Baso Muh Wahidin

Selembar asturo yang dipenuhi ungkapan para mahasiswa baru terhadap kondisi pemerintahan saat ini. (13/9) Foto: Muhammad Farhan

Kamis kemarin, kami datang ke Ekspo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMS dengan tujuan yang sebenarnya cukup sederhana: menggaet anggota baru. Ekspo adalah rangkaian terakhir masa ta’aruf (masta) mahasiswa baru. Setelah sederet acara selesai, mereka diarahkan untuk berkeliling melihat stan UKM dan organisasi mahasiswa (ormawa) yang berjejer di sekitar Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS.

Seperti stan-stan lainnya, LPM Pabelan tentu tidak mau kehilangan kesempatan. Berbagai cara kami tempuh agar mahasiswa baru sudi mampir dan melihat-lihat, syukur-syukur tertarik bergabung. Namanya juga usaha, segala macam cara boleh saja dicoba.

Salah satu ide yang muncul dari teman-teman cukup sederhana. Kami menyediakan sticky note (kertas catatan tempel berwarna berukuran 3 × 3 inci) dan pulpen, lalu meminta mahasiswa baru menuliskan satu kata atau kalimat tentang kondisi Indonesia hari ini atau untuk pemerintah.

Terus terang, awalnya saya tidak terlalu berekspektasi banyak. Paling hanya beberapa orang yang sudi menuliskan karena baru masuk kuliah dan mungkin belum terlalu melek dengan politik. Saya membayangkan, mereka akan lebih sibuk mencari UKM sesuai hobinya, mengambil foto di stan untuk tugas, atau sekadar berkeliling karena penasaran.

Ternyata, saya keliru. Makin lama, makin banyak yang datang. Satu orang mengambil sticky notes, kemudian datang lagi beberapa orang setelahnya. Pulpen berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, sementara stan kami mulai penuh dengan kertaskertas kecil itu. Kami sempat kehabisan dan meminta mereka menulis di spanduk menggunakan spidol, sebelum akhirnya menyetok sticky notes lagi.

Ada yang menulis pendek, panjang, dan ada pula yang hanya menuliskan satu kata. Beberapa bahkan menulis dengan huruf besar-besar sampai sticky notes itu tidak muat untuk menampung keresahan mereka. Saya mulai memunguti yang berjatuhan karena saking banyaknya, dan memperhatikan satu per satu tulisan tersebut. Di situlah saya sempat terdiam.

Ada yang kasar, ada yang sarkastis, ada yang sinis, tetapi ada pula yang memilih bahasa lebih halus. Spanduk pembatas kami seketika penuh dengan makian, nama-nama binatang, dan kosa kata apa punyang tidak senonoh. Meski pilihan katanya berbeda-beda, kalau semua itu disisihkan, ada benang merah yang kurang lebih sama: mereka resah.

Rupanya mereka, para mahasiswa baru itu, juga memperhatikan keadaan negeri ini. Mereka punya penilaian terhadap pemerintah: marah, kecewa, dan beberapa di antaranya bahkan mampu mengungkapkan keresahan itu dengan kalimat yang teramat frustrasi.

Saya tak menyangka akan menemukan pemandangan seperti itu dari mahasiswa yang baru saja meninggalkan bangku SMA. Saking seringnya mendengar anggapan bahwa anak muda, terutama generasi yang hari-harinya tumbuh bersama linimasa media sosial, makin apatis terhadap politik karena politik dianggap terlalu rumit, terlalu jauh (baca: tidak menapak), terlalu membosankan, bahkan menjijikkan bagi mereka.

Saya sendiri mungkin pernah memiliki prasangka yang kurang lebih sama. Saya kira mahasiswa baru akan lebih tertarik pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari seperti bertamasya, pacaran, pamer, nongkrong, daripada memikirkan keadaan negara dan menuliskan sesuatu tentang pemerintah.

Tetapi sticky notes kecil itu membuat saya mempertanyakan anggapan tersebut. Mungkin kitaterlalu buru-buru memberi anggapan bahwa anak muda hari ini apatis hanya karena kita tak melihat cara mereka menunjukkan kepedulian.

Mereka tidak datang ke stan kami untuk mengikuti diskusi politik, pun tidak ada forum yang mengharuskan mereka menyampaikan pendapat di depan banyak orang. Hanya ada sticky notes, pulpen, dan satu pertanyaan sederhana. Namun, dari wadah sesederhana itu, mereka bisa mengeluarkan keresahan mereka.

Saya jadi teringat sesuatu yang pernah disampaikan Eko Prasetyo—salah satu orang yang banyak mengajarkan saya tentang gerakan sosial dan politik. Kurang lebih katanya, akan selalu ada generasi baru yang datang dengan keresahan yang sama. Ketika mendengarnya dulu, kalimat itu terasa seperti sebuah gagasan yang menarik, dan kemarin, saya seperti melihat sendiri maksud perkataannya.

Bocah-bocah yang beberapa bulan lalu masih berseragam putih abu-abu itu sekarang berdiri di depan stan kami, mengambil pulpen, lalu menuliskan keresahannya tentang Indonesia. Mereka mungkin baru pertama kali menginjak kampus sebagai mahasiswa, tetapi itu bukan berarti mereka datang tanpa perhatian terhadap apa yang terjadi di luar lingkungan kampus.

Bagi saya, yang menarik dari kejadian kemarin bukan soal apakah semua tulisan itu benar atau apakah semua mahasiswa baru memiliki pemahaman politik yang sama. Saya juga tidak bisa menyimpulkan bahwa satu kegiatan di sebuah stan membuktikan seluruh anak muda tidak apatis.

Namun, setidaknya, saya telah melihat sesuatu yang sering luput dari pandangan kita: keresahan itu ada. Ia muncul dari anak-anak muda yang baru saja memasuki dunia perkuliahan, bahkan ketika kami sendiri sempat mengira mereka acuh tak acuh.

Saya tidak tahu ke mana sticky notes itu akan berakhir setelah Ekspo selesai. Mungkin akan ditempel di papan, difoto, dibaca orang lain, atau beberapa hari kemudian sudah dilupakan oleh penulisnya.

Namun, saya pulang dengan satu kesan yang masih terbawa sampai malam ini. Kita mungkin tidak selalu menyuarakannya dengan cara yang sama. Tetapi kemarin, dari sticky notes kecil itu, kita merasakan hal yang sama: kita sudah resah dan muak

Penulis: Baso Muh Wahidin

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar