
Pabelan-online.com, UMS – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) baru saja meluncurkan Majalah PABELAN edisi kedua di Lapangan Griya Mahasiswa UMS pada Senin, 1 Desember 2025. Edisi kali ini mengangkat isu peran perempuan sebagai pewaris Budaya.
Dalam sambutannya, Redaktur Pelaksana Majalah PABELAN, Alifa Raiha menjelaskan isu “Perempuan Pewaris Budaya” diangkat karena minimnya apresiasi masyarakat terhadap perempuan, meskipun merekalah yang menghadapi beragam persoalan dan mewarisi budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Tidak sedikit yang kita temukan, mereka dihadapkan oleh tantangan ekonomi. Tentunya yang teman-teman perempuan lebih paham ya,” tuturnya, Senin (1/12/2025).
Pemimpin Redaksi LPM Pabelan, Aqil Adhitya memberikan sambutan dengan memaparkan peran pers mahasiswa untuk tetap bersikap kritis. Aqil juga menyoal sejauh mana pemahaman persma terhadap identitas bangsa.
“Sebagai persma, sudah sejauh mana kita menyorot atau menghargai sosok-sosok yang ada di balik kebudayaan, yaitu perempuan?” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Acara ini turut menghadirkan dua tokoh dari komunitas perempuan untuk membedah isu “Perempuan Pewaris Budaya.” Acara ini mengundang Vera Kartika Giantari dari Komunitas Jejer Wadon dan Suwarsi Moertedjo dari Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo sebagai pembicara utama.
Moertedjo menerangkan bahwa jamu memiliki sejarah panjang untuk menjadi ikon budaya. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya dalam membantu para pelaku usaha jamu di pasar Nguter yang dulunya kumuh hingga kini bisa menarik wisatawan mancanegara. Pasar Nguter, kini menjadi satu-satunya pasar jamu di Indonesia.
“Kebetulan waktu itu kita ada Musda di Semarang, kita ketemu dari Kementerian Perekonomian, waktu itu menteri Bapak Hatta Rajasa, lalu apa stafnya bilang, apa yang perlu kita bantu, perlu ada pasar jamu. Satu-satunya pasar jamu di Indonesia di Pasar Nguter. Alhamdulillah,” pungkasnya.
Ia juga menyinggung kendala utama yang dihadapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), yakni perizinan yang rumit, mulai dari kebutuhan apoteker hingga izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Regulasi ini dianggap memberatkan, sehingga ia mendorong adanya kelonggaran seperti PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) bagi minuman segar seperti beras kencur dan kunir asem.

Pembicara dari Jejer Wadon, Vera Kartika menyoroti pentingnya mengkritisi budaya yang diwariskan, terutama dampaknya pada perempuan. Ia menyampaikan, budaya adalah pola hidup yang harus memberikan kebermanfaatan, bukan justru menjadi alat eksploitasi.
“Perempuan sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari laki-laki. Perannya setara, hanya saja bentuk tanggung jawabnya berbeda,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Dalam sesi tanya jawab, Vera juga mengkritisi soal karya budaya yang sering kali diperlakukan sebagai komoditas. Karya budaya yang lahir dari nilai, rasa, dan pemikiran masyarakat, Vera menekankan, perlu dibedakan dengan yang hanya diolah sebagai komoditas industri.
“Karya budaya tidak sama dengan komoditas. Kita pewaris budaya, tapi jangan sampai peran kita sekadar sebagai pagar tanpa memelihara nilai-nilainya,” tegasnya.
Salah satu peserta dari LPM Intuisi, Eka mengatakan, tradisi minum jamu sudah jamak di daerahnya. Namun, ia baru mengetahui bahwa jamu memiliki filosofi dan makna sedalam itu.
“Baru tau kalau ada jenis kayak jamu itu bobokan gitu, terus aku juga baru tau, ternyata yang identik dengan jamu itu perempuan,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Sementara itu, Selvia, salah satu peserta dari LPM Psyche menyampaikan, tema perempuan dan budaya yang menurutnya mulai terlupakan di zaman modern menjadi alasannya hadir di acara ini. Mengingat, kata Selvia, banyaknya budaya Indonesia yang diklaim negara tetangga, orang-orang harus mengenali budaya itu.
“Meskipun orang tua saya itu tidak mengenalkan itu, tapi setidaknya saya harus tahu gimana caranya saya bisa ngajarin ke adik atau generasi selanjutnya,” tuturnya, Senin (1/12/2025).
Reporter: Akmal Muhajir Rayadinata
Editor: Fauziah Salma Anfihar






