
Dua tahun berlalu saya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang awalnya tidak tau apa-apa, semakin lama semakin paham dengan seluk beluk sejarah Fakultas Hukum UMS dengan kemerdekaannya yang awalnya saya rasakan ketika mendengar kata kemerdekaan, independensi, berdiri sendiri, dan masih banyak lagi label-label FH UMS yang tergaungkan di luar sana.
Saat mendengar label-label tersebut awalnya saya merasa keren, “Wah fakultasku punya presiden sendiri”. Namun, perasaan bangga itu perlahan mulai memudar saat saya mulai merasakan kenyataan pahit dari independensi FH UMS. Saya tidak masalah jika FH ingin memiliki otonominya sendiri. Sebagaimana jika menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih masuk dalam Indonesia dan hanya sekedar daerah istimewa, saya tidak mempermasalahkan.
Namun, yang saya permasalahkan adalah, apabila kalian ingin menjadi negara imajinasi yang dibutakan oleh sejarah kemerdekaan dan hanya membawa kerugian bagi rakyatnya.
Kurangnya dana dan program yang tidak bertujuan
Salah satu hal yang merugikan dari independensi FH tentu saja bersangkutan dengan keuangan. Jika kita lihat dari semua ormawa yang ada di FH semua kesulitan dalam urusan keuangan, yang mana hal tersebut menyulitkan dalam pelaksanaan program kerja. Mau sebagus apapun program kerjanya jika dana tidak ada, maka sama saja–bubar.
Semakin sedikit program-program FH yang memberikan prestasi dan mengharumkan nama fakultas, maka akan semakin sedikit dana yang turun dari universitas. Jika kita lihat dari fakultas hukum sendiri, saya akui program dari fakultasnya memang sangatlah baik, salah satunya adalah Internasional Short Course (ISC) yang memanggil para akademisi dari luar negeri.
Seperti ISC beberapa waktu lalu, yang memanggil akademisi dari Korea Selatan, Thailand, Uzbekistan dan lain lain. Tapi bagaimana dengan ormawa-ormawanya?
Ketika awal kuliah, saya tidak tau ada BEM dan DPM, saya baru mengetahui eksistensi mereka ada saat Program Pengenalan Akademik (PPA). Tapi, setelah itu ke mana? Mana program yang memberdayakan mahasiswanya? Malahan, saya lebih tau ada Novum yang fokus dalam bidang keolahragaan daripada yang termasuk dalam pemerintahan.
Tujuan dan arah gerak yang kurang tersalurkan
Kabinet yang sekarang ‘Visioner’ memiliki arti sebuah pandangan pada masa depan dan memiliki rancangan yang jelas, saya kenal dengan baik isi kabinetnya, mereka adalah teman-teman saya. Baik dari presiden, wakil presiden, hingga jajaran menterinya, mereka adalah orang orang yang saya anggap sangat bagus dan progresif dengan ide-ide mereka yang beragam.
Contohnya, SOSMA Mengajar, yang memberikan mahasiswa pengalaman lapangan turun langsung pada anak-anak dan remaja untuk berbagi ilmu dan menjadi teman cerita para siswa di luar sana. Program ini sangat bagus, tetapi saya anggap belum sempurna perencanaan dan pelaksanaannya. Entah dari kurangnya minat para mahasiswa menjadi volunteer program tersebut, sosialisasi yang kurang persuasif, hingga tidak adanya follow up dari pihak BEM atas program tersebut.
Bayangkan apabila kita bekerja sama dengan FKIP yang paham dengan seluk beluk keguruan dan ilmu pendidikan, mereka sudah sering turun ke lapangan. Andai bekerja sama dengan mereka, pasti program tersebut akan dapat banyak peminat dan mendapatkan tanggapan yang baik dari fakultas dan universitas. Sebuah program dengan output yang sangat bagus menjadi terhalang karena sempitnya ruangan pelaksanaan dan perencanaan.

