Menyoal Pelecehan Seksual Verbal Oleh Dosen di Kampus UMS

0
1513

UMS, pabelan-onilne.com – Beberapa waktu lalu, tepatnya 26 November Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dikejutkan dengan beredarnya percakapan antara dosen dan mahasiswa ihwal perlakuan dosen yang kurang etis terhadap mahasiswanya. Beberapa pihak menganggap hal tersebut sebagai tindakan pelecehan dan ada juga yang menilai hal tersebut sebagai gurauan semata.

Berawal dari unggahan akun @dpn.ums terdapat beberapa tangkapan layar pesan WhatsApp antara dosen berinisal AS dan mahasiswa yang diampunya. Isi percakapan pesan tersebut menimbulkan keributan di sosial media, khususnya sosial media mahasiswa UMS.

Salah satu mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), yang tidak ingin disebut namanya bersedia memberikan tanggapannya kepada tim pabelan-online.com. Mahasiswa FKIP ini mengatakan, bahwa dari informasi yang ia baca dan dapatkan, kejadian seperti itu termasuk kejahatan yang disebut Kejahatan Berbasis Gender Online (KBGO).

Walaupun dilakukan secara verbal, tetapi hal tersebut terasa tidak etis karena dilakukan oleh seorang pendidik, yang mana seharusnya memberikan contoh yang baik dan memberikan perlindungan.

“Alhamdulillah, korbannya mau bicara dan lapor meskipun ada rasa takut, jadi bisa memunculkan keberanian korban lain untuk ikut bicara juga,” ungkapnya kepada tim pabelan-online.com, Selasa (8/12/2020).

Mahasiswa yang merahasiakan namanya ini menambahkan, jika ia mengapresiasi pihak kampus karena sudah berani memberikan sanksi untuk dosen tersebut, meskipun hanya diskors.

Padahal menurutnya, jika dosen tersebut dikeluarkan akan menambah citra positif kampus karena berani membela hak-hak mahasiswanya. Namun, di satu sisi ia yakin, pasti kampus mempunyai alasan tersendiri mengapa tidak mengeluarkan dosen tersebut.

Ketua Komisi Advokasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FKIP, Khoirudin Nur Wahid juga turut memberikan tanggapannya. Menurut Wahid, hal-hal seperti kasus tersebut sangat disayangkan, apalagi terduga adalah dosen dari FKIP yang seharusnya memiliki tata krama.

Apa yang dosen tersebut lakukan sudah melanggar kode etik tenaga kependidikan yang mana pelaku merupakan seorang dosen. Sepemahaman Wahid, dirinya hanya mengetahui jika dosen tersebut diskors selama beberapa bulan.

Sanksi tersebut dinilai kurang serius dan tegas, pihak kampus dinilai kurang baik dalam menangani kasus semacam ini, seperti tidak ada keseriusan dari birokrat dalam menjaga kualitas kampus.

Baca JugaPMB UMS 2020: Pendaftaran Melalui E-Seleksi

Wahid juga menilai jika dari pihak dekanat dan program studi (prodi) tidak ada transparansi dalam penyelesaian kasus itu. Bahkan ia sudah berusaha mengatasi kasus tersebut, tetapi dari pihak dekanat maupun prodi berdalih menutupi dan ingin menyelesaikan kasus tersebut secara tertutup.

“Kami hanya ingin transparansi, karena transparansi adalah hal yang bagus. Apabila diselesaikan dengan cara menutup-nutupi malah terkesan tidak etis,” ungkapnya kecewa, Selasa (8/12/2020).

Berbeda dengan narasumber mahasiswa FKIP dan Wahid yang lebih kontra pada kasus tersebut. Salah satu mahasiswa FKIP yang tidak ingin dicantumkan identitasnya, mengatakan bahwa ia sangat menyayangkan hal tersebut karena dipublikasikan.

Akibatnya diketahui banyak orang dan sama saja si korban mengumbar aib dosennya sendiri ke khalayak ramai. Menurutnya, jika mahasiswi merasa menjadi korban, seharusnya dibicarakan baik-baik terlebih dahulu dengan pihak terlibat agar terdapat jalan keluar.

Mahasiswa yang tidak ingin disebut identitasnya tersebut mengaku sudah mengenal dosen AS sejak lama dan memang ia akui karakternya seperti itu. Hal yang sudah terjadi pun, menurutnya merupakan sebuah candaan saja dan sudah menjadi hal yang biasa, baik di dalam kelas maupun WhatsApp.

“Mau bilang jahat, ya nggak jahat. Dosennya itu baik banget, humble,care (sederhana , peduli-red) dan bercandaannya itu buat kita seneng. Tapi, di sisi lain juga bisa tegas, apalagi waktu mengajar,” ungkapnya, Rabu (2/10/2020).

Sebagai mahasiswa yang sudah mengenal akrab dosen tersebut, menurutnya, korban dalam hal ini mahasiswa baru, belum mengenal banyak tentang karakter dosen AS, terlebih lagi dalam keadaan pandemi seperti ini. Namun, di lain hal ia mengakui jika dalam kasus ini ia tidak memihak pada siapapun.

“Dosen juga salah karena terlalu berlebihan dalam bergurau dan mahasiswa salah dalam menempatkan diri ketika berbicara,” tambahnya.

Sementara itu, dari pihak Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) selaku dosen AS mengajar dan Dekan FKIP memilih untuk menolak ketika dimintai wawancara oleh tim pabelan-online.com.

Reporter         : Novali Panji Nugroho dan Rifqah

Editor             : M. Sukma Aji