa adanya teologi dan praksis al-Ma’un. Kasih sayang direpresentasikan sebagai landasan penting bagi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan filantropi, yakni setiap jenis pekerjaan sukarela tanpa memikirkan balasan dari kekuatan yang lebih tinggi. Dalam tradisi teologi Islam, amal dan kesukarelawanan dalam kerja kemanusiaan, pengalaman pribadi hidup dalam kesulitan dan penderitaan memiliki tempat sentral.

Harapan penulis dengan mengingat juga tiga kata disetiap lorong tangga gedung UMS dimanapun, terpampang tulisan Humanisasi, Liberalisasi, dan Transendensi. Semoga tiga kata itu bukanlah sebatas pajangan slogan untuk mengisi kekosongan di dinding. Akan tetapi, merengkuh dan menembus masuk dalam kebijakan-kebijakan yang memiliki ruh tradisi Muhammadiyah.

Penulis            : Izzul Khaq

Mahasiswa Aktif Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Editor              : Alvanza Adikara Jagaddhita