Meningkatkan relasi dan meluaskan ilmu
Nilai plus lain yang bisa FH dapatkan dari integrasi dengan BEM-U antara lain adalah memperluas relasi dengan orang orang di luar FH. Kenalan saya dengan fakultas lain sangat banyak, karena saya punya sarana lain untuk berkenalan dengan fakultas lain lewat jalur IMM. Berbeda dengan mahasiswa FH dan terutama BEM dan DPM-nya yang tidak punya sarana lain untuk mendapatkan relasi keluar.
Sangat disayangkan apabila mahasiswa FH menjadi eksklusif dan introvert. Padahal, mereka mempunyai otak yang (menurut saya) mumpuni untuk bersaing ke ranah yang lebih tinggi dari sekadar fakultas yang terbutakan independensi. Banyak teman saya yang pintar dan memiliki etos kerja tinggi yang sangat bagus apabila diasah dengan ide-ide baru dan terobosan baru.
Para mahasiswa fakultas hukum banyak yang memiliki ide-ide gila, tapi mereka sudah lelah. Mereka butuh angin baru, darah perjuangan yang baru, ghiroh yang baru. Bukankah sangat disayangkan tenaga manusia yang berlimpah dan berkualitas dibiarkan hanyut dalam kerasnya gelombang samudera?
BEM U yang berbenah bukankah seharusnya menggugah bagi BEM FH?
Terlepas dari polemik BEM-U setelah ditinggal oleh presiden sebelumnya dan menjadi kapal karam, juga pemilihan presiden yang terkesan diam-diam dan senyap, sekarang BEM-U sudah mulai berbenah dan memiliki arah gerak yang lebih terstruktur. Bukankah justru ini adalah agenda yang seharusnya menggugah para lembaga pemerintahan di FH?
Dengan kembalinya FH pada universitas, itu akanmembuka peluang gerakan yang lebih luas pada seluruh mahasiswa program-program yang dapat ditawarkan pada BEM-U. Itu pasti akan dilaksanakan. BEM-U juga sedang mencari anggota-anggota dan program yang bagus, saya yakin, mahasiswa FH yang bergabung dengan BEM-U pasti akan mendapatkan rekognisi yang pantas.
Sebab, FH-lah yang sangat paham terkait pemerintahan dan perundang-undangan. Sekarang, sudah bukan waktunya lagi berjuang sendiri. Kenapa singa bisa menjadi predator terkuat di sabana? Karena mereka berkoloni dan punya kelompok yang bisa bekerja sama. Jika dulu FH berpisah karena keadaan BEM-U yang sedang tidak jelas, maka sekaranglah waktunya untuk kembali.
Layaknya serigala yang saat muda soliter, ketika sudah tua dan keadaannya mendukung untuk berkelompok, buat apa menyendiri lagi?
Saya yakin setelah menulis tulisan ini, pasti akan mulai banyak orang yang mencibir saya dan lain sebagainya. Tapi saya tidak bisa tinggal diam melihat ada secercah harapan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan sekaligus memperbagus nama FH di universitas. Saya tidak rela teman-teman saya yang berkecimpung di BEM dan DPM menjadi sulit merealisasikan program dan arah gerak mereka karena kecilnya ruang lingkup pergerakan dan ekspresi.
Saya sudah secinta itu dengan Fakultas Hukum sampai-sampai saya sudah tidak mau keadaannya begini-begini saja. Fakultas dengan prospek yang sangat tinggi jangan sampai kalian tahan-tahan dengan harga diri lama kalian.
Akhir kalimat, semoga tulisan ini didengar dan menjadi bahan pertimbangan bagi para petinggi Fakultas Hukum, untuk memikirkan kembali bilaman masih ingin mempertahankan independensi yang menurut saya sudah usang ini. Saya izin mengutip kata kata dari Friedrich Nietzsche, “Keyakinan yang buta bisa lebih berbahaya daripada sebuah kebohongan.”
Penulis: Ahmadzaki Fadhila







Satu pemikiran pada “Bukankah Lebih Baik Menyatu Saja?”