Muhammad Farhan

Penemuan mayat perempuan di atas kap mobil yang terparkir di tengah hutan menggemparkan seisi Dahlonega, ibu kota Lumpkin County. Paginya, Jack Harper (Jon Bernthal), detektif Lumpkin yang berpengalaman, kesulitan mengusut kasus tersebut. Hujan semalaman menghapus banyak jejak sehingga penyelidikan tersendat.

Jasad perempuan itu adalah Rachel Hopkins (Jamie Tisdale), yang tewas mengenaskan dengan 40 luka tusukan di tubuhnya. Dari hasil forensik, dokter Turner (Rhoda Griffis) menemukan bahwa Rachel meninggal karena kehabisan darah. Kukunya terpotong, juga ditemukan sperma baru dalam jumlah banyak. Entah dibunuh sebelum atau sesudah disetubuhi, menurut instingnya, pembunuh Rachel adalah orang yang sama dengan yang berhubungan seksual dengannya.

Di sisi lain, Anna Andrews (Tessa Thompson), news anchor yang lama menghilang dari media nasional, kembali muncul di WSK-TV. Ia dikirim pulang ke kota masa kecilnya, Dahlonega, Georgia, untuk meliput kasus pembunuhan di sana. Demi kariernya, penugasan itu memaksa Anna menghadapi masa lalunya yang kelam. Di tempat kejadian perkara (TKP), ia bertanya kepada Harper, “Kau mengenal perempuan itu?” Dari sanalah segala kerumitan ini dimulai.

His & Hers adalah serial terbatas Netflix berisi enam episode yang tayang pada awal 2026. Disutradarai William Oldroyd dan diadaptasi dari novel Alice Feeney yang terbit enam tahun lalu, serial ini punya semua yang dibutuhkan kisah kriminal yang memikat: pembunuhan mengerikan, penyelidik yang punya hubungan pribadi dengan korban, latar yang tegang dan tragis, perselingkuhan yang menghebohkan, hingga chemistry yang penuh gairah.

Penyelidikan pembunuhan biasanya bertumpu pada motif untuk menemukan pola yang mengarah ke pelaku. Cara lainnya adalah memetakan orang-orang di sekitar korban, lalu menyusun deduksi alibi orang terakhir yang berada di TKP. Dua cara itu tidak berlaku di sini.

Jika Anda hanya mencurigai orang berdasarkan motif, kepentingan, masalah, atau kedekatan saja, Anda tak akan pernah bisa menebak pelakunya. Motif pembunuhan justru jauh mundur ke belakang, ke masa lalu masing-masing tokoh. Itulah yang membuat plotnya sangat sulit ditebak.

Perselingkuhan hanyalah jebakan yang membuat penonton mudah menyimpulkan motif pembunuhan lantas menjatuhkan tuduhan kepada masing-masing tokoh, padahal clue itu justru tak membocorkan siapa pelaku yang sesungguhnya sedikit pun. Akibatnya, perhatian penonton hanya berkutat pada beberapa tersangka: Harper sang detektif, Anna yang merupakan sahabat korban, Lexy (Rebecca Rittenhouse) yang menjadi pesaing Anna di kantor, dan Clyde Duffie (Chris Bauer), suami Rachel yang konglomerat.

Harper sendiri sudah mencurigakan sejak awal. Alibinya lemah, perangainya angkuh dan mudah marah, dan gerak-geriknya penuh dengan keganjilan. Namun, betapa pun menjadi tersangka, ia tampak tak punya kepentingan untuk membunuh Rachel. Sepanjang cerita, Harper sejatinya hanya mencari cara agar terbebas dari kasus ini.

Anna, yang baru kembali muncul di media, memiliki sederet pertimbangan saat meliput kasus itu. Mulai dari kelanjutan kariernya, masa lalunya yang kelam, pertemanan, hingga ibu yang terus merindukannya karena tak pernah pulang. Mau Anna maupun Harper, keduanya sama-sama memiliki masa lalu yang intim, serta sejarah yang rumit dengan perempuan yang dibunuh, Rachel Hopkins.

