Potret anggota Tim Posturely saat awarding YISF. (9/4) Foto: Istimewa

Pabelan-online.com, UMS – Berangkat dari relasi dan rekan lintas program studi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi memenangkan medali emas pada ajang Youth International Science Fair (YISF) pada kategori Innovation Science yang diselenggarakan secara hibrida di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 6–10 April 2026.

Tim Posturely yang beranggotakan lima orang dibimbing oleh dosen Arif Setiawan, terdiri dari Cournicova Afiffah Syailendra dan Yulaihah dari prodi Pendidikan Teknik Informatika, Taqiyyah Nurul ‘Azzah dari Prodi Fisioterapi, serta tiga mahasiswa prodi Teknik Informatika yakni Afrizal Putra Pratama, Fadhil Edya Qashmal, dan Sulthon Kaffaah Al Farizzi.

Salah seorang dari mereka, Sulthon bercerita tentang motivasi tim dalam mengikuti YISF. Ia menjelaskan, timnya melihat pengembangan Posturely ini sejalan dengan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan seperti United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam proses pengembangannya, Sulthon beserta tim menggunakan pendekatan research and development (R&D) sebagai kerangka untuk menyusun tahapan riset, pengembangan, serta evaluasi awal dari inovasi yang dibangun.

Produk yang dibawakan bernama “Posturely” adalah sistem digital berbasis web yang dirancang untuk membantu proses screening postur tubuh anak sejak dini yang memungkinkan pengguna, khususnya orang tua. Prosesnya, pengguna dapat mengunggah foto postur anak, lalu sistem akan melakukan analisis awal dan memberikan hasil skrining yang bersifat objektif serta mudah dipahami. 

“Posturely mengintegrasikan teknologi computer vision dengan pendekatan fisioterapi, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat deteksi awal, tetapi juga mendukung aspek edukasi dan peningkatan kesadaran terkait kesehatan postur anak,” jelasnya.

Setelah timnya lolos tahap pendaftaran dan seleksi proposal, tutur Sulthon, mereka lanjut ke tahap pengembangan atau penelitian secara lebih mendalam, hingga ke tahap paling krusial, yakni memaparkan hasil karya mereka di hadapan dewan juri, baik secara daring maupun luring. Tahap itu diakhiri dengan pengumuman bahwa timnya berhasil meraih medali emas.

Tim Posturely mengungkapkan tantangan yang dihadapi lebih mengenai pada bagaimana memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya kuat dari sisi teknologi, tetapi juga relevan secara klinis dan dapat dipahami oleh masyarakat umum. Tidak hanya itu, Sulthon menyampaikan, proses pengembangan dalam waktu yang terbatas juga menjadi kendala bagi tim. Selama proses pengerjaannya, ia dan tim mendapatkan berbagai masukan, terutama terkait penguatan validasi, pengembangan fitur, serta potensi implementasi ke depan.

“Harapannya, melalui langkah kecil ini, inovasi yang kami kembangkan dapat terus disempurnakan dan ke depan bisa memberikan kontribusi yang lebih luas, baik dalam konteks edukasi maupun skrining kesehatan sejak dini,” ungkapnya.

Kepada mahasiswa lain, Sulthon berpesan untuk tidak ragu dalam mencoba dan tidak menunggu sempurna untuk melangkah. Ia menyarankan untuk terbuka terhadap kolaborasi karena banyak solusi yang berdampak lahir dari pertemuan berbagai perspektif, bukan hanya dari satu bidang saja.

“Your impact starts with one brave step. Make it meaningful, make it genuine, make it pure. Because from sincerity comes benefit, and from benefit, true impact is born (“Kesuksesanmu dimulai dengan satu langkah yang berani. Buatnya bermakna, jujur, dan penuh keaslian. Karena dari keaslian, muncul manfaat, dan dari manfaat, dampak yang sejati lahir -red),” katanya.

Reporter: Najwa Putri Zaliyanti

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar