LPM Pabelan

Di tengah gemerlapnya Malioboro yang selalu diramaikan oleh wisatawan, terdapat kisah perjuangan sosial yang jarang diketahui. Pada era 1980-an, kawasan ikonik Yogyakarta ini menjadi saksi lahirnya sebuah komunitas transpuan yang berani melawan diskriminasi dan stigma sosial.

Setiap malam Minggu, pada sudut Malioboro, stasiun kereta, dan alun-alun menjadi ruang pertemuan bagi mereka yang dikenal sebagai wadam (Hawa Adam) atau wandu, istilah lokal untuk transpuan.

Kaum transpuan saat itu hidup di bawah tekanan sosial yang berat. Mereka kerap menerima tatapan sinis, cibiran, hingga pengucilan. Namun, di tengah keterasingan itu, muncullah sosok yang menyatukan mereka: Mami Topo.

Mami Topo, seorang transpuan senior yang dihormati, mempelopori pertemuan-pertemuan transpuan di Yogyakarta. Melalui kepemimpinannya, komunitas ini tumbuh menjadi ruang solidaritas dan perlindungan dari tekanan sosial.

Mereka kemudian membentuk sebuah komunitas bernama Gado-Gado Wadam di bawah kepemimpinan Yoyok Aryo. Komunitas ini menjadi tempat berbagi cerita, mencari dukungan, dan memperkuat solidaritas.

Seiring waktu, Gado-Gado Wadam bertransformasi menjadi sebuah yayasan formal bernama Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA). Yayasan ini menyediakan berbagai layanan seperti shelter untuk penyintas Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), tempat tinggal bagi transpuan lansia melalui Waria Crisis Center (WCC), hingga pondok pesantren khusus transpuan, Al-Fattah.

Pada Kamis malam, 5 Oktober 2024, reporter pabelan-online.com berkesempatan mewawancarai Rully, seorang transpuan paruh baya yang aktif di Women’s Crisis Center (WCC).

Rully menjelaskan WCC saat ini menampung lima transpuan lansia. Sementara itu, KEBAYA, yang telah beroperasi selama 17 tahun, menjadi shelter bagi penyandang HIV yang tak memiliki keluarga atau penghasilan. Di tempat ini, mereka bisa hidup lebih aman meskipun menghadapi tantangan masa tua yang berat, termasuk ketidakpastian akan tempat pemakaman.

Di tengah tekanan sosial dan ekonomi, Rully menegaskan bahwa banyak transpuan bekerja keras untuk bertahan hidup. Profesi seperti pekerja seks komersial (PSK), pengamen, atau perias pengantin sering menjadi pilihan karena sulitnya akses pekerjaan lain. Namun, ketika mereka memasuki usia tua atau sakit, kehidupan menjadi semakin sulit.

“Banyak dari kami yang putus hubungan dengan keluarga. Komunitas ini menjadi tempat aman dan wadah pemberdayaan,” ungkap Rully.

Rully juga menceritakan sulitnya hidup sebagai transpuan di Indonesia. Mereka bisa merasakan cinta, tetapi tak diakui secara hukum. Diskriminasi kerap terjadi, mulai dari ejekan hingga kekerasan.

Ia mengingat periode kelam antara tahun 2000 hingga 2008, ketika kaum transpuan sering menjadi sasaran kekerasan oleh organisasi seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Front Jihad Islam (FJI). Peristiwa ini dipicu oleh media yang menampilkan transpuan secara negatif.

“Mereka belum punya perspektif yang baik saat itu, sehingga situasinya sangat mencekam,” jelas Rully.

Rully mengenang serangan brutal terhadap seminar nasional yang melibatkan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan pembicara dari Leiden University. Salah satu pembicara dari Belanda kehilangan paspor dan barang-barangnya, serta mengalami trauma mendalam akibat kekerasan tersebut.

“Sampai sekarang, dia masih trauma dan tidak mau kembali ke Indonesia,” tutur Rully.

Rully menambahkan bahwa, komunitas ini juga menjadi tempat perlindungan bagi mahasiswa yang mengalami diskriminasi. Ia menceritakan seorang mahasiswa yang berhenti kuliah selama tiga tahun akibat insiden di toilet kampus dan mendapat bully dari teman-temannya.

“Kami memiliki jaringan dengan psikiater dan profesor yang memberikan layanan konseling secara pro bono (Layanan secara gratis – red) untuk mereka yang mengalami kekerasan,” ujar Rully.

