
Pabelan-online.com, UMS – Setelah delapan tahun perencanaan, pembangunan gedung baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kini hampir selesai. Sebagian gedung lama dibongkar untuk menyesuaikan wajah baru kampus dan menjadi area hijau dan lahan parkir.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Muzakar Isa menyebut pembongkaran Gedung FEB lama berangkat dari masalah kekurangan ruangan. Ia mengatakan Gedung FEB baru itu sudah dirintis sejak tahun 2017 dan baru terealisasi di tahun ini. Keputusan itu, kata Isa, diambil oleh Badan Pembina Harian (BPH) dan rektorat.
“Pembangunan Gedung FEB ada di lahan parkir FEB. Karena dibangun di lahan parkir dan menghadap ke utara, maka gedung yang lama posisinya adalah sudah tidak kuat lagi, tidak kokoh lagi,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Kamis, (2/10/2025).
Ia menyatakan bahwa gedung lama tidak dirobohkan seluruhnya untuk peremajaan wajah gedung. Di sisi lain, posisi wajah gedung baru juga tidak maksimal jika masih ada bangunan gedung lama di depannya.
“Gedung yang lama itu sebagian dialihfungsikan. Setengah digunakan untuk zona hijau dan lahan parkir, setengah lagi tetap digunakan. Hanya 50%. Yang 50% itu diperbaiki,” kata Isa.
Target penyelesaian proyek itu ditetapkan pada akhir Oktober 2025 sesuai kontrak yang berlaku. Isa mengungkapkan bahwa secara teknis, gedung sudah hampir bisa digunakan, tetapi pihaknya menunggu penyelesaian beberapa aspek keselamatan kerja.
“Sebenarnya sudah bisa dipakai, cuma masalahnya kita menghormati kontrak. Masalahnya kita pakai sekarang ada etika K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja -red) yang belum selesai,” tuturnya.
Isa juga menyebut, secara ekonomi, keputusan pembangunan gedung baru sudah melalui pertimbangan matang antara biaya dan manfaat jangka panjang. Menurutnya, dari sisi perhitungan, membangun baru lebih efisien daripada memperbaiki seluruh gedung lama yang rapuh.
“Ketika dirobohkan semua, kami dapat sekian miliar. Tapi kalau direhabilitasi penuh sampai 30 miliar. Logikanya pilih mana? Dari sisi ekonomi, bangunlah,” tambahnya.
Kepala pengawas lapangan pembongkaran Gedung FEB, Basuki, mengatakan tugasnya hanya meratakan bangunan sesuai instruksi pihak kampus. Ia menilai, secara fisik, gedung lama sebenarnya masih cukup kuat, tetapi sebagian harus dibongkar untuk menyesuaikan rencana pembangunan baru.
“Di sini kan saya bongkar tok, yang bangun itu. Nah, di sini bangunan masih bagus,” ujarnya sambil menunjuk bangunan yang tidak dirobohkan, Kamis, (2/10/2025).
Menurut Basuki, beberapa bagian seperti kayu dan besi diambil untuk didaur ulang atau dijual kembali, sedangkan fondasi bawah ikut dikeluarkan agar lahan siap digunakan. Ia menjelaskan bahwa semua proses dilakukan sesuai permintaan pihak kampus.
“Nanti kalau ada cakar ayam (fondasi -red) yang masih, kan tidak bisa dibangun lagi,” tuturnya.
Selain itu, ia menyebut jumlah biaya pembongkaran mencapai sekitar 10 juta rupiah per harinya, yang mencakup tenaga kerja dan peralatan berat yang digunakan. Proses ini, kata dia, sudah berlangsung sekitar tiga minggu dan ditargetkan akan segera rampung.
“Pokoknya sehari total buat kita itu, tenaga sama alat-alatnya sekitar 10 juta,” katanya.
Reporter: Mg. Akmal Muhajir Rayadinta & Syahera Nursita Azzahra
Editor: Herlina Damayanti





