Sumber: Gavamedia.net

Sebagaimana judul dari ceritanya, yaitu Layla Majnun, menghadirkan kisah cinta yang tidak biasa dan tidak hanya sekedar menampilkan romantisme semata. Layla Majnun menjelma sebagai perjalanan spiritual yang menggetarkan dan transendental.

Tokoh utamanya yaitu Qays bin Al Mulawwah yang kemudian dikenal sebagai “Majnun”. Qays dan Layla memanglah tokoh nyata yang hidup pada masa Daulah Amawiyah (Bani Umayyah). Qays adalah pemuda yang cerdas dan berbakat yang jatuh hati sejatuh-jatuhnya terhadap Layla sejak usia remaja, sejak di dalam bangku sekolah. 

Pertemuan keduanya di bangku pendidikan menjadi sebuah awal dari terwujudnya perasaan yang tulus diantara keduanya. Namun, ketulusan tersebut menjadi sebuah malapetaka maupun bencana bagi keduanya, ketika tradisi sosial dan kehendak keluarga memisahkan kedunya. 

Sejak saat itu, tidak ada lagi cinta  yang menjadi ruang kebahagiaan, melainkan berubah menjadi cinta yang penuh medan ujian bagi Qays yang perlahan menggerus kewarasannya.

Pada awal cerita, Syaikh Nizami Ganjavi menciptakan sebuah fondasi psikologis yang kuat pada tokoh Qays secara pelan-pelan. Ia bukanlah sosok yang sejak awal digambarkan gila, namun seseorang pemuda dengan rasa kepekaan yang begitu luar biasa. 

Ketika cintanya dipisahkan oleh keadaan sosial dan keluarga Layla, gejolak batin dalam diri Qays mulai muncul. Qays kehilangan keseimbangan batin. Dari situlah terciptalah julukan “Majnun” yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya “Gila”, julukan tersebut diciptakan oleh masyarakat yang melihat tingkah Qays secara langsung. Julukan tersebut menjadi sebuah label sosial dan sekaligus menjadikan sebuah simbol keterasingan. 

Di dalam terjemahan versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Salim Bazmul yang diterbikan oleh Gava Media (2019), dinamika batin yang dialami Majnun tetap terasa kuat, meskipun bahasa yang digunakan sangat puitis penuh dengan nuansa sastra arab klasik.

Konflik di dalam kisah tersebut tidak dibangun melalui intrik yang rumit, melainkan dibangun melalui benturan antara cinta dan norma sosial yang ada. Layla dipaksa menikah dengan lelaki lain demi menjaga kehormatan dari keluarga dan kabilahnya. 

Sementara itu, Majnun memilih kabur dari masyarakat mengasingkan diri ke padang pasir, hutan, dan berpindah dari gua satu ke gua lainya. Majnun hidup bersama hewan-hewan liar, menulis syair, mengucapkan syair, meneriakkan nama Layla setiap hari, dan menolak kembali hidup di tengah keluarganya dan masyarakat. 

Pengasingan ini bukan sekedar pelarian fisik, namun juga digambarkan sebagai mekanisme pertahanan ego (seperti penelitian yang berjudul “Majnun’s Madness in Novel Layla Majnun by Nizami Ganjavi 1966: Psychoanalytic Approach” (2025), serta bentuk tranformasi batin. Cinta yang sedari awal bersifat duniawi pelan-pelan berubah menjadi cinta yang lebih spiritual, hanya Majnun dan Sang Maha yang tahu bagaimana rasanya. Majnun tidak lagi mencintai Layla sebagai “sosok” saja, namun sebagai simbol dari keindahan Tuhan Yang Esa.

Dari hal tersebutlah menggambarkan bagaimana kuatnya karya dari Syaikh Nizami Ganjavi terlihat. Ia tidak sekedar menyajikan kisah asmara yang begitu tragis, namun juga mengembangkanya menjadi alegori yang lebih filosofis, spiritual, dan sufistik. 

Kegilaan Majnun bisa ditafsirkan sebagai metafora dari kerinduan manusia kepada Sang Maha. Padang pasir menjadi sebuah ruang “kontemplasi” bagi Majnun, sedangkan penderitaanya menjadi sebuah jalan penyucian jiwa baginya. 