Berkat dukungan ini, banyak mahasiswa yang sempat terhenti pendidikannya kini dapat kembali melanjutkan kuliah. Beberapa bahkan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, seperti di Australia atau Belanda, karena merasa lebih aman dan diterima dibandingkan di lingkungan kampus di Indonesia.

Mengenai anggapan bahwa transpuan memiliki kelainan psikis, Rully menyampaikan pandangannya. Sejak kecil, ia telah menyadari perbedaan dalam dirinya, terutama kecenderungan feminim yang muncul secara alami.

“Pandangan saya sejak kecil memang berbeda, tapi ini bukan kelainan, melainkan bagian dari siapa diri kami,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia masih didominasi oleh perspektif heteronormatif, yang menempatkan transpuan dalam posisi tidak setara sejak awal.

“Perspektif ini membuat kami rentan terhadap penghakiman. Budaya heteronormatif dibangun di atas konsep binaritas, terutama dalam lingkungan patriarki yang didominasi oleh relasi kuasa laki-laki,” jelas Rully.

Lanjutnya, Rully memaparkan komunitas seperti KEBAYA hadir untuk menciptakan ruang aman, melindungi mereka dari persekusi yang kerap terjadi, terutama di lingkungan pemerintahan.

“Kami butuh tempat untuk merasa aman dan dihargai sebagai manusia. Terutama mereka yang tidak memiliki keluarga, kami sebagai komunitas akan memastikan mereka dimakamkan dengan layak, sehingga tidak ada yang terlantar,” tandasnya.

Abby, seorang mahasiswa tingkat akhir di Yogyakarta yang mengidentifikasi dirinya sebagai queer, menyampaikan pandangannya mengenai kehadiran komunitas seperti KEBAYA. Dalam wawancara bersama pabelan-online.com, Abby menyatakan rasa syukurnya atas peran KEBAYA dalam merawat dan mendukung kaum transpuan yang termarjinalkan.

“Menurut saya, komunitas seperti ini sangat membantu kaum queer, terutama karena masyarakat kita masih diskriminatif. Banyak orang yang tidak berani come out karena takut dihakimi,” ujar Abby, Rabu (20/11/2024).

Sebagai bagian dari seorang queer, Abby memahami betul tantangan sosial yang dihadapi. Ia berbagi kisah tentang perjalanan pribadinya dalam memahami identitasnya.

Abby sering merasa terjebak dalam stereotip mengenai penampilan yang dianggap “seharusnya”, salah satu contohnya adalah ekspektasi bahwa dirinya harus terlihat lebih feminin. Namun, cara Abby berpenampilan sering kali memunculkan pandangan tertentu dari orang lain.

“Dulu, saya sempat kepikiran dan merasa tidak nyaman karena pandangan-pandangan seperti itu. Tapi seiring waktu, saya mulai bisa menerima diri saya sendiri,” ungkap Abby.

Cerita berbeda datang dari seorang mahasiswa berinisial A Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang menyadari identitas dirinya saat berada di lingkungan pesantren.

“Awalnya, saya masuk pesantren karena keinginan orang tua agar lebih religius dan disiplin. Tapi ternyata, lingkungan pesantren justru membuka sesuatu yang berbeda dalam diri saya,” ujar A, Rabu (20/11/2024).

Meski merasa nyaman dengan teman-temannya yang memiliki pengalaman serupa, A mengungkapkan bahwa ia sering merasa was-was. Ia menjelaskan bahwa pesantren tempatnya tinggal cukup ketat dalam menerapkan norma dan ajaran agama.

Namun, selama ia dan teman-temannya menjaga batas-batas dan tidak menunjukkan identitas mereka secara terang-terangan, biasanya tidak ada masalah besar yang muncul.

“Di luar pesantren, dunia nyata lebih keras. Kalau di pesantren orang masih berusaha jaga rahasia, di luar nggak segan-segan nge-judge,” ungkapnya.

Baik Abby maupun A berharap Indonesia ke depannya menjadi negara yang lebih terbuka dan menerima keberagaman identitas gender dan orientasi seksual. Mereka ingin hidup di dunia yang lebih damai, di mana mereka tidak lagi merasa takut atau terbebani oleh pandangan masyarakat.

“Kami ingin hidup tanpa rasa takut dan diterima apa adanya,” pungkas Abby.

Reporter: Ferisa Salwa Adhisti dan Muhammad Farhan

Editor: Bagas Pangestu

 

 

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar