LPM Pabelan

UMS, pabelan-online.com – Pesantren Mahasiswa (Pesma) Kiai Haji (KH) Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terapkan sistem lockdown yang dievaluasi setiap dua pekan sekali. Hal tersebut guna menindak lanjuti surat edaran dari universitas terkait perkuliahan yang dilakukan secara daring karena adanya Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Penerapan sistem lockdown di Pesma UMS diberlakukan sejak tanggal 20 Maret 2020 sampai 5 April 2020, kemudian diperpanjang lagi sampai 19 April 2020. Dalam sistem lockdown tersebut, diterapkan pula sistem evaluasi dengan menunggu surat edaran resmi dari universitas.

Saat diwawancarai oleh tim Pabelan Online via Whatsapp, Muamaroh selaku Direktur Pesma KH Mas Mansur mengatakan, bahwa sistem lockdown akan dievaluasi setiap dua pekan sekali berdasarkan keputusan pihak kampus yang menerapkan sistem online dalam perkuliahan. Karena Pesma berada di bawah naungan universitas, maka penerapan di Pesma akan mengikuti sesuai surat edaran dari universitas.

“Ketika universitas sifatnya masih online, maka pesma akan tetap melakukan sistem lockdown sesuai anjuran universitas, tetapi akan tetap dievaluasi tiap dua pekan sekali,” tuturnya, Rabu (22/4/2020).

Baca JugaPandemi Belum Usai, UMS Lakukan Perubahan Jadwal Perkuliahan

Sebelum masa lockdown berakhir, mahasantri diimbau untuk tidak keluar atau masuk Pesma dengan alasan apapun dan tetap menerapkan social distancing. Mahasantri yang sakit wajib diisolasi di kamar dan menggunakan kamar mandi khusus isolasi, serta wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan setiap harinya.

Muamaroh menambahkan, bahwa masih ada sekitar 40 mahasantri yang berada di Pesma saat ini. Di akhir wawancara, Muamaroh berpesan untuk mahasantri yang masih berada di luar Pesma atau di rumah dilarang masuk Pesma kecuali setelah masa lockdown berakhir.

Muhammad Azmi Hamid, salah satu mahasantri di Pesma mengatakan bahwa dalam situasi pandemi Covid-19 ini membuat pengurus dilema, karena ada beberapa mahasantri yang pulang dan ada juga yang tetap tinggal di Pesma dengan alasan menjaga diri.

Dari berbagai tata tertib yang harus dilakukan selama lockdown,  ia merasa peraturan yang wajib diterapkan selama di Pesma kurang efektif. “Menurut saya, seharusnya ada petugas di setiap lantai, jadi jika mahasantri butuh sesuatu, mereka (petugas –red) yang keluar dan masuk,” ucapnya, Rabu (22/4/2020).

Reporter         :Panji Lumintang

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja

Also Read

Tinggalkan komentar