LPM Pabelan

Sumber: www.sonora.id

Di awal September tahun 2024 lalu, saya tertarik dengan sebuah judul film yang relevan dengan rutinitas harian saya, yakni Dosen Ghaib—bedanya saya tidak dinisbatkan dengan kata yang terakhir. Saya berangkat menuju bioskop dengan imajinasi tentang film horor sekelas Pengabdi Setan, apalagi film ini dicipta dengan dasar kisah nyata. Artinya, Dosen Ghaib seharusnya terasa sangat dekat dengan para akademisi sekaligus mahasiswa di perguruan tinggi. Aspek ini tentu saja menjadi peluang yang paling menjanjikan untuk menarik minat penonton film—yang sebelumnya telah dibuktikan oleh KKN di Desa Penari. Sayangnya, setelah menuntaskan film ini hingga dipersilakan keluar oleh cleaning service pihak bioskop, saya (dengan berat hati) menyebut film Dosen Ghaib sebagai film gagal—baik dari aspek dulce maupun utile.

Konstruk Cerita yang Kurang Berterima

Horace yang dikutip oleh Rene Wellek dan Austin Warren (dan kerap disangka ungkapan Wellek & Warren di banyak jurnal ilmiah) dalam Theory of Literature, mengungkapkan bahwa sebuah karya seni setidaknya mengandung dua poin penting, yakni dulce dan utile. Dulce dapat diartikan sebagai hal yang manis atau indah, sehingga sebuah karya seni dituntut menyajikan suatu hal yang memesona. Biasanya, keindahan sebuah karya seni dapat dinikmati lewat banyak hal seperti gaya bahasa; konstruk cerita; visualisasi; dan sebagainya. Jika karya seni itu berwujud film, satu di antara aspek dulce-nya adalah konstruk cerita.  

Secara singkat sekaligus padat, Dosen Ghaib bercerita tentang empat mahasiswa yang harus mengulang mata kuliah dengan dosen pengampu mata kuliah yang terkenal killer lewat jalur semester pendek. Awalnya memang tak ada masalah berbau mistis, namun suasana mencekam mendadak muncul ketika dosen killer tersebut mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia. Seharusnya ia tak bisa hadir ke ruang kelas, namun empat mahasiswa tersebut malah berhadapan langsung dengannya saat kabar duka baru mereka terima. Mulai dari sini, teror arwah dosen killer tak berhenti menghantui.  

Jika ditarik benang merah setelah menikmati alur film dari awal hingga usai, arwah dosen killer menjadi ‘penasaran’ disebabkan oleh penyesalan atas kematian putrinya sekaligus rasa malu karena gagal meluluskan empat mahasiswa tersebut. Menjelang akhir film, barulah diketahui asal-usul kematian putrinya. Nah, justru dari benang merah inilah konstruk cerita menjadi kian terasa tidak ada pertautan konflik yang logis antara adegan-adegan dalam film dengan akar masalah. Pertama, kematian putri dosen killer sama sekali tidak berhubungan dengan empat mahasiswa yang diteror. Anehnya, arwah dosen killer tersebut justru meneror Maya hingga harus meregang nyawa. Saya pun menduga Maya (sedikit atau banyak) memiliki sangkut paut dengan kematian putri dosen killer. Sampai di akhir cerita, Maya dan putri dosen killer benar-benar tak ada hubungan sedikit pun.  

Kedua, ungkapan dosen killer yang melarang empat mahasiswa tersebut untuk meninggalkan kelas sampai perkuliahan selesai yang seharusnya menjadi clue atau kalimat kunci justru terasa tidak ada urgensinya—andai ditiadakan pun tidak akan mengubah alur film. Perkiraan saya kala itu, penyelesaian teror ini akan menemukan jawaban kala mereka bertahan di dalam kelas sembari menunggu arwah dosen killer melakukan sesi ‘curhat’. Sayangnya, mereka justru semakin disudutkan kala memutuskan bertahan di dalam kelas—bahkan Fattah dan Emir hampir mati. 

Ketiga, satu di antara empat mahasiswa yang diteror, Maya dikisahkan mengalami depresi hingga harus selalu mengonsumsi obat antidepresi. Secara konstruk cerita, hal utama yang membuat Maya depresi adalah tekanan dari orang tuanya tentang biaya kuliah. Sementara di bagian penutup film, disajikan beberapa laporan berita tentang dosen killer yang membuat kesehatan mental mahasiswa hancur. Seharusnya hal penting yang tidak boleh dilupakan yaitu penyebab kesehatan mental mahasiswa hancur bukan hanya dosen killer, tetapi orang tua yang acuh dengan kondisi psikologis anaknya yang juga sedang berjuang dengan berat untuk menyelesaikan studi. 

Keempat, bagian ending cerita yang sekaligus menjadi solusi untuk menghentikan teror terasa tidak apple to apple dengan teror dari arwah dosen killer—yang hingga menghabisi nyawa. Endingnya sebatas pengakuan dari mahasiswanya yang bernama Amelia, bahwa dosen killer adalah ayah yang sangat menyayangi putrinya serta dosen yang sangat memerhatikan mahasiswanya. Benarkah untuk mendapatkan sebuah pengakuan, arwah penasaran harus melakukan teror yang berujung kematian? 

Pesan Tidak Tersampaikan Lewat Cerita, tetapi Lewat Kumpulan Judul Berita di Bagian Akhir: Sebuah Kontradiksi 

Sementara aspek utile dapat dimaknai sebagai hal yang bermanfaat atau berguna. Selain indah dan memesona, sebuah karya seni harus menyampaikan nasihat-nasihat hikmah. Jujurly, saya menangkap sisi utile dari film Dosen Ghaib bukan dari konstruk ceritanya, tetapi dari kliping judul berita yang disuguhkan setelah film dinyatakan tamat. Dari seluruh konstruk cerita Dosen Ghaib, saya bingung menyusun setiap puzzle yang telah ada. Seolah puzzle-puzzle tersebut akan terpecahkan dengan beberapa bagian yang berbeda, sulit ditemui benang merah yang bisa menyambung susunan utuh puzzle-puzzle tersebut.  

Awalnya saya mengira sisi utile dari film ini adalah urgensi pengakuan dari orang lain. Singkatnya, arwah dosen killer bisa kembali ke alam baka dengan tenang karena ada (satu) orang yang mengakui kebaikannya. Dengan kata lain, film ini seolah menunjukkan bahwa sisi killer seorang dosen sejatinya memiliki maksud yang positif—yang justru kontradiktif dengan kliping judul-judul berita di bagian akhir film. Ternyata di bagian akhir film setelah cerita selesai, ditampilkan kliping judul-judul berita tentang dampak dosen killer terhadap kesehatan mental mahasiswanya. Saya justru semakin bingung: film ini sejatinya ingin menyampaikan ajakan untuk menormalisasi keberadaan dosen-dosen killer di perguruan tinggi (seperti dalam cerita di film) atau teguran dalam rupa kreasi seni untuk dosen-dosen yang killer agar disiplin yang mereka ‘imani’ tetap berjalan sesuai porsi (seperti pada kliping judul-judul berita)? 

Agaknya Dosen Ghaib dibuat dengan terburu-buru, mengejar momentum. Industri film horor saat ini memang sedang menikmati ‘musimnya’, terlebih film-film horor yang berlatar dari kisah nyata. Sebagian besar pekerja film seolah tersihir dengan kesuksesan film KKN di Desa Penari, bahwa film horor berlatar kisah nyata yang telah lebih dulu viral di media sosial dianggap sudah pasti akan berhasil meraih penonton berlimpah. Tak jauh berbeda dengan Dosen Ghaib yang ‘tergoda’ oleh kisah viral di media sosial. Jika tren industri film horor beralih menjadi siapa cepat dia dapat, sepertinya film horor semenakjubkan Pengabdi Setan akan sulit ditemui (lagi). Setuju?

Penulis: Akhmad Idris

Also Read

Tinggalkan komentar