Menengok Posisi dan Peran Politik Mahasiswa

0
154

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pabelan Edisi 1 tahun XIX/1996 dan ditulis ulang oleh Izzul Haq)

Newfield menyebutkan kelompok elit mahasiswa sebagai a prophetic minorty, yaitu kelompok minoritas dalam masyarakat bangsa yang masih muda, tetapi mereka memainkan peran profetik. Peran mereka bagaikan Nabi dan bukan kyai atau pendeta yang terjebak rutinitas. Mereka adalah “Nabi” secara kolektif yang mencela kebobrokan dan membela kebenaran (Dawam Rahardjo, 1993).

Menyadari akan peran besar pemuda masa lalu dan potensi besar mahasiswa untuk memiliki masa depan, maka pengembangan kelompok komunitas intelektual muda ini tetap merupakan salah satu program dari sistem politik yang pernah tumbuh di Indonesia (Sanit, 1989). Realitas sejarah seperti aktivitas dan peran revolusi 1945, bahkan pada masa transisi dari orde lama ke orde baru tahun 1966, tidak memungkinkan pemerintah mengabaikan mereka.

Terlebih potensi mereka pada masa depan, baik dinamika, penguasaan sains dan teknologi, maupun watak yang lebih terbuka akan perubahan itu, karena hakikatnya pembangunan termasuk pembangunan politik adalah perubahan (ke arah yang lebih baik).

Sorotan tajam memang sering ditujukan kepada mahasiswa. Namun tetap diakui, bahwa mahasiswa selalu tampil di pentas politik dan mengambil peran penting dalam berbagai peristiwa besar di negeri ini sejak kebangkitan nasional sampai tumbangnya orde lama dan munculnya orde baru. Mereka memiliki moral stregth dan “kewibawaan intelektual”. Peran ini bahkan “nyaris legendaris”, sehinggga ketika karena sesuatu sebab peran itu tak dapat “diwarisinya”, mahasiswa merasa memiliki beban moral atas harapan dan tuntutan masyarakat.

Di sisi lain, harus disadari bahwa Indonesia sedang berubah dan perubahan hari ini ada arahnya, yang secara singkat dikatakan sebagai menuju suatu kehidupan yang lebih baik. Gerakan perubahan ini perlu sekali mendapat perhatian. Sebab kalau tidak, maka kita hanya akan melihat kilasan-kilasan gambar Indonesia yang sepotong-potong saja. Para ahli pikir pun akan salah atau kurang tepat dalam berpendapat jika hanya memusatkan pada apa yang sedang terjadi sekarang ini di negara kita. Sekali lagi, Indonesia kini bukanlah Indonesia sepuluh tahun lalu atau ratusan tahun kemudian. Para cendikiawan tentu dapat mengatakan kepada bangsanya akan gerak perubahan ini.

Pergeseran Peran Politik Mahasiswa

Situasi politik sejak tahun 1978 mengingatkan para pengamat sejarah politik Indonesia kepada situasi pada masa kolonial sesudah tahun 1934, setelah pemimpin pergerakan Soekarno, Hatta, dan Syahrir ditangkap. Sikap pemerintah kolonial memang sangat represif, tetapi hal ini diikuti dengan politik kesejahteraan atau walfare polities (Rahardjo, 1989). Gerakan-gerakan politik radikal memang padam, tetapi gerakan ini kemudian berganti coraknya.

Gerakan mahasiswa sekarang tampaknya mempunyai bentuk, jenis, pola kegiatan yang tidak sama dengan aktivitas mahasiswa pada era pendahulunya. Rasanya tidak tepat jika perbedaan itu menyangkut soal kualitas, bahwa mahasiswa dulu memiliki aktivitas yang lebih daripada mahasiswa sekarang sehingga perannya dianggap legendaris dan angkatan yang mempeloporinya dimitoskan. Masalahnya sederhana saja, yakni sejarah biasanya mencatat bahwa “zaman akan melahirkan anak-anaknya”.

Anak dari zaman yang satu berbeda dengan anak zaman yang lain. Setiap zaman memiliki permasalahan dan tantangannya sendiri, sehingga anak yang dilahirkannya pun mempunyai ciri dan karakter tersendiri pula. Begitulah, zaman telah menciptakan permasalahan-permasalahan untuk direspon oleh “anak-anak” yang dilahirkannya dengan berbagai gerakan dan aktivitas yang lain.

