
UMS, Pabelan-Online.com – Lembeknya daya kritis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sangat terlihat dari aksi mimbar bebas yang diadakan pada Kamis, 20 Maret 2025 di depan Gedung Siti Walidah. Hari yang seharusnya menjadi wadah mahasiswa untuk menyuarakan suaranya itu tidak terealisasi di UMS karena mahasiswanya dinilai apolitis.
Muhammad Naufal Aulia Darojat yang mengaku sebagai partisipan kecewa dengan partisipasi mahasiswa UMS terhadap aksi mimbar bebas itu. Sebab, Penanggung jawab (PJ) yang sudah ditentukan untuk setiap fakultas, yakni gubernur masing-masing fakultas, nyatanya tidak melakoni tugasnya dengan baik. Aksi yang seharusnya dimulai pada pukul 12.30 WIB itu berujung molor sampai menjelang asar.
Berdasarkan kesaksiannya, peserta aksi yang hadir bahkan hanya terdiri dari tiga sampai empat fakultas, sedangkan gubernur hanya ada satu atau dua gubernur saja. “Itu juga menjadi kritik ya, di mana kita sudah sepakat semalam saat konsolidasi: menjadi PJ di masing-masing fakultas. Tapi per hari ini kita tidak melihat itu,“ ucapnya kecewa, Kamis, (20/3/2025).
Naufal juga mempertanyakan peran BEM dan DPM Universitas yang seharusnya mengetahui sebagai apa posisi mereka. Pihaknya sudah mencoba mengontak dan menghubungi sejak Rabu malam agar menyempatkan hadir dan mau untuk membersamai. Keesokan siangnya, ia sudah berupaya mengontak presiden BEM lagi ketika tak kunjung melihatnya hadir di hari-H.
“Kita punya sosok baru di UMS Presiden Mahasiswa, tapi mungkin belum bisa memunculkan eksisnya kepada teman-teman dan menjadi contoh,” katanya.
Minimnya mahasiswa yang hadir pada aksi mimbar bebas hari itu, kata Naufal, menyadarkannya bahwa masih banyak mahasiswa yang apatis, dan apolitis atau anti terhadap politik. Padahal, kata Naufal, mahasiswa juga terdampak isu politik. “Kita semua loh, kita terdampak, kita kena batunya, kita mendapatkan ampasnya,” ucap Naufal di akhir wawancara.
Wakil Gubernur Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Surya Agritama menyatakan bahwa, dalam konsolidasi, mahasiswa sepakat akan menggelar aksi mimbar bebas di depan Gedung Siti Walidah. Dalam konsolidasi, sudah disepakati bahwa persiapan massa dimulai pukul 11.30 WIB, sehingga pukul 13.00 WIB sudah berangkat ke Gedung Siti Walidah. Namun, sampai pukul 14.00 WIB, massa beserta gubenur-gubenur yang hadir ternyata jauh dari prediksi.
“Terkait kawan-kawan BEM lain mengoordinasikan dengan model apa saya juga kurang paham, karena malam itu akun official BEM juga memposting pamflet aksi,” katanya pada Kamis malam dalam wawancara via WhatsApp, (20/3/2025).
PJ utama aksi, kata Surya, sudah hadir di lokasi sejak pukul 13.00 WIB kurang bersama PJ lain. “Sekali lagi, PJ aksi kemana saya kurang paham,” ujar Surya dengan tegas.
Ia memaklumi BEM yang baru diresmikan kemarin jika tidak hadir lantaran masih mempersiapkan kabinet baru. Surya menilai iklim aktivisme di UMS memang begitu miris. Namun, ia yakin apabila BEM dan DPM dipegang oleh orang-orang yang peka serta idealis, iklim semacam ini akan dapat membaik secara perhalan.
Di akhir wawancara, Surya menegaskan bahwa mahasiswa seharusnya dapat memberikan sumbangsih nalar kritisnya agar tidak pudar dan tergerus oleh waktu. “Sebagai mahasiswa harus idealis, bukan justru bersikap acuh tak acuh dengan isu yang seharusnya kita kritisi dan sikapi,” ucap Surya.
Reporter: Ivana Sarah Azaria & Aulya Rahma Santi
Editor: Muhammad Farhan






