
“Bravo, bravo, bravo!” Begitu batin saya ketika sebuah video perkenalan mahasiswa baru Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, tepatnya masa ta’aruf (masta) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan, melintas di linimasa saya. Akun Instagram lambe turah UMS, alias @dpn.ums rupanya telah memposting ulang setidaknya empat video yang ada di Story mereka. Ada yang memamerkan mobil, ada pula yang memamerkan segepok duit.
Sontak unggahan itu “dirujak” oleh @dpn.ums dan banyak pengikutnya. Yang biasanya saya acuh tak acuh dengan unggahan @dpn.ums, kali ini saya cenderung di pihak yang sama. Memang sangar betul maba-maba Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 2026 ini.
Tapi, apalah hak saya ikut merujak. Sebagai orang ndlosor yang lebih rela mengantre Pertalite mengular sampai pinggir jalan ketimbang beli Pertamax, membeli mobil lalu memamerkannya ke media sosial adalah hal yang utopis bagi saya. Apalagi memamerkan duit yang berserakan begitu—bagaimana ceritanya? Dompet saya saja bahkan tak pernah penuh terisi.
Turut merujak atau mencaci maki pun rasanya bukan hal yang bijaksana. Barangkali lebih baik mencoba memahami mereka: ada kemungkinan mereka hanya ingin berbagi kebahagiaan, meningkatkan engagement (dan itu terbukti works) yang nantinya dapat memancing brand-brand menawarkan endorsement, atau sekadar ingin orang tahu bahwa memiliki mobil dan duit segepok itu sungguh bisa memberi lonjakan dopamin yang luar biasa membahagiakan diri.
Namun, jawaban paling akurat hanya bisa diperoleh dari mereka sendiri. Ketimbang mencak-mencak, mending tanyakan saja di kolom komentar mereka: apa tujuan yang ingin kalian capai dari tugas video perkenalan dengan balutan flexing begitu? Kalau haus validasi, rasanya tidak kurang-kurang mereka meraup pujian. Yah, Apa boleh buat? Bersyukur dan rendah hati bukanlah skill yang bisa diindahkan semua orang.
Omong-omong konten pamer, menyaksikan model video perkenalan seperti itu membuat ingatan saya melayang ke para pejabat-pejabat korup. Seperti Rafael Alun Trisambodo, misalnya—nama mantan pejabat eselon III Ditjen Pajak Kemenkeu itu meledak ke publik pada Februari 2023. Gara-gara tingkah anaknya, Mario Dandy Satriyo, tersandung kasus penganiayaan, terkuaklah kebiasaannya pamer Jeep Wrangler Rubicon dan moge Harley Davidson di medsos.
Warganet pun penasaran, dari mana duit sebanyak itu bisa dimiliki bocah kemarin sore? Ditelusurilah harta sang ayah lewat LHKPN: angkanya tembus Rp56 miliar. Uang sebanyak itu cukup untuk membuat Gonilan lengket jika dibelikan Papeda. Jomplang betul dibanding gaji pejabat eselon III biasa. Rafael pun dicopot dari jabatan, dipecat sebagai ASN, lantas diseret ke meja hijau. Pengadilan Tipikor pun menjatuhkan vonis 14 tahun penjara plus kewajiban membayar uang pengganti lebih dari Rp10 miliar. Mentang-mentang kerjanya urus pajak, bayar pajak sendiri pun ogah.
Bukan bermaksud menuduh mobil dan duit segepok mereka hasil korupsi. Tentu saya tak punya bukti soal itu. Yang jadi soal bukan dari mana duitnya, melainkan bagaimana cara mempertontonkannya. Kasus serupa, seperti istri-istri pejabat yang doyan pamer, barangkali juga kerap mencuat belakangan. Polanya sama: pamer dulu, ketahuan kemudian. Bedanya, kalau pejabat yang pamer, yang menanggung akibatnya bisa dijebloskan ke penjara. Kalau maba yang pamer, paling banter hanya jadi bahan rujakan warganet semalam, lalu dilupakan esok hari begitu ada drama baru. Entah mana yang lebih menyedihkan.
Belum pasti menghasilkan manfaat baik materi maupun nonmateri, konten flexing justru rentan menyeret pelakunya pada jurang keapesan. Agaknya, menjadi mahasiswa baru yang rendah hati adalah pilihan paling aman dan tak membuat orang jengkel.
Mengingat tak semua mahasiswa mampu menahan diri untuk tidak dengki, atau mudah ter-trigger oleh konten pamer, wajar kalau mereka kaget. Bisa-bisanya konten perkenalan masta IMM isinya seperti iklan rokok. Jangan-jangan malah ada yang sampai syok, bahkan insecure bergaul dengan mahasiswa UMS, karena tak menyangka video perkenalan bisa segitunya hedonnya.
Kita, termasuk rektorat maupun kemahasiswaan, tahu betul kampus Muhammadiyah ini tidak sedikit pun mencontohkan akhlak semacam itu. Yang diajarkan kepada kita barangkali justru bagaimana beratnya hisabnya di akhirat kelak. Barangkali ini adalah tantangan berat bagaimana memahamkan pada mereka soal empati, kesadaran kelas, kemanusiaan, hingga kepedulian sosial dalam mendidik mereka.
Selain itu, kelak mereka, akan tahu jika pamer juga berisiko dihadang oleh dirjen pajak. Jangankan beradab, orang cerdas saja sangat berhati-hati melindungi aset kekayaannya, alih-alih mengumbarnya di media sosial. Dari situ sebetulnya kualitas adab dan kecerdasan mereka bisa dengan mudah dinilai.
Budaya yang masih dilegitimasi dan sah di lingkungan kampus barangkali adalah pamer prestasi atau pengetahuan yang luas. Misalnya bermasturbasi pengetahuan padahal baru tahu seuprit (baca: Dunning-Kruger Effect), memakai bahasa yang melangit saat berdiskusi soal pergerakan dan segala idealismenya. Atau mencoba mendebat dosen.
Atau jangan-jangan budaya pamer wawasan khas mahasiswa, walaupun agak tengik, sepertinya memang sudah semundur itu? Ideologi mahasiswa seperti yang dulu-dulu itu, seperti jiwa aktivis yang berkobar-kobar, sepertinya memang sudah musnah. Rupanya kualitas mahasiswa UMS hanya sampai di sini.
Persoalan membuat video perkenalan sebenarnya sangat sepele: bolehlah dibuat selucu, seabsurd, dan se-nyeleneh mungkin. Tapi kalau maksud kreatif ujungnya dimaknai flexing begini, selain tak membawa manfaat, ini juga tak pantas diapresiasi. Kalau ujungnya cuma menimbulkan kedengkian, publik pun sepertinya keberatan menerima konten perkenalan semacam ini. Ketimbang pura-pura tak tahu, bolehlah BEM, DPM, IMM, atau Kemahasiswaan untuk mengambil sikap soal ini. Kecuali jika, hal semacam ini memang tak terlalu penting untuk digubris.
Penulis: Pengguna Pertamax yang pindah ke Pertalite





