
Pabelan-online.com, UMS – Dua tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Growspace dan Sawo Matang, berhasil melaju ke tingkat nasional dalam ajang Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) divisi Video Digital Pendidikan. Menghadapi tahap final, kedua tim membawa harapan untuk memberikan karya terbaik sekaligus menjadikan kompetisi sebagai ruang belajar dan pengalaman baru.
Tim Growspace mengembangkan film berjudul Pendar yang mengangkat pemanfaatan teknologi digital untuk membantu pemberdayaan ekonomi keluarga. Karya tersebut bermula dari tugas mata kuliah Teknik Produksi Visual yang diampu Hafidz, kemudian dikembangkan oleh tim untuk mengikuti LIDM.
Ketua Tim Growspace, Assyaima Adinna Zahra, mengatakan ide karya dikembangkan dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setelah melalui beberapa kali revisi bersama dosen pembina dan pembimbing, tim melanjutkan proses dengan menyusun naskah, storyboard, menentukan sudut pengambilan gambar, hingga shooting dan editing.
“Awalnya, berangkat dari tugas mata kuliah Teknik Produksi Visual yang diampu oleh Pak Hafidz, yang kemudian saya susun dan kumpulkan ke beliau. Dari tugas tersebut, kami melihat ada potensi cerita yang bisa dikembangkan lebih jauh dan mencoba membawanya ke LIDM,” ujar Zahra saat diwawancarai secara daring pada Minggu (20/9/2026).
Bagi Growspace, pembuatan film menjadi pengalaman baru karena latar belakang anggota tim berasal dari FAI. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang untuk mengikuti kompetisi. Zahra menyebut arahan dosen serta kerja sama tim membantu mereka terus belajar hingga berhasil menjadi finalis tingkat nasional.
“Membuat short film menjadi pengalaman baru bagi kami yang mana background kami memang dari FAI. Namun itu bukan menjadi penghalang untuk kami mencoba berkarya. Dengan arahan dosen pembina dan pembimbing dan kerja sama tim, kami terus belajar dan alhamdulillah akhirnya menjadi finalis tahap nasional,” jelas Zahra.
Melalui Pendar, Growspace mengangkat kisah Luthfi yang mulai merintis usaha jasa jahit setelah mengalami PHK. Anak Luthfi kemudian membantu mempromosikan usaha tersebut melalui TikTok hingga akun yang digunakan untuk promosi menjadi viral dan usahanya mengalami peningkatan. Bagi tim, cerita tersebut menjadi gambaran bahwa teknologi digital dapat memberikan manfaat bagi masyarakat apabila digunakan secara bijak.

Sementara itu, Tim Sawo Matang mengembangkan cerita yang berangkat dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele. Salah satunya melalui tokoh Nanta yang menggunakan gawai bukan sekadar untuk bermain gim, tetapi juga untuk memperoleh manfaat lain.
Director sekaligus anggota Tim Sawo Matang, M. Hanif, menjelaskan bahwa tim mengembangkan karya dengan lebih dahulu menentukan tema, mencari ide, menyusun pra-produksi, hingga melakukan produksi dan seleksi tingkat kampus. Setelah lolos tahap awal, karya kemudian dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.
“Proses dimulai dari menentukan tema lomba yang akan diikuti yaitu VDP (Video Digital Pendidikan), kemudian dilanjut mencari dan mengembangkan ide, merancang pra-produksi, proses administrasi, hingga hari-H produksi dilakukan dengan matang,” ujar Hanif saat dihubungi secara daring pada Minggu (20/9/2026).
Hanif mengatakan Sawo Matang lebih berfokus pada kekuatan cerita dan konsep, bukan hanya aspek teknis. Pembagian tugas dilakukan sesuai kemampuan masing-masing anggota, mulai dari sutradara, kamera, artistik, audio, hingga editing, dengan tetap saling membantu selama proses produksi.
“Kami lebih berfokus untuk memaksimalkan cerita dan konsep, bukan hanya dari sisi teknis. Jadi bagaimana karya yang sederhana tetap punya pesan dan identitas,” jelasnya.
Pembimbing Tim Sawo Matang, Iswahyudi, mengatakan arahan yang diberikan berfokus pada kesesuaian cerita dengan tema serta upaya agar alurnya tidak terlalu umum sehingga dapat menarik perhatian juri.
