
Di sudut kantin kampus, suara mahasiswa tak lagi nyaring terdengar. Yang ada hanyalah gumaman, kegalauan, dan sambatan tentang tugas yang menumpuk, nilai yang jeblok, cinta yang kandas, dan sempitnya lapangan kerja. Seseorang di pojok sana tengah membaca buku Filosofi Teras, sambil berharap hari-harinya tenang dan setidaknya mampu menghindar dari realitas hidup yang menyebalkan. Apakah ini yang disebut dengan era postmodern?
Saat narasi besar diasingkan, kampus yang seharusnya berfungsi sebagai gelanggang pertarungan gagasan, kini malah lebih mirip ruang tunggu, menanti giliran memasuki ruangan yang seolah-olah membawa ke dunia “nyata”. Setiap sudut-sudut kampus kini sudah tak lagi menjadi tempat untuk berdiskusi, melantangkan orasi, dan memaki kondisi bangsa yang porak-poranda.
Idealisme yang masih berusaha tegak kini malah dirundung bagaikan anak SD yang terpergok berak di celana. Korupsi terselubung lewat praktik menyontek, titip presensi, apatis, malas bahkan tak sudi berpikir bebas dan takut mendebat argumen dosen telah menjadi kelumrahan yang terlanjur diilhami mayoritas mahasiswa.
Ironisnya, di tengah semua itu, para aktivis justru tampak seolah momok yang hina di kalangan mahasiswa lantaran dianggap sebagai kelompok yang abai dengan masa depan, gemar berkerumun, bersikap arogan dan rutinitasnya hanya berceracau tentang kondisi sosial ataupun bangsa. Walaupun, pernyataan itu kini mulai diterima karena banyak orang yang telah memvalidasinya.
Jangankan mahasiswa, dosen-dosen pun tak menghiraukan realitas bahwa mahasiswa dan kampus telah menjauh dari idealisme dan gerakan sosial. Nyaris tak mungkin lagi ada seruan kuliah di jalan saat kondisi negara tengah genting yang membutuhkan kehadiran mahasiswa agar melakukan presensi di sana.
Meminjam perkataan reflektif Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Demikianlah kondisi yang terjadi sekarang.
Alih-alih menjadi jalan pembebasan, pendidikan justru kerap dimaknai sempit, yakni sebagai ajang untuk melatih cara bekerja dan patuh dengan atasan. Kepedulian sosial tak lagi menjadi tuntutan kelembagaan. Apakah PPKO, PPO, PKM, dan sejenisnya adalah program yang sungguhan tulus untuk memajukan lingkungan masyarakat? Atau justru hanya sekadar jalur pemenuhan validasi, sertifikat, dan portofolio dari kampus semata? Hanya kampus yang bisa menjawabnya.
Benarkah mahasiswa sudah kehilangan narasi?
Di zaman Orde Baru masih bergulir—tepatnya pada tahun 1977-1978, NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) bahkan bersikeras disublimkan ke kampus untuk menjadi mata elang yang 24 jam mengintai kegiatan mahasiswa. Kemudian, seketika mampu menjelma jadi algojo bagi kebebasan saat kecolongan ada gerakan politik yang dibuat sekelompok mahasiswa.
Jika Soeharto yang otoriter itu menjadi pemimpin di era ini, ia bahkan tak perlu repot-repot memberlakukan sistem lancung tersebut karena tanpa itu pun, mahasiswa dengan sendirinya sudah persetan dengan politik, gerakan, bahkan polah tingkah rezimnya. Toh, dengan acuh tak acuh, secara tidak langsung, mereka sudah berkontribusi merusak negara dan bangsanya sendiri .
Merenungi kala pertama memijakkan kaki di kampus, gaung slogan perjuangan, moralitas, kebangsaan, dan sejenisnya sudah tak terdengar sama sekali. Narasi kampus sebagai inkubator gerakan moral, sosial dan kebangsaan yang penuh etika, bunyinya hanya terdengar lirih, pudar, dan semu.
Orang-orang seperti Laut, Kinan, Anjani, dan Sunu hanya melintas dalam tiap lembaran novel Leila S. Chudori saja, bukan di koridor, ataupun taman kampus. Meski masih ada sejumlah mahasiswa yang karakternya serupa dengan tokoh cerita itu, populasinya tak lebih banyak dari jumlah pohon yang mengelilingi parkiran kampus. Asmara, adik Laut tentu akan terkejut, ia terheran-heran sembari mengusap-usap wajahnya tatkala menyaksikan kondisi mahasiswa di era penerusnya.
Idealisme sudah tak lagi menjadi prioritas dalam tindak-tanduk sebagai lembaga akademik, yang kini sudah berubah menjadi sekadar mengikuti tren dan bergulir menyusuri algoritma yang berkembang. Orientasi kampus seakan-akan “yang penting mampu menggaet simpati dan antusias dari kalangan muda” sama terperosoknya pada kubangan algoritmik.
Segala yang ditawarkan bukan lagi ide-ide dan narasi substansial, melainkan thumbnail paradoks ala Youtubers kala mengunggah konten di laman mereka. Tidak peduli kalimat promosinya hanya bualan, yang penting sukses menggocek masifnya emosi publik.
Mahasiswa dan kampus sudah lupa dengan pencapaiannya 27 tahun silam—reformasi 1998, dan segala gumamnya, bukan lagi dianggap sebagai narasi yang dibanggakan. Kini, yang sejak dini dipaparkan kepada para mahasiswa adalah orientasi pendidikan sebagai komoditas pabrik pencetak karyawan dan robot-robot yang tunduk pada teknokrat.