Sementara ada desakan dari dalam diri sendiri untuk memenuhi kewajiban mengaktualisasikan misi dan peran yang mesti diemban atas harapan dan tuntutan masyarakatnya, disisi lain agaknya harapan dan tuntutan masyarakat itu tak dapat dipenuhi oleh beberapa sebab, antara lain: (1) Harapan dan tuntutan masyarakat atas misi dan peran yang harus dijalankan mahasiswa itu kemungkinan tidak sesuai dengan situasi sekarang, (2) Mahasiswa belum menemukan visi dan program untuk mengaktualisasikan dan memanfaatkan moral force yang dimilikinya, dan (3) Mahasiswa tidak memiliki “peluang” untuk mendayagunakan kekuatan moral yang dimilikinya dalam mendukung program-program yang berakar dari Tri Dharma PT.

Akibatnya, para mahasiswa mengadakan aktivitas yang dipandang keluar dari misi yang mesti diembannya, seperti pentas musik rock, musik jazz, rap, lomba dance, dan budaya pop lainnya. Hal ini membuka peluang bagi datangnya kritik terhadap mahasiswa.

 Peran Politik Mahasiswa pada Masa Depan

Dalam menjalankan fungsi mengatur masyarakatnya, setiap pemerintahan dihadapkan pada banyak pilihan kebijakan yang untuk mudahnya dapat dikelompokkan dalam dua kelompok pilihan dasar, yakni (1) prioritas produktivitas, dan (2) prioritas demokrasi (Mas’ud, 1989). Tiap pilihan ini memiliki implikasi berbeda. Pilihan pertama akan mendorong pemerintah untuk menemukan penyelesaian masalah tentang “bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi”, sedangkan pilihan kedua membuat pemerintah menekankan tentang “bagaimana menciptakan hubungan pemerintah dengan masyarakat yang demokratis”.

Pemerintah sejak orde baru lebih banyak menekankan prioritas produktivitas. Inilah yang diharapkan pemerintah tentang peran mahasiswa sejak akhir dekade 1970-an. Dalam kerangka logika pembangunan yang dipahami pemerintah, mereka bukanlah tokoh sentral yang secara langsung menyumbang peningkatan produktivitas.

Dengan cara pandang demikian, mudah dipahami berkembangnya perasaan terutama di kalangan mahasiswa tentang adanya kemacetan komunikasi atau bahkan “jurang pembeda” antar generasi. Diakui atau tidak, perbedaan persepsi antar generasi selalu ada dalam setiap masyarakat dan babak sejarah.

Terlebih pada abad ke-20 adalah karena pada babak sejarah terjadi perubahan sosial yang luar biasa meluas dan tempo tinggi akibat antara lain modernisasi teknologi komunikasi dan transportasi yang pesat. Dalam konteks ini, perbedaan antar generasi itu dapat disederhanakan menjadi perbedaan dalam menentukan prioritas. Mahasiswa lebih menekankan prioritas demokrasi. Karena strategi menekan keadilan, partisipasi politik, kesejahteraan semuanya. Dan mekanisme demokrasi dianggap lebih memungkinkan tercapainya keadilan daripada mekanisme non demokratis.

Mengacu pada teori kebijakan pembinaan kaum muda mahasiswa di atas, prioritas produktivitas dan prioritas demokratis, maka dapat dikatakan bahwa peran mahasiswa mengandung dua dimensi, yakni dimensi politis dan teknokratis. Dimensi teknokratis memandang mahasiswa sebagai sumber insani bagi pembangunan nasional. Sedangkan dimensi politis memandang sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa.

Perhatian mahasiswa tampak tertuju pada soal-soal seperti: (a) Sistem politik yang dinilai otoriter dan patrimonial yang menghasilkan dan ditandai oleh sikap-sikap represif, (b) Gejala marginalisasi rakyat kecil dan kelompok-kelompok marginal lainnya, (c) Ancaman SDA dan lingkungan hidup akibat dari ekspansi ekonomi, dan (d) Tumbuhnya nilai-nilai neo-feodalisme dikalangan elite. Di samping itu, mereka juga prihatin terhadap kehidupan kampus dan khawatir terhadap masa depan yang masih kabur belum jelas.

Pungkasnya, peran politik mahasiswa sekarang agaknya belum banyak beranjak dari dekade 1998-an yang lalu, mengingat belum banyak perubahan berarti dalam dinamika politik di Indonesia akhir-akhir ini. Namun, tidak menutup kemungkinan paradigma baru politik mahasiswa justru akan muncul ke permukaan jika timbul kondisi yang spontan, dengan permasalahan dan tantangan yang berbeda tentunya, seperti halnya yang dialami generasi terdahulu.

Editor: Akhdan Muhammad Alfawwas