LPM Pabelan

Moderator diskusi Herlina Damayanti dan Pemantik dari Social Movement Institute (SMI) Eko Prasetyo tengah menjadi pembicara dalam Diskusi Publik di Hall FHIP UMS. (8/11) Foto: Muhammad Iqbal

Pabelan-online.com, UMS – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan menghadirkan Pendiri Social Movement Institute (SMI) Eko Prasetyo sebagai pemantik dalam diskusi publik (Dispub). Diskusi yang diselenggarakan di Hall Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu, 8 November 2025, itu membahas bagaimana pergerakan anak muda, khususnya mahasiswa saat ini di era digital. 

Eko memantik diskusi dengan cerita di tahun 1921-an. Kala itu, Solo pernah dikenal dengan gerakan politik yang radikal. “UMS punya sejarah heroik. Banyak tokoh penting muncul dari Solo,” kata Eko tegas di depan para peserta diskusi, Sabtu, (08/11/2025).

Kampus hari ini, kata Eko, mahal, menindas, dan kehilangan integritas. Eko mengatakan orientasi kampus makin komersial, makin politis, dan kebebasan akademiknya makin menyempit. Di kampus negeri di Yogyakarta seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), ia dilarang menggelar diskusi. 

“Semua kegiatan SMI tidak dibolehkan di sana,” ujarnya.

Ciri gerakan anak muda di era ini adalah menjadikan media sosial sebagai senjata karena itu merupakan alat propaganda yang paling gampang. Dulu, propaganda hanya bisa dilakukan lewat buku. Sekarang, di medsos, ujarnya, pesan lebih agitatif, taktis, dan berbahaya. 

Meski metodenya banyak, aksi demonstrasi jalanan tetap menjadi idola bagi anak muda. “Kalau kekuasaan gampang diingatkan, kita nggak perlu demo. Sayangnya DPR kita bukan kayak gitu,” ucapnya.

Selain itu, tuntutan politik anak muda juga makin radikal. Mereka juga memiliki jejaring yang luas. Eko bercerita bahwa dulu hanya ada empat titik aksi potensial, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Solo. “Sekarang Kediri, Magelang, kota-kota kecil, yang sampai bakar-bakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bagaimana dunia politik saat ini kehilangan ide segar dan gagasan dalam membuat kebijakan. Misalnya, kurikulum merdeka yang membuat anak muda takut dengan masa depan. Namun, meski dihancurkan harapannya, tetap masih ada yang mau berorganisasi. 

“Selalu ada energi untuk ikut dalam gerakan,” ucap Eko menyemangati.

Salah satu peserta Dispub asal Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Brain Al Fikri mengatakan sudah sepatutnya mahasiswa menjadi pelopor membentuk Indonesia lebih maju dan melek terhadap dunia pergerakan. 

Berawal dari diskusi seperti ini, pengadvokasian sangat manjur diterapkan kepada mereka yang minim literasi politik. Cara itu mampu melakukan mitigasi dan framing media terkait isu sosial agar menjadi relevan bagi masyarakat.

“Contohnya materi Pak Eko tadi, SMI akan melaksanakan lari maraton, tapi temanya itu ‘Mengejar Keadilan’. Artinya menjadi dua makna antara sehat (tubuh –red) dan negara yang sehat,” kata Brain, Sabtu, (08/11/2025).

Ke depannya, Brain berharap diskusi antar mahasiswa terkhusus UMY dengan UMS dapat berjalan dengan masif dan mampu mengelola media demi kepentingan bersama. Menurutnya, ruang publik akan membangun kemampuan kognitif dan analisis terhadap isu yang semakin hari kian menumpuk. 

“Menurut saya sendiri gunanya diskusi, agar betul-betul menyatukan satu pandangan, arah, dan gerak yang sama untuk menciptakan Indonesia yang kita mau, yang seharusnya terjadi,” tuturnya.

Peserta dispub lain dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, Aryawan menyebut tema isu era digital berkaitan dengan komunitas yang ia tekuni beberapa waktu lalu, Album Perlawanan, berhasil dilirik kepolisian. Hal itu, secara signifikan menjadi bukti suksesnya mengagitasi masyarakat dengan jumlah kurang lebih 2.000 followers melalui sosial media.

Aryawan mengaku bahwa penyampaian materi dari Eko Prasetyo selalu optimis dan meningkatkan motivasi kepada anak muda, bahkan di suasana yang mencekam sekalipun. Bahwa mitigasi bisa dilakukan sambil bergerak tanpa rasa takut, baik melalui media sodial maupun di lapangan.

“Bergerak atau bersuara itu tidak selamanya dengan fisik yang harus hadir. Tapi dengan kita mengetik, bersuara, komen, repost (memposting ulang –red) hal yang mendukung keadilan bersuara dan sebagainya itu bentuk respons diri kita terhadap kondisi negara saat ini,” ujarnya, Sabtu, (08/11/2025).

Reporter: Aisyah Nur Afifah & Muhammad Farhan

Editor: Aqill Adhitya

Also Read

Tinggalkan komentar