Keduanya juga sama-sama kuat. Sifat Harper yang temperamental, grusah-grusuh, dan ceplas-ceplos saat berbicara, justru bisa diimbangi oleh Anna yang dingin dan menohok. Meski detektif dan news anchor itu tak pernah akur, mereka tetap memiliki chemistry saat berhubungan seksual.

Di titik inilah kekuatan eksekusi serial ini terasa. Thompson dan Bernthal menghidupkan dua tokoh yang bertolak belakang tanpa membuat salah satunya tenggelam: Bernthal yang meledak-ledak, Thompson yang menahan diri dengan dingin, dan benturan keduanya menjadi penguat ketegangan cerita. Lewat enam episode, Oldroyd menjaga agar kecurigaan terus berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain, sehingga penonton tak pernah nyaman memihak.

Pilihan Oldroyd memakai narator dari sudut pandang Anna menjadi salah satu keputusan yang paling menentukan. Narasi itu memperhalus jalannya cerita tanpa perlu adegan khusus, sekaligus membuat penonton melihat peristiwa lewat “sisi Anna”, sehingga kecurigaan terhadap Harper terasa condong sejak awal.

Sebagai adaptasi novel Alice Feeney, serial ini diubah Netflix di banyak sisi: isi, latar belakang karakter, hingga plotnya. Emma Fraser telah mengulasnya dengan penuh spoiler dan Anda bisa membaca lengkapnya di sini:

Netflix’s ‘His & Hers’ Ending, Explained: Who is the Killer?

Bagi pembaca novelnya, perubahan itu berarti tebakan lama yang tak lagi bisa diandalkan. Bagi penonton baru, serial ini tetap bisa berdiri sendiri.

Meski begitu, serial ini tidak sempurna. Karena motif pelaku dikubur di masa lalu para tokoh, penonton sulit ikut menebak dengan adil. Petunjuk yang tersedia memang diarahkan untuk menyesatkan, sehingga kejutan di ujung cerita bisa terasa lebih seperti tipuan daripada hasil deduksi. Bagi penonton yang menyukai teka-teki yang bisa dipecahkan sendiri, ini mungkin mengecewakan.

Narator dari sudut pandang Anna itu juga yang membuat tema serialnya terasa. His & Hers hendak bilang bahwa selalu ada dua sisi dalam setiap cerita: kisahmu dan kisahku. Penonton mendengar satu sisi lebih dulu, sementara Harper punya versinya sendiri. Sebab, tindakan yang paling berbahaya adalah berbohong, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Karena motif pembunuhan berakar di masa lalu, serial ini juga bicara tentang bagaimana pilihan lama membentuk orang dewasa. Jika menginginkan sesuatu, kita harus melakukannya dengan benar. Mengingat seperti kehidupan pada umumnya, makin sering Anda melakukannya, hal itu makin mudah — termasuk membunuh. Kepada anak-anak, serial ini berpesan agar kita mengajari mereka nilai kerja keras dan perencanaan, serta mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang buruk dan indah, tak terduga, serta selalu berubah.

Jadi, alasan His & Hers layak ditonton bukan sekadar karena proporsional. Serial ini mengajak penonton menebak, lalu pelan-pelan menunjukkan bahwa cara menebaknya keliru. Duet Thompson dan Bernthal membuat proses itu betah diikuti, dan sudut pandang Anna membuat setiap kisah terasa punya dua versi. Siapa pun yang suka cerita kriminal yang bermain dengan kepercayaan penonton, akan menikmatinya — sekalipun serial ini tidak adil.

Satu panduan menontonnya: pastikan Anda tidak terpapar spoiler sedikit pun, baik dari orang lain maupun dari konten di internet. Sedikit saja terkena bocoran—meski tak lantas menguak siapa pelakunya—sensasi ketegangannya bisa terjun bebas karenanya. Celakanya, saya malah sendiri terkena spoiler oleh teman saya.

Penulis: Muhammad Farhan

Penulis

  • Kuliah S1 Ilmu Komunikasi. Kontributor di sejumlah media massa dan media kampus. Bergabung di LPM Pabelan sejak 2023. Pernah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana pabelan-online.com 2025. Kini menjabat sebagai Pemimpin Umum LPM Pabelan 2026.

Also Read

Tinggalkan komentar