
UMS, pabelan-online.com – Diskusi online politik (Diskotik) yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Internasional Kiai Haji (KH) Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini membahas seputar Politik Orwellian. Diskusi tersebut mempunyai tujuan untuk mencari tindakan yang sesuai bagi gerakan mahasiswa dalam melawan Orwellian.
Diskusi daring yang berlangsung pada Kamis, 30 April 2020 via grup Whatsapp tersebut menghadirkan dua pembicara, yakni Ririn Rahayuning Resti selaku Wakil Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) dan Nabila Rahmawati selaku kader Pimpinan Komisariat (PK) IMM Pondok Internasional KH Mas Mansur.
Berawal dari beredarnya rumor tentang kebijakan yang hendak diimplementasikan pada pemerintahan Presiden Jokowi, yakni mewacanakan patroli polisi dengan memanfaatkan media Whatsapp. Wacana tersebut kemudian didukung oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo). Hal tersebut disampaikan oleh Ririn pada group diskusi online.
Kebijakan yang berdalih dibuat untuk menangkal penyebaran hoaks di tengah pandemi yang semakin marak terjadi di media sosial ini dinilai merampas hak privasi rakyat. Inilah yang membuat masyarakat menyangkutpautkan kebijakan tersebut dengan novel karya George Orwell, yang mengisahkan tentang suatu pemerintah dikenal terlalu mengekang rakyatnya sampai merebut hak privasi rakyat.
Ririn mengatakan, bahwa dalam titik kondisi masyarakat yang harus bersuara, maka di sinilah momentum mahasiswa yang dinilai memiliki peran kontrol untuk ikut bersuara. “Baik dengan cara aksi maupun menandatangani petisi yang kemudian akan disalurkan ke pemerintah,” tuturnya dalam group diskusi online, Kamis (30/4/2020).
Baca Juga: DPM FT UMS Keluarkan Press Release Tindak Lanjut Perkuliahan Daring
Nabila, pemateri kedua menjelaskan mengenai sudut pandang suatu konstitusi dalam memandang atau merespons kebijakan pemerintah yang otoriter serta perspektif dalam hukum terkait pemimipin yang otoriter. “Jika kepemimpinan yang otoriter diterapkan di Indonesia, hal itu jelas bertentangan dengan demokrasi di negara hukum,” jelasnya, Kamis (30/4/2020).
Dihubungi via Whatsapp oleh tim Pabelan Online, Muhammad Taufiq Ulinuha, salah satu peserta diskusi daring yang bertajuk “Gerakan Mahasiswa : Melawan Orwellian di Tengah Ramadan” tersebut menyampaikan bahwa dari segi konsep, diskusi tersebut cukup baik. Ia juga mengatakan, bahwa melalui diskusi tersebut ia bisa mendapat pengetahuan baru tentang Orwellian.
“Pemantik juga sudah memaparkan sesuai perspektif masing-masing, tetapi manajemen waktunya belum baik dan pemantik yang slow response mengakibatkan keterbatasan dalam diskusi tersebut,” ungkapnya, Jumat (1/4/2020).
Reporter : Wahyu Agustina
Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja






