
Pabelan-online.com, UMS – Memasuki usia ke-68, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong transformasi berkelanjutan melalui pengembangan akademik, modernisasi fasilitas, serta riset yang berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, menyebut arah pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi universitas ke depan.
Harun menjelaskan, Milad UMS tidak hanya dimaknai sebagai perayaan hari jadi, tetapi juga sebagai momentum untuk bersyukur, bekerja sungguh-sungguh, dan menjadikan sejarah sebagai fondasi pengembangan universitas. Menurutnya, UMS kini memasuki tahap transformasi progresif yang berkelanjutan setelah melewati fase pertumbuhan, penguatan, dan pengembangan.
“Prinsipnya Milad adalah bersyukur. Prinsip bersyukur adalah bekerja dengan sungguh-sungguh,” ungkap Harun saat ditemui di ruangannya, Sabtu (10/10/2026).
Dalam penyelenggaraan Milad kali ini, rangkaian acara dimulai dari Agustus hingga November 2026. Acara tersebut meliputi Pengajian Akbar pada 18 Oktober, Upacara hari jadi ke-68 pada 24 Oktober, serta Jalan Sehat dan Bazar pada 1 November 2026.
Dalam pengembangan akademik, Harun menyebut UMS mencatat sejumlah capaian, salah satunya sebagai perguruan tinggi swasta penerima hibah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terbanyak. Ia juga menyampaikan bahwa UMS kini memiliki 86 program studi, dengan jumlah program doktor (S-3) meningkat dari lima menjadi sepuluh.
“Kita dinobatkan sebagai perguruan tinggi penerima hibah LPDP terbanyak. Sekarang jumlah prodinya 86, prodi S-3 sekarang 10. Dulu cuma 5,” jelasnya.
Harun juga menyebut kepercayaan masyarakat terus meningkat. Pada penerimaan mahasiswa baru, UMS menerima sekitar 28.800 pendaftar.
“Yang diterima misalnya kedokteran nih, meskipun kuotanya 2.250 tetapi UMS dari 6.000 pendaftar kedokteran hanya menerima 211, artinya kalau perguruan tinggi berlomba-lomba mencari mahasiswa untuk memenuhi kuota, UMS itu hanya menerima yang sangat berkualitas saja,”ujar Harun.
Ke depan, Harun menekankan pentingnya pengembangan akademik yang tidak berhenti pada penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi. Menurutnya, hasil kegiatan akademik perlu diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.
“Pengembangan akademik yang riset, yang pengabdian, yang publikasi didorong tidak hanya mandek di dokumen, tidak hanya mandek di dokumen sitasi, tapi didorong ke hilirisasi dan komersialisasi,” ujarnya.
Selain pengembangan akademik, UMS juga merencanakan inovasi teknologi berkelanjutan yang berorientasi pada kontribusi dan dampak. Harun menyebut pihaknya tengah menyiapkan pengembangan tersebut bersama LPDP. Namun, ia belum merinci bentuk program dan target pelaksanaannya.
Dalam aspek sarana dan prasarana, UMS menargetkan seluruh ruang kelas menggunakan basis smart class. Harun menyebut pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) telah selesai dan digunakan, sedangkan gedung baru Pondok Shabran telah mencapai tahap akhir pengerjaan.
“Pondok Sobron sudah tinggal meresmikan, sudah 99,9 persen,” tuturnya.
Sementara itu, pembangunan gedung sembilan lantai untuk Fakultas Teknik masih dalam proses penyesuaian desain. Harun menjelaskan, penyesuaian dilakukan untuk memastikan bangunan tidak hanya memiliki tampilan arsitektur yang baik, tetapi juga memenuhi aspek kekuatan dan fungsi.
“Bukan hanya bagus dari sisi arsitektur, tapi juga modern di sisi fungsional,” jelasnya.
Di sisi lingkungan, Harun menyebut UMS berupaya mempertahankan konsep kampus smart green. Ia mengatakan, dari total lahan sekitar 50 hektare, area yang telah terisi bangunan mencapai sekitar 45 persen. Menurutnya, ruang terbuka dan ekosistem lingkungan menjadi bagian penting dalam pengembangan kampus.
“Kampus itu bukan hanya gedung, tetapi juga lingkungan. Ekosistem kampus yang bagus harus bisa menjaga dan merawat lingkungan,” ungkapnya.
Harun menegaskan, berbagai pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat reputasi UMS sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya kontribusi universitas yang dapat dirasakan secara nyata oleh berbagai pihak.
“Ilmu itu netes ke mahasiswa, netes ke masyarakat, netes ke Amal Usaha, netes ke pemerintah. Netes itu berarti berdampak, bernilai, berkontribusi,” harapnya.
Reporter: Mg. Rismawati Suryawan & Mg. Dhiya Ulhaq Ayuningtyas
Editor: Baso Muh Wahidin





