
Pabelan-online.com, UMS – Aksi simbolik yang dilakukan pada 30 September lalu merupakan salah satu kolaborasi gerakan dari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS. Hal ini merupakan agenda kolektif untuk menyosialisasikan isu sosial dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di bulan September.
Dafa Damara, selaku koordinator aksi, mengatakan bahwa aksi ini telah dirancang sejak lima hari yang lalu. Ia mengonfirmasi bahwa aksi yang digagas oleh BEM yang ingin merencanakan acara peringatan mengenai September Hitam yang bertujuan sebagai bentuk kepedulian.
“Jadi, teknisnya itu awalnya BEM punya ide yang mana dipaskan di tanggal 30 sebagai bentuk kepedulian, respons untuk memperingati September Hitam,” ujarnya ketika ditemui di masjid, Rabu (30/09/2026).
Dafa mengatakan bahwa diadakannya aksi di Taman Baca FKIP merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa serta sebagai respons atas berbagai peristiwa kelam yang terjadi di bulan September.
“Alasan yang pertama ya pasti ingin menyadarkan kesadaran FKIP terkait adanya peristiwa kelam September Hitam. Terus yang kedua adalah sebagai bentuk respons yang mana FKIP ini khususnya mahasiswa di FKIP dan umumnya di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dafa melanjutkan, kepedulian terhadap isu di negara ini mesti dimulai dari aksi simbolik yang telah diadakan. Ia berharap mahasiswa sadar akan berbagai isu di sekitarnya.
“Harapannya dengan ada kegiatan ini mampu minimal membangun kesadaran mereka gitu lho bahwasanya negara kita ini enggak baik-baik saja. Ternyata pemerintah kita ini sering kali melakukan kekerasan-kekerasan dan menyita hak asasi dari rakyatnya sendiri,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa isu kekerasan HAM hingga kesejahteraan guru menjadi inti tuntutan pada aksi simbolik ini. Dafa mengatakan bahwa aksi ini perlu disampaikan dengan berbagai pendekatan, mulai dari puisi hingga teater yang ditampilkan di aksi.
“Kami ini kan awalnya dasarnya bingung gimana cara nyampein. Nah, di FKIP ini kami berusaha berkolaborasi dengan seluruh Ormawa, seperti yang dilihat tadi juga ada penampilan dari musik, puisi, terus ada drama dan sebagainya,” katanya.
Eka Novi, selaku peserta aksi, menyampaikan bahwa aksi ini cukup penting untuk mahasiswa hadir di dalamnya. Menurutnya, aksi ini bisa menjadi tanggung jawab sosial mahasiswa di luar kelas untuk peka dengan isu yang ada di sekitarnya.
“Kehadiran mahasiswa dalam aksi kemarin cukup penting karena sudah seharusnya mahasiswa ga cuma punya tanggung jawab di ruang kelas. Akan tetapi, juga punya tanggung jawab sosial untuk peka sama apa yang terjadi di sekitarnya,” ujarnya ketika dihubungi secara daring lewat WhatsApp, Kamis (01/10/2026).
Ia berharap aksi simbolik ini bukan sekadar seremonial saja. Novi juga menekankan bahwa setelah mengikuti aksi mahasiswa bisa mengawal persoalan mulai dari lingkup fakultas khususnya FKIP sendiri.
“Yang penting bukan cuma seberapa banyak orang yang turun dalam satu aksi, tapi bagaimana setelahnya muncul kesadaran untuk terus mengawal persoalan-persoalan yang ada dalam lingkup fakultas maupun lingkup yang lebih besar,” pungkasnya.
Reporter: Hilmi Izza Faturrahman
Editor: Fauziah Salma Anfihar








