Bahas Quarter Life Crisis Hingga Cara Penanganannya

0
149

UMS, pabelan-online.com Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi (FP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan seminar nasional melalui Zoom Meeting dengan mengusung tema “Quarter Life Crisis”. Seminar tersebut membahas mengenai masa transisi remaja menuju dewasa dan berbagai masalah yang dihadapinya.

Seminar yang diadakan secara online oleh BEM Fakultas Psikologi ini menghadirkan dua pembicara, yakni Rizqi Zulfa Qatrunnada sebagai Dosen Psikologi UMS dan Jelang Hardika sebagai Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).

Quarter life crisis merupakan suatu fase di mana seorang individu mencemaskan masa depannya dan takut pada masa lalu mereka yang akan berpengaruh terhadap masa depannya. Pada dasarnya, quarter life crisis merupakan periode umum yang dialami oleh semua individu yang sedang dalam proses perkembangan.

Quarter life crisis juga dapat dikaitkan dengan krisis emosional pada masa transisi dari remaja menuju dewasa yang diakibatkan oleh ketidakpastian masa depan. Rizqi Zulfa Qatrunnada, selaku pembicara pertama dalam acara tersebut menjelaskan bahwa setiap masa dalam hidup ada yang namanya masa transisi. Dalam masa transisi ini tidak menutup kemungkinan akan muncul krisis-krisis dalam diri seseorang.

Fase quarter life crisis umum terjadi pada kisaran usia 20-30 tahun dan yang paling banyak terjadi di usia 27 tahun. Zulfa menjelaskan, bahwa quarter life crisis ditandai dengan beberapa hal, seperti kecemasan akan masa depan, keraguan terhadap kemampuan diri, kebingungan menentukan arah hidup dan juga ketakutan akan kegagalan dalam diri.

Quarter life crisis biasa dihadapi individu saat mereka harus membuat pilihan, seperti pilihan mengenai karir, pendidikan, dan menjalin hubungan dengan seseorang.

“Periode ini memunculkan perasaan tidak tenang, stres, dan tertekan sehingga akan muncul keraguan dan kepanikan dalam diri seseorang dan individu yang mengalami quarter life crisis cenderung merasa sendiri,” ujarnya, Minggu (29/11/2020).

Baca JugaHMP Kesmas UMS Gelar Seminar Online Bahas Stunting di Indonesia

Zulfa mengungkapkan, bahwa pemicu terjadinya quarter life crisis yaitu adanya tujuan hidup yang belum jelas, adanya keinginan individu untuk bisa mandiri, faktor media sosial, perubahan zaman, dan lingkungan sekitar. Di sisi lain, quarter life crisis dapat dimaknai sebagai perspektif yang positif yaitu ketika perasaan hilang arah dan tak punya pegangan bahkan tujuan hidup.

“Ketika kehilangan arah maka dari situlah yang menjadi titik awal seseorang untuk melakukan pencarian jati diri. Melakukan pencarian jati diri dapat dimulai dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu,” tambahnya, Minggu (29/11/2020).

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa kunci perjalanan untuk mengenali diri ada dua yaitu jujur dan menerima. Mengenali diri sendiri sangatlah penting, dengan demikian, maka akan lebih mudah untuk dapat menerima diri sendiri. Menurutnya, ketika seseorang tidak dapat mengenali dirinya dengan baik, maka akan lebih rentan saat ada masalah, seperti emosi jadi tidak stabil dan terjebak oleh ambisi.

Hardika, selaku pembicara kedua, memaparkan bahwa quarter life crisis terjadi ketika ada suatu perasaan yang muncul saat individu mencapai usia 20 tahun atau lebih. Seseorang yang mengalami quarter life crisis akan merasakan ketidakstabilan yang luar biasa, adanya perubahan besar yang terjadi terus menerus dan munculnya perasaan panik hingga tidak berdaya karena ketidakpastian dari masa depan.

Terdapat beberapa cara agar bisa menghadapi quarter life crisis dengan baik, seperti menemukan terlebih dahulu permasalahan quarter life crisis. Setelah itu, mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dengan berbagai cara dengan terus bergerak dan jangan takut salah. Terakhir, dapat menulis alternatif-alternatif yang menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi, dan eksekusi satu per satu sampai permasalahan tuntas.

“Jika kamu merasa belum bisa berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan, sehingga masih membawanya sampai sekarang, maka solusi yang terbaik adalah memaafkan dan bersyukur. Jika kamu merasa ragu atau khawatir pada masa depan maka kamu harus meningkatkan optimisme dan harapan,” ujarnya, Minggu (29/11/2020).

Salah satu peserta seminar online, Salsabila Zakiah Zulfa mengungkapkan bahwa acara tersebut cukup menarik dan dapat menambah ilmu pengetahuan. Menurutnya, dengan adanya seminar tersebut dapat memberikan gambaran mengenai quarter life crisis, mulai dari pengertian, faktor yang menjadi pemicu, dan cara menghadapinya.

“Semoga ke depannya dapat mengadakan seminar dengan tema-tema yang lebih menarik lagi dan relate dengan kehidupan sehari-hari,” harapnya, Minggu (29/11/2020).

Reporter         : Jannah Aruum Sari

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja