Mengukur Citra Mahasiswa Lewat Pers Mahasiswa

0
114

(Tulisan ini pernah dimuat di Warkat Warta (cikal bakal Majalah Pabelan) Nomor 1 tahun X/1986, ditulis oleh Sutarmo dan ditulis ulang oleh Novali Panji Nugroho)

Kehadiran perguruan tinggi di negara berkembang seperti di Indonesia merupakan hal yang sangat strategis, terutama dalam keikutsertaannya memacu kelancaran pembangunan. Pers mahasiswa (persma)—dulu bernama Pers Kampus Mahasiswa (PKM)—sebagai sub sistem dari kehidupan kampus setidaknya akan bisa memberikan andil bagi kehidupan perguruan tinggi itu sendiri. Hal tersebut semata-mata bertujuan untuk menciptakan masyarakat ilmiah yang dicita-citakan.

Lewat persma, mahasiswa akan dapat belajar, berkomunikasi secara runtut, memiliki nalar dan mampu berargumen yang mana hal-hal semacam itu sangat diperlukan oleh suatu lembaga ilmiah. Persma tak hanya membentuk korelasi positif dengan kualitas mahasiswa. Lebih dari itu, substansi dari keberadaan persma di suatu universitas dapat dijadikan sebagai salah satu indikator tentang kualitas mahasiswa.

Persma dengan Gaya Alternatif sebagai Potret Kemajuan

Apabila menengok jauh ke belakang, dalam sejarahnya pada pra-1987, tercatat bahwa pers kampus pernah mengalami masa kejayaan. Hal itu dibuktikan dengan berhasilnya persma dalam mencuri perhatian masyarakat luas lewat kewibawaaanya yang khas, misalnya pada harian KAMI yang mampu terbit secara profesional sehingga masyarakat luas ikut bangga.

Jagoan-jagoan pers kampus lain yang juga dahulu dianggap mampu memainkan peran nyata yang bisa dikatakan mirip dengan pers umum, sebut saja Salemba kepunyaan Universitas Indonesia (UI), Gelora Mahasiswa milik Universitas Gadjah Mada (UGM), ataupun MUHIBAH dari Universitas Islam Indonesia (UII).

Sukarno memaparkan, peran yang kala itu dimainkan oleh pers kampus adalah penerangan, pendidikan umum, hiburan, dan fungsi kontrol sosial. Perbedaan yang terdapat di antara pers kampus dan pers umum terletak pada perbedaan spesifik dalam hal menjalankan fungsi kontrol sosial.

Sarjana asal Prancis, Franqois Raillon pernah melakukan penelitian soal kehidupan persma dalam hubungannya dengan peran persma ketika menjalankan fungsi kontrol sosial. Menurut pembuktiannya, persma tidak sekadar mengungkapkan dan menyajikan teori-teori saja, tetapi juga menyatakan opini publik tentang kesukaran-kesukaran yang ada dan terjadi dalam masyarakat lewat berbagai kasus nyata.

Dewasa ini, jika kita memiliki keyakinan bahwa persma adalah bagian dari kebutuhan kampus yang tidak terpisahkan, terutama dalam kedudukannya sebagai forum penyalur kreativitas mahasiswa untuk menuju masyarakat ilmiah, maka diharuskan untuk semua pihak agar bekerja sama dan bertanggung jawab.

Mahasiswa dapat berperan dengan memenuhi tanggung jawabnya, sedangkan bagi para pendidik serta jajaran birokrat diwajibkan untuk memberikan dukungan dan sarana, termasuk memberikan iklim yang kondusif untuk persma itu sendiri. Dengan catatan, pemanfaatan persma tersebut semestinya tidak melewati batas.

Lewat tulisannya, Sutarmo mengatakan bahwa mahasiswa, dalam menjalankan fungsi kontrol sosial melalui persma, dapat memenuhinya lewat pendalaman ilmu yang kemudian melihat hal itu dalam dunia empiris. Apabila disajikan dengan porsi yang “pas”, pada akhirnya akan memiliki manfaat bagi masyarakat yang juga akan menuju ke masyarakat ilmiah sebagaimana diamanatkan oleh perjuangan bangsa.

Tampaknya, dalam hal penyajian yang “pas” tadi, seiring dengan perkembangan zaman, sudah saatnya bagi persma sekarang ini untuk memiliki gaya penyajian alternatif, sehingga isi dari persma yang objektif bisa sesuai dengan identitas kampus. Ruang redaksi perlu dibuat sedemikian rupa sehingga pesan yang gawat sekalipun akan selamat dan sampai ke tujuannya.

Umar Kayam (1985) pernah berkata, sebuah pesan bila perlu disampaikan secara banyolan atau seperti penyampaian hasil-hasil karya sastra yang harus melewati interpretasi dunia alternatif, dunia rekaan, pun bisa ditempuh dengan jalan lain lagi, seperti gaya punakawan dalam dunia pewayangan. Artinya, pesan disampaikan dalam bentuk yang halus, sehingga tidak dapat dikaitkan dengan kekacauan sosial.

Indikator yang dipakai di sini dalam usaha untuk membentuk Persma yang ideal dan berkemajuan adalah lebih mementingkan bagaimana sebuah pesan tersebut disampaikan. Hal itu dimaksudkan agar pesan yang disampaikan nantinya tidak harus agresif, namun bisa juga dilakukan dengan sangat sopan.

Kenyataannya, dua hal tadi sudah menjadi tantangan kita (sebagai persma–red) yang ada di depan mata. Dalam memahami pendapat lain, dibutuhkan latihan serta kelincahan. Tidak perlu saling mencurigai terhadap pihak lain, hal semacam itu harus diasingkan oleh persma. Sebab mestinya, kita harus menyadari fungsi dan hakikat kampus, yakni dalam upaya mengangkat derajat manusia melalui indikator pembangunan. Dengan begitu, fungsi kontrol pers bukanlah dilema yang tidak bisa terpecahkan.

Editor             : Akhdan Muhammad Alfawwas