
Hari Minggu pagi, ruang seminar lantai dua Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS tampak semarak. Balon warna-warni tergantung di sisi langit-langit, meja-meja tertata rapi disusun letter U, dan di sudut ruangan, sebuah tumpeng kuning masih mengepulkan uap hangatnya. Hari itu, 18 Mei 2025, bukan sekadar hari biasa, hari yang menjadi perayaan atas umur ke-48 tahun Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan UMS, salah satu LPM tertua di Solo.

Serangkaian acara Milad ke 48 tersebut dihadiri oleh setidaknya 20 LPM se-Solo Raya. Antara lain, LPM Arjuna, LPM Motivasi, LPM Kentingan, LPM Mayantara, LPM Intuisi, LPM Apresiasi, LPM Kontour, LPM Maestro, LPM Psyche, LPM Justissica, LPM Ibnu Sina, LPM Visi, LPM Globe, LPM Locus, LPM Natural, LPM Islamika, LPM Ar-Rasail, dan LPM Campus.
Acara Press Carnival
Press Carnival merupakan serangkaian kegiatan dalam perayaan Milad ke-48. Press Carnival bertujuan untuk menjadi forum ekspresi bagi seluruh LPM se-Solo Raya, sekaligus forum bercengkrama dengan sesama LPM Lainnya.
Press Carnival dibuka dengan penyampaian oleh Aqil, selaku Pemimpin Redaksi (Pemred) LPM Pabelan dan Farhan, Redaktur Pelaksana (Redpel) pabelan-online.com. Aqil membuka sesi dengan memperkenalkan beragam produk unggulan dari LPM Pabelan. Kemudian diambil alih oleh Farhan, guna untuk mengulas lebih dalam tentang Pabelan-online.com, produk yang kini berada di bawah tanggung jawabnya.

Farhan membawa peserta menyelami dinamika dibalik peleburan dua produk yang dulunya berdiri sendiri, yaitu Koran Pabelan dan pabelan-online.com. Proses penyatuan itu bukan hal yang sederhana, melainkan hasil dari perdebatan dan pertimbangan panjang pada Musyawarah Kerja XLI LPM Pabelan.
Tak hanya LPM Pabelan yang memperkenalkan produknya, LPM lain pun turut semarak memperkenalkan berbagai produk LPM nya masing-masing. Setiap LPM memiliki ciri khasnya dalam menyajikan produknya ke dalam forum Press Carnival ini.
Pemaparan yang dilakukan dari Pemimpin Umum (PU) LPM Intuisi mencuri perhatian forum. LPM Intuisi melakukan pendekatan lewat visual yang estetik dan penyajian tulisan yang selaras dengan karakter pembaca di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. LPM Intuisi memahami bahwa di tengah atmosfer seni yang kental, cara menyampaikan pesan harus seindah isi yang dibawakan.
Pemaparan LPM Kentingan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga tidak kalah mencuri perhatian forum. LPM Kentingan menghadirkan konsep yang menarik, yaitu slow-living journalism. Mengusung filosofi bahwa jurnalisme tak selalu harus terburu-buru mengejar tenggat, mereka memilih untuk menekankan kedalaman isi ketimbang kuantitas terbitan.

Perkara AI, Mulai Kebablasan
Yanuar, Pemimpin Umum LPM Intuisi dari ISI Surakarta, dengan raut wajah yang serius menyuarakan kegelisahannya di forum Press Carnival, mengenai penggunaan Akal Imitasi (AI) di era digital. Menurutnya, penggunaan AI mulai kebablasan, terutama dalam memproduksi gambar. Dirinya menyayangkan tren AI yang meniru gaya studio animasi, seperti Ghibli, hal tersebut merupakan bentuk pengabaian terhadap kerja keras para seniman.
“Di sana kalau ada yang buat foto pakai Ghibli langsung dibuli,” ucapnya sembari menyeringai, Minggu (18/5/2025).
Dwiky, Pemred LPM Justissica Fakultas Hukum (FH) UMS juga turut berpendapat dengan antusias mengenai persoalan AI ini. Dengan gaya santai dan jenakanya, Dwiky berpendapat bahwa teknologi AI ini memang memudahkan, tetapi belum pada tahap menggantikan manusia.