Pembaca diajak melihat bagaimana “kegilaan” Majnun justru menghadirkan sebuah kesadaran yang lebih tinggi, kesadaran yang melampaui batas rasionalitas yang biasa. Cinta dalam kisah Layla Majnun tidak hanya berhenti pada “kepemilikan” semata, namun sampai kepada titik pengorbanan dan “pelepasan total”.

Pada bagian akhir cerita menunjukan klimaks yang sunyi. Layla meninggal dunia dalam keadaan tetap menyimpan ketulusannya terhadap Majnun walaupun dia sudah dipaksa menikah dengan lelaki lain. Ketika Majnun mengetahui kabar tersebut, gugur sudah pupus bunga terakhir dalam hidupnya. Ditinggal mati oleh sang ayah, ibu, lalu pupus bunga yang selalu di nantinya. 

Majnun mendatangi makam Layla dan pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir di atas nisannya. Mereka diperkirakan meninggal sekitar tahun 65 H. Kematian Layla dan Majnun bukan hanya sekedar sebuah kisah tragis, melainkan sebuah simbol “penyatuan abadi” yang tidak dapat mereka ciptakan ketika di dunia. 

Syaikh Nizami Ganjavi seolah-olah ingin memberitahu pada pembaca, bahwasanya cinta sejati yang tulus tidak hanya tentang menemukan bentuknya dalam kehidupan dunia, namun justru sesuatu yang menemukan keabadiannya dalam kesunyian dan kematian juga.

Dalam segi karakterisasi, Majnun digambarkan sebagai tokoh yang konsisten sebagai sebuah figur yang kuat dalam perasaannya dan tak goyah. Majnun tidak pernah berkhianat pada cintanya, meskipun dia rela melepaskan namanya, keluarganya, bahkan kewasaranya yang diukur oleh ukuran masyarakat.

Layla pun tidak digambarkan sebagai tokoh yang pasif sepenuhnya. Layla tetap menyimpan kesetiaan batin dengan tidak mau disentuh dengan suaminya walaupun dia sudah dinikahkan secara paksa oleh keluarganya. Keduanya menjadi sebuah gambaran cinta yang begitu murni, namun masih terjebak dalam tatanan struktur sosial yang kaku di masyarakat timur tengah pada abad itu.

Kelebihan pada novel ini terletak pada kedalaman makna maupun kekuatannya yang begitu simbolik. Bahasanya yang begitu puitis dari awal cerita hingga akhir cerita membuat setiap gambaran adegan terasa sebagai lantunan syair yang keluar langsung dari mulut Majnun. 

Terjemahan tahun 2019 oleh Salim Bazmul cukup berhasil mempertahankan nuansa klasiknya, sekaligus membuatnya bisa dipahami pembaca modern. Selain itu, nilai filosofis, spiritual, dan sufisme yang terkandung di dalam ceritanya menjadikan kisah ini relevan lintas zaman. Bukan hanya cerita kisah cinta remaja, namun juga refleksi tentang penderitaan, kesetiaan, dan pencarian makna hidup.

Namun demikian, gaya penceritaan yang penuh dengan metafora dan repetisi puisi bisa menimbulkan alur cerita yang lambat bagi pembaca yang terbiasa dengan alur cepat. Beberapa bagian lebih menekankan renungannya daripada peristiwanya, sehingga ritme cerita tak selalu bergerak secara dinamis. 

Selain itu, latar budaya di Timur Tengah pada abad ke-12 mungkin memang harus memerlukan pemahaman yang lebih kompleks tentang tatanan sosial agar pembaca bisa lebih menangkap kedalaman simboliknya secara menyeluruh.

Sebagai karya sastra klasik yang ditulis oleh Syaikh Nizami Ganjavi pada abad ke-12, tepatnya pada tahun 1888 masehi lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Salim Bazmul serta diterbitkan oleh Gava Media pada tahun 2019, Layla Majnun tetaplah menunjukan daya hidupnya hingga saat ini. 

Kisah ini menjadi bukti bahwa cinta, di dalam bentuknya yang begitu murni, selalu saja bersinggungan dengan penderitaan maupun pengorbanan. Novel ini tidak hanya mengajak pembaca untuk merasakan ketragisan Majnun, namun juga mengajak pembaca untuk bisa merenungkan kembali makna hidup, makna cinta, makna kegilaan, dan makna kesetiaan yang melampaui batas keduniawian.

Penulis: Buana Tirta Yozaga

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar