LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Aqnan Sean

Jika bicara soal lingkungan, pada dasarnya kita sedang membahas hubungan manusia dengan alam hubungan yang kini merenggang akibat ulah dan kelalaian manusia itu sendiri. Kondisi itu dibuktikan oleh peristiwa yang sudah kita saksikan baru-baru ini: banjir besar dan tanah longsor yang melanda 7 wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 telah menimbulkan kerusakan luar biasa.

Dalam rentang 21–28 November 2025, curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah mulai dari Sumatera Barat hingga Sumatera Utara memicu air bah yang merendam permukiman, memutus akses jalan, merusak jembatan, serta menelan banyak korban. Dalam laporan terbaru Pusdatin BNPB pada Selasa (2/12/2025) pukul 10.01 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 631 orang. BNPB merinci korban lainnya yakni 472 orang hilang, 2.600 terluka, 3,2 juta warga terdampak, dan 1 juta orang mengungsi. Bencana ini juga meluas hingga 50 kabupaten, dan merusak ribuan rumah serta berbagai fasilitas umum.

Sungai yang meluap bukan semata karena hujan deras, melainkan karena hutan yang gundul, drainase yang buruk, dan alih fungsi lahan yang semakin masif dan tak terkendali. Para ahli menyebut bencana ini merupakan kombinasi antara cuaca ekstrem dan rapuhnya daya dukung lingkungan akibat ulah manusia. Bagai menyiram api dengan bensin, hujan mungkin menjadi pemantik, tetapi kerusakan ekologis adalah bahan bakarnya. Banjir kali ini bukan seperti yang sudah-sudah, ada kandungan berton-ton gelondongan kayu yang diangkut oleh banjir itu. 

Sejak dulu, banjir merupakan fenomena alam yang menjadi potret bahwa manusia telah gagal menjaga keseimbangan alam. Air yang semestinya meresap ke tanah malah meluncur deras tanpa hambatan karena pepohonan habis ditebangi, tanah telah dipadatkan untuk bangunan, dan ruang resapan air telah berubah menjadi area untuk kepentingan komersial. Akibatnya, setiap hujan deras selalu menjadi ancaman dan seolah setiap sungai yang meluap menjadi peringatan bahwa alam sedang menagih konsekuensi dari kelalaian kita.

Peristiwa banjir beserta tanah longsor yang terjadi di Sumatera hanyalah satu contoh dari sekian banyak tragedi ekologis yang terus berulang. Namun, sebagai manusia yang bijak, rentetan peristiwa ini seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk menyadarkan bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi wacana abstrak, karena ia sudah mengetuk pintu rumah kita, bahkan mengubur dan menenggelamkannya.

Zamrud Khatulistiwa yang Terluka

Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, dengan bentangan hijau alamnya, puluhan ribu pulaunya serta kekayaan sumber daya alam yang tiada tara. Gunung-gunung menjulang, hutan tropis membentang dan kekayaan perut bumi adalah nikmat Tuhan yang sepantasnya untuk disyukuri sebagai penghuni yang hidup dalam “surga dunia” ini. 

Namun, manusia yang berlumur kerakusan dan ambisi justru menggerus nikmat-nikmat itu demi keuntungan sesaat tanpa memikirkan keberlangsungan hidup anak cucunya. Sumber daya alam yang semestinya menjadi rahmat, menjadi kutukan ketika dikelola dengan nafsu dan tanpa empati terhadap keberlangsungan ekologi. Nikmat yang semestinya dirawat justru dikorbankan untuk ambisi sesaat. 

Kerakusan telah membuat lahan-lahan yang dulunya hijau kini menjadi gersang, sungai yang dulunya jernih kini penuh dengan limbah berbau pesing, hutan-hutan lebat kini bolong-bolong akibat bekas penambangan, dan langit yang semula cerah kini pekat oleh debu polusi. Eksploitasi yang mengatasnamakan kemajuan, lambat laun menggerus harmoni antara manusia dan alam.