“Selain itu saya sampaikan bahwa alurnya juga jangan mainstream untuk menarik perhatian terutama juri. Dan akhirnya yang menjadi latar cerita adalah anak-anak,” ungkap Iswahyudi saat diwawancarai secara daring pada Minggu (20/9/2026).
Penggunaan pemain anak juga menjadi tantangan tersendiri bagi Sawo Matang. Iswahyudi menjelaskan bahwa tim harus menjaga suasana hati pemain anak selama proses produksi. Selain itu, proses mengikuti dan menghafalkan dialog juga membutuhkan kesabaran dari tim.
Dari sisi persiapan, kedua tim menghadapi kendala masing-masing. Hanif menyebut manajemen waktu dan koordinasi menjadi tantangan bagi Sawo Matang karena setiap anggota memiliki kesibukan berbeda. Sementara itu, Growspace menghadapi kendala saat pengambilan gambar, mulai dari pengarahan talent yang berasal dari luar mahasiswa hingga keterbatasan perangkat dan teknis pengambilan gambar.
“Paling terasa di manajemen waktu dan koordinasi tim, karena setiap anggota juga punya kesibukan masing-masing. Tapi kami coba atasi dengan komunikasi dan pembagian tugas yang jelas. Serta ada beberapa part yang tricky, salah satunya pada saat mencari aktor dan meng-direct aktor karena perlu ketentuan yang spesifik,” ujar Hanif.
Di sisi lain, Growspace mendapat dukungan kampus berupa dana operasional dan pembinaan untuk mempersiapkan karya menuju tingkat nasional. Anggota Tim Growspace, M. Faozan Syifaur, mengatakan UMS memberikan dana sebesar Rp3 juta untuk kebutuhan operasional pembuatan film.
“Selain itu, kampus juga mengadakan coaching pembinaan selama tiga kali dengan sesi intensif dengan dosen pembimbing,” tambah Faozan saat diwawancarai secara daring pada Minggu (20/9/2026).
Dalam proses produksinya, Growspace juga menghadapi keterbatasan sumber daya. Faozan menyebut penggunaan talent dari luar mahasiswa membutuhkan briefing lebih lama dan beberapa kali pengambilan gambar. Proses editing pun dilakukan dengan mengandalkan telepon genggam, sementara keterbatasan pemahaman teknis sempat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan angle. Meski demikian, ia mengatakan kekompakan tim tetap berjalan baik.
Menjelang final nasional, kedua tim tidak hanya membawa target terhadap hasil kompetisi, tetapi juga harapan untuk memperoleh pengalaman dan terus mengembangkan kemampuan. Sawo Matang berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus berkarya sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam membawa nama UMS di tingkat nasional.
Sementara itu, Growspace berharap dapat memberikan karya terbaik dan membawa nama UMS dengan baik. Zahra juga memandang keikutsertaan dalam LIDM sebagai kesempatan untuk belajar, mencoba hal baru, serta menunjukkan bahwa mahasiswa FAI dapat berkarya di bidang yang berbeda.
“Harapan kami tentu bisa memberikan yang terbaik di final nasional nanti, dan membawa nama UMS dengan baik. Kami berusaha semaksimal mungkin, mengeluarkan kemampuan yang kami punya, dan bersungguh-sungguh menjalani prosesnya. Masalah hasil akhirnya, kami menganggapnya sebagai bonus,” ujar Zahra.
Pembina Growspace, Hafidz, juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan solidaritas tim menjelang perlombaan. Baginya, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti kompetisi dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karya dan kepercayaan diri setelah lomba berakhir.
“Menjelang lomba, arahan saya lebih ke mental. Saya bilang, kita berlomba bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi untuk memberi yang terbaik, dan itu sudah cukup. Sisanya ikhtiar dan tawakal. Jadi mereka enjoy, tidak tertekan. Solidaritas tim nomor satu. Jika timnya solid, filmnya pasti hidup,” ungkap Hafidz saat diwawancarai secara daring pada Sabtu (19/9/2026).
Ia berharap kedua tim dapat menikmati proses kompetisi dan memperoleh pengalaman yang dapat dibawa ke tahap berikutnya.
“Soal juara itu bonus. Yang penting setelah lomba ini mereka dapat pengalaman, portofolio, dan kepercayaan diri bahwa karya dari kampus kita itu bisa bersaing. Menang atau tidak, saya sudah bangga dengan perjuangan mereka sampai tahap ini,” pungkas Hafidz.
Reporter: Sherly Ayu Della Puspita
Editor: Baso Muh Wahidin





