LPM Al-Mizan: Diskusi Virtual Peran Media Tehadap Omnibus Law Hingga Dampaknya

0
184

UMS, pabelan-online.com – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Mizan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan pada Sabtu, 5 Desember 2020 yang lalu telah menggelar diskusi Nasional secara daring. Diskusi kali ini mengangkat “Peran Media terhadap Omnibus Law dan Impresi Budaya” sebagai tema pembahasan.

Diskusi yang digelar melalui platform Zoom ini diikuti sekitar 430 peserta dari berbagai wilayah. Diskusi ini turut menghadirkan beberapa narasumber, seperti Yovantra Arief selaku Direktur Eksekutif Remotivi, Agung Sedayu sebagai Jurnalis di Tempo.co, dan Andremirza Willandra selaku Program Manager Lokataru.

Selaku Direktur Eksekutif Remotivi, Yovantra berbicara mengenai dampak adanya omnibus law terhadap media. Menurutnya, dengan adanya omnibus law maka posisi jurnalis sebagai buruh akan semakin rentan dan konsentrasi media semakin kuat secara geografis. Maksudnya adalah media semakin Jakartasentris dan ekonomi-politik akan menguatkan oligarki itu sendiri.

“Dengan adanya omnibus law ini, kita (media –red) harus mengakui bahwa kita kalah, namun kita bisa belajar dari kekalahan tersebut,” ujarnya, Sabtu (5/12/2020).

Baca Juga: ECRC UMS Raih Juara 2 Urban Concept pada Kontes Mobil Hemat Energi 2020

Agung Sedayu selaku pembicara kedua mengatakan, bahwa banyaknya permasalahan yang ditimbulkan dari omnibus law yang layak diberitakan kepada masyarakat secara utuh agar nantinya tidak menimbulkan masalah yang besar. Ia mengungkapkan, bahwa masalah utamanya ada pada jumlah media daring di Indonesia sekitar 47.000 pada tahun 2019 dan hanya 2000-3000 media yang sudah terverifikasi.

Agung beranggapan kalau media yang belum terverifikasi tersebut hanya memenuhi kebutuhan administrasi saja. Padahal menurutnya, media harus memiliki profesionalisme dalam kelengkapan informasi dan persoalan independensi. Hal yang sangat prinsipil tersebut justru malah sering dilewati.

Salah satu peserta, Fredy Setiawan menanggapi adanya diskusi ini. Menurut Fredy, tema yang diangkat sangat menarik. Ia berpesan, sebagai masyarakat harus pintar memilah berita yang netral dan tidak mengandung hoaks, sehingga tidak mudah terprovokasi.

“Diskusi seperti ini kalau bisa terus dibuat, karena dapat mengedukasi masyarakat luas dengan tema yang dibahas,” jelasnya, Sabtu (5/12/2020).

Reporter         : Esa Nanda Salsabila

Editor             : Novali Panji Nugroho