“Saya juga menggunakan AI”, ujarnya sambil terkekeh, Minggu (18/5/2025).
Dirinya mengungkapkan, dalam penggunaan AI harus ada ambang batas wajarnya. Contohnya ketika membuat makalah atau artikel, dirinya hanya menggunakan AI untuk membuat kerangka acuannya saja.
“Itu pun saya tidak menerimanya secara utuh, saya masih mengkritisi jawaban AI juga,” celetuknya sembari tertawa.
Selaras dengan pandangan Syifa Alifah dari LPM Motivasi, bahwa dalam menggunakan teknologi harus dimanfaatkan dengan bijak, tidak sepenuhnya diberikan pada teknologi itu sendiri. Dirinya sepakat dengan pernyataan Nizam saat berdiskusi, bahwa AI bagai pisau bermata dua, sehingga harus memanfaatkan teknologi dengan sebijak mungkin
“Tidak seluruhnya digantungkan pada teknologi,” ungkapnya dengan anggun, Minggu (18/5/2025).
Tantangan Pers di Era Digital
Disela sela perbincangan hangat soal AI, Dioziando, PU LPM Kentingan UNS, tampil dengan nada tenang namun penuh penekanan. Dirinya mengajak peserta forum untuk lebih realistis dalam menghadapi era digital, tanpa perlu bersikeras menolak arus perubahan.
“Kita enggak perlu ngeyel sama perkembangan zaman,” ujarnya lugas, pada Minggu (18/05/2025).
Menurutnya, era kejayaan produk cetak sudah lewat, dan mempertahankannya secara berlebihan justru bisa menjadi beban LPM. Dirinya mendorong agar pers mahasiswa mulai berani melangkah ke ranah digital.
Inesya, perwakilan LPM Natural Fakultas Farmasi (FF) UMS, benar-benar menyadari bahwa era digital membawa tantangan sekaligus peluang. Maka dirinya dan teman-teman LPM Natural UMS mulai beradaptasi dengan teknologi yang ada.
Inesya dan teman-teman LPM Natural UMS paham, kekuatan media hari ini bukan sekadar cepat, tapi juga cermat. Untuk memperkuat daya jangkau dan pengaruh, mereka juga mulai membangun ekosistem yang kolaboratif, menjalin kerja sama dengan pers mahasiswa dari kampus lain serta komunitas digital.
Mereka juga menyiapkan fondasi yang kuat dari dalam. Literasi digital menjadi prioritas utama, para anggota LPM Natural UMS dibekali kemampuan untuk memilah informasi, menangkal hoaks, dan menghasilkan konten yang tak hanya relevan tapi juga berbasis data.
“Agar tetap kritis, responsif, dan independen di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini di ruang digital,” tutupnya, Minggu (18/05/2025).
Zafira Mardatilla, perwakilan LPM Ibnu Sina Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS turut menyampaikan pendapatnya. Baginya, pers mahasiswa tak hanya dituntut adaptif terhadap format, tetapi juga harus peka terhadap isu.
“Visualisasi konten itu penting,” ujarnya saat diskusi berlangsung, Minggu (18/05/2025).
LPM Ibnu Sina merupakan LPM yang berakar di ranah kesehatan, Zafira menaruh perhatian besar pada isu kesehatan mental dan kesehatan seksual, dua isu yang menurutnya masih dianggap tabu di kalangan mahasiswa. Baginya, persma dapat menjadi ruang aman untuk edukasi dan advokasi.
Menjelang zuhur, tepatnya pukul 12.30 forum Press Carnival pun usai. Acara kemudian dilanjut dengan pemberian sertfikat dan sesi foto bersama dengan LPM se-Solo raya.
Dari isu AI hingga urgensi kesehatan mental, dari cetak ke digital, semuanya berpadu dalam satu forum yang sama. Barangkali, di sanalah letak kekuatan sesungguhnya dari pers mahasiswa, bukan hanya sebagai penerbit berita, tapi sebagai penjaga nalar dan nurani yang tetap hangat meski zaman terus bergerak cepat.
Reporter: Aulya R. S, Nashiruddin A, Tsabita I. F, Syahda E. A
Editor: Bagas Pangestu