Tak jarang, tempat-tempat yang semestinya dijaga justru turut dirambah. Kawasan yang disucikan oleh budaya dan adat istiadat, perlahan diobrak-abrik oleh mesin dan surat izin. Padahal, sebagian besar kehidupan masyarakat menggantungkan hidupnya pada tanah dan laut dalam mencari nafkah. Kini sumber kehidupan tersebut tercerabut paksa secara diam-diam dan tiba-tiba. Yang paling pedih, mereka turut menjadi saksi dari kehancuran yang tak mereka undang.

Ketika bencana longsor, banjir, dan kekeringan tiba, pemerintah seolah terkejut—tak menyangka jika ia juga berkontribusi mengundang musibah. Setelah terkejut, itu semua disebut sebagai bencana alam. Padahal, segala tragedi itu hanyalah konsekuensi meski yang menanggung (lagi-lagi) justru bukan pelakunya. Mereka, para pemilik tambang yang kaya raya itu tentu saja sudah kabur menyelamatkan diri.

Bumi hanya sedang bicara setelah diam terlalu lama disakiti. Namun, manusia—khususnya pemerintah dan kapital yang rakus—selalu lebih pandai berkelit dan menyalahkan alam, hujan ketimbang jujur dan memahami. Padahal, dalam firman Allah SWT disebutkan: 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat tersebut sudah mengingatkan sejak 14 abad lalu bahwa kehancuran ekologi yang kita saksikan saat ini bukan terjadi tanpa sebab. Semua berpulang pada pilihan-pilihan manusia yang serakah dan lalai terhadap tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Kita diperingatkan agar sadar dan kembali menjaga keseimbangan yang telah ditetapkan sejak penciptaan alam semesta.

Kini, pilihan apakah akan tetap cuek melestarikan kerusakan atau berani berhenti dan memulihkan ada ditangan kita. Bukan dengan dalih pembangunan yang membutakan nurani, tapi dengan kesadaran bahwa bumi merupakan titipan yang harus dijaga. 

Kesadaran Kolektif dan Jalan Pemulihan

Di tengah kerusakan yang kita saksikan hari ini, sesungguhnya kita hanya memerlukan kesadaran kolektif bahwa memulihkan kondisi bumi bukanlah tugas satu orang, satu kelompok, atau satu lembaga saja, melainkan tanggung jawab bersama. Alam yang rusak oleh tangan manusia hanya dapat disembuhkan jika manusia pula yang mengambil peran. Setiap individu, dari petani di desa hingga pejabat di kota, memiliki andil dalam menentukan masa depan bumi ini. 

Pemulihan lingkungan harus dimulai dari kesadaran sederhana bahwa setiap tindakan kecil kita memiliki makna. Ketika kita menanam pohon, mengurangi sampah, menggunakan energi secara bijak, atau memilih untuk tidak membuang limbah sembarangan, kita sedang menorehkan harapan bagi bumi. Langkah kecil itu menjadi setapak perubahan yang, jika dilakukan bersama, mampu menahan laju kerusakan yang selama ini tengah berada dalam kehancuran.

Selain itu, harus ada kemauan dari pejabat pemerintah untuk menuntut perubahan struktural kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam, penegakan hukum lingkungan yang tegas, serta perencanaan pembangunan yang tidak hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi. Masyarakat harus diberi ruang untuk mengawasi dan berpartisipasi dalam setiap keputusan yang menyangkut alam yang mereka tinggali.

Pemulihan adalah sebuah tanggung jawab moral kita bersama untuk mengembalikan hubungan manusia dengan bumi pada keharmonian. Alam sesungguhnya tidak menuntut lebih dari apa yang ia berikan. Alam hanya meminta dihormati, dijaga, dan tidak dieksploitasi dengan bengis. 

Jika manusia mampu menahan diri dan kembali pada prinsip keseimbangan, maka bumi dengan segala keluhuran ciptaannya akan memulihkan dirinya dan kembali menjadi tempat hidup yang ramah bagi generasi yang akan datang. Cukuplah kata-kata dari Mahatma Gandhi untuk menampar kesadaran kita. 

“Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang yang serakah.”

Penulis: Muhammad Zein

Also Read

Tinggalkan komentar