LPM Pabelan

Emelie segera menarik lengan Mathias yang masih ayem di tempatnya sedari tadi. Mathias hanya dapat tersenyum lega melihat kembalinya sinar dalam dirinya, dengan sudut bibirnya yang melengkung sempurna, dan iris hazel cantik dalam kelopak matanya. Hingga akhirnya, ia pun berdiri untuk segera beranjak menuju Town Square.

Dan dari sisi sanalah, Emelie mulai memiliki gejolak itu. Sebuah perasaan yang ia juga tak mengerti. Meski terkadang Mathias bertingkah sedikit menjengkelkan, namun ia tahu kapan harus menempatkan sisi kedewasaannya. Dan tak dapat dipungkirinya, jika perasaan itu semakin menguat seiring dengan bergulirnya sang waktu, sejak pertemuan pertama mereka di Brandenburg saat pameran lukisan Art Festival dalam East Side Gallery.

Semua bermula karena kecerobohan Emelie yang tidak terbiasa dengan platform di kakinya. Syukurnya ada Mathias disana, yang tak sengaja menarik lengannya agar tak terjatuh. Konsen Vincent, kakak Emelie, seketika turut terpecah saat mencoba untuk berkomunikasi dengan beberapa wisatawan asing yang turut datang dalam acara pameran itu. Ia segera berlari menghampiri keduanya.

“Emelie! Kamu baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Emelie mencoba untuk segera menyeimbangkan posisinya kembali, setelah cukup lama ia terpaku dalam perasaan terkejutnya.

Signorina, anda baik-baik saja?”―nona

Mathias yang saat itu tak mengenal Emelie, turut menunjukkan kekhawatirannya akibat kemungkinan kakinya yang terkilir.

“Saya tidak…”

“Mathias?”

Vincent yang sedari tadi sibuk memperhatikan Mathias, segera memotong kalimat Emelie, dengan ekspresi layaknya mereka yang pernah saling mengenal satu-sama lain sebelumya. Bagaimana tidak? Dunia ini terasa cukup sempit untuk mereka. Ternyata benar, jika pemuda yang di panggil kakaknya itu dengan nama Mathias, adalah kawan lama Vincent, yang baru saja menyelesaikan study-nya di Karlova Univerzita, Negeri dongeng penuh pesona, Prague, Czech Republic. Dan kini ia kembali berpulang pada kota kelahirannya, Jerman, karena kerinduannya pada tanah air, serta memilih untuk menekuni hobi dan pekerjaannya sebagai seniman di Berlin.

Entah sebuah kebetulan atau takdir, Emelie jatuh begitu saja dalam mata sayu pemuda itu, dan menjadi buta.

***

Bersambung…

Penulis adalah Ika keysa. Penulis dapat dihubungi di akun @envychy_oxy dan facebook ikakeysa

Pengen kayak Ika keysa?

Yuk nulis!

Cerpen atau puisi maks. 5000 karakter, bukan plagiat atau mengandung sara dan tidak ada unsur kekerasan ataupun pornograf, belum pernah dipublikasikan dimanapuni. Cerpen atau puisi yang masuk hak milik perusahaan.

Kirim cerpen ataupun puisi ke Koran@pabelan-online.com

Also Read

Tinggalkan komentar