Ekosistem ini serupa dengan efisiensi anggaran. Bedanya, di kampus ini, yang terjadi adalah efisiensi orientasi: kuliah, lulus, kerja. Soal masa depan? Mereka tentu saja menyadari dan peduli dengan masa depan masing-masing. Namun, jika lantas masa lalu itu dilupakan, bukankah setelahnya yang ada hanyalah bagaikan perjalanan tanpa peta?
Peran kampus dan mahasiswa sebagai agent of change, social control, iron stock, dan ini itunya bahkan sudah tampak usang jika masih digembar-gemborkan. Wajar karena tindak-tanduk kampus dan mahasiswanuya tak lagi merepresentasikan peran-peran itu.
Bangunan narasi kronologis, historis dan retoris kini telah lenyap dan digeser oleh iming-iming lapangan kerja sehingga banyak dari mereka mendadak lupa peduli isu-isu sosial, bangsa, lingkungan, hingga moralitas. Narasi terkait peran kampus dan mahasiswa memang tak seharusnya digunakan untuk menggurui sesama mahasiswa, tetapi itu adalah identitas yang seharusnya diperkenalkan ke seluruh elemen sosial.
Kampus dan mahasiswa saat ini telah kehilangan identitas dan imajinasi kolektifnya sebagai elemen penggerak perubahan sosial. Identitas mahasiswa saat ini adalah kelompok elitis, superior, dan apatis, mampu bercakap pandai selayaknya kaum sofis yang hidup pada era Yunani kuno, yang tecermin darinya ialah kemunafikan intelektual.
Para dosennya pun hampir serupa bentukannya. Bedanya, ia memiliki otoritas memberi nilai E manakala pendapatnya ditentang. Hannah Arent pernah berbicara tentang “banalitas kejahatan” tapi barangkali yang terjadi pada mahasiswa hari ini lebih dari sekadar banal, yaitu banalitas ketidakpedulian.
Diskusi-diskusi yang jarang terselenggara itu, sekalinya terjadi, justru dipenuhi dengan debat kusir dan ajang panjat sosial. Retorikanya ampas dan jauh dari orientasi pencarian kebenaran ataupun solusi. Alih-alih mencari solusi, atmosfernya bahkan lebih lucu ketimbang Warkop DKI.
Di ruang-ruang kelas, kutipan-kutipan dari tokoh terkemuka ataupun buku-buku fenomenal, sudah sangat langka kedengarannya. Seluruh argumentasi yang beredar telah bergeser jauh dari landasan akademik atau hasrat keilmuan.
Sebaliknya, informasi dari konten pendek Tiktok malah ditelan, diimani, dan disebarluaskan secara mentah-mentah. Walhasil, mahasiswa justru menjadi subjek pasif yang hanya mampu mengonsumsi tanpa sudi bertanya dan menggugat. Ruang-ruang yang dulunya “kawah candradimuka” kini berubah menjadi “kawah mencarimuka”.
Mengingat hilangnya narasi menandakan kaburnya identitas, mampukah narasi kembali menjadi pijakan mahasiswa dan kampus atas tindak-tanduknya? Tak perlu banyak bicara untuk menunjukkan eksistensi karena perilaku dan sikap adalah hal yang seharusnya menjadi cerminan atas peran yang diemban.
Jika Tan Malaka bilang, “Tujuan pendidikan ialah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan dan memperhalus perasaan” maka kondisi para terpelajar saat ini adalah antitesisnya. Sintesisnya berarti pendidikan ialah mempertumpul tajamnya pertanyaan HRD, memperkukuh status sosial dan memperhalus sindiran tetangga.
Kampus tak lagi perlu berkoar-koar “Mencerahkan, Unggul, Mendunia” untuk menggaet customer, bahkan meninggikan derajat. Sejauh ini slogan itu masih tampak kopong jika yang dibanggakan adalah mahasiswanya, atau pun mahasiswa yang hendak membanggakan kampusnya.
Kampus bukanlah perusahaan kosmetik yang bersikeras memvalidasi dirinya sendiri dengan mendempul citra sebagai yang terbaik, unggul, berkualitas dan tetek bengek lainnya. Semestinya, kampus adalah mercusuar yang mampu menghalau kapal yang dikelilingi kabut dan gelap menabrak pelabuhan ataupun batu karang.
Kampus seharusnya jauh dari slogan-slogan promosi yang penuh bualan dan minim pembuktian. Sebaliknya, lebih baik hanya bersikap sebagaimana idealnya, dan biarkan seluruh mahasiswanya dan masyarakat di sekelilingnya yang akan mengakui seberapa elok kualitasnya.
Menggembar-gemborkan slogan promosi, hanya akan menjadikan mahasiswa kehilangan identitasnya di masa mendatang. Jadinya, mahasiswa tak ubahnya pelanggan yang membeli ijazah saja pada kampus.
Narasi adalah sumber hidup—ia menghidupi makna, gerakan, moral, dan segala bentuk transformasinya. Narasi tak seharusnya dimatikan, apalagi lenyap begitu saja; ia harus menjadi bangunan aktif yang terus dijaga energinya. Api adalah panas yang bisa merusak, air adalah ketenangan yang menyimpan bahaya—dan mahasiswa adalah gabungan keduanya: tenang dalam diskusi, tapi menghancurkan ketika getir oleh jeritan kaum tertindas. Kampuslah yang menciptakannya.
Tenang dan diammu adalah suatu yang hina bagi rakyat dan bangsa, berteriaklah dengan gagasan—bukan sekadar suara yapping. Berjalanlah dengan penuh kebijaksanaan dan rangkul seluruh elemen untuk menghancurkan bakal-bakal otoritarianisme. Sebab, narasi bukan sekadar cerita, melainkan identitas yang tak boleh pudar.
Penulis: Surya Agritama






