
Hari ini begitu melelahkan bagi Aksara. Ruang kelasnya itu seakan-akan mencabik-cabik habis energinya. Namun, beres jam perkuliahan hari ini, dia tak langsung pulang, tapi memilih untuk membeli seporsi bakpao goreng lebih dulu.
Angin sore itu cukup kencang, sayup-sayup suara petir dari kejauhan, pertanda hujan tiba, mulai terdengar. Bener saja, hujan begitu lebat turun saat Aksara memesan bakpao goreng. Nasib, dia hanya bisa berteduh dibawah payung gerobak bakpao yang amat sempit.
“Mepet gerobak mas, biar nggak kehujanan,” ucap tukang bakpao itu prihatin. Aksara langsung menurutinya tanpa pikir panjang. Masalahnya, Aksara baru ingat kalau ia punya banyak cucian di jemuran yang harus diangkat. Apa pun yang terjadi, ia harus segera pulang.
Muncullah masalah baru: dia lupa membawa jas hujannya. “Ini mas pesanannya sudah jadi, 6 ribu ya” ucap tukang bakpao. “Ini ya pak, kembaliannya buat bapak saja,” balas Aksara buru-buru menaiki motor dan bergegas menerobos hujan.
Tidak perlu waktu lama, butiran-butiran air hujan itu membasahi seluruh pakaiannya. Bukan hanya rasa dingin, ia juga kesakitan karena menabrak butiran hujan yang menyelimuti perjalanannya ke arah gubuk. Perasaan cemas mulai menghantui pikirannya, karena di gubuk tempat ia tinggal tidak ada orang yang peduli untuk sekedar membantu mengangkat jemurannya.
Benar saja, setibanya di gubuk, pakaian yang ia jemur itu melambai-lambai ditiup angin dan dihantam hujan seakan-akan minta diangkat. Aksara langsung mengangkat jemuran itu untuk dibawa ke dalam gubuk. “Kalau tau hari ini hujan, aku nggak bakal nyuci pakaian sebanyak ini” Aksara menggerutu kesal.
Di tengah kesalnya, Aksara beranjak mengganti baju. Tak lupa menyantap seporsi bakpao goreng yang ia beli tadi. Sore itu tidak ada yang bisa diajak ngobrol, dia habiskan bakpao itu untuk dirinya sendiri. Hanya ada suara gemericik air hujan yang menemaninya.
Dalam hati kecilnya, Aksara selalu merasa kesepian. Tidak ada kerabat apalagi pasangan untuk sekedar mengajak ngobrol. Notifikasi bahkan ponselnya sepi tak berpenghuni. “Andai saja aku berani mendekati cewek itu,” itulah kata-kata yang keluar dari mulut Aksara sebelum dia benar-benar tertidur.
Aksara sejatinya sudah lama mengagumi seseorang, tapi entah kenapa dia tak pernah mengungkapkan hal itu. Namun, hari ini seakan-akan adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Aksara. Notifikasi WhatsApp Aksara tiba-tiba berbunyi. Nadira.
Aksara menelan ludahnya. Ia yang sudah sejak lama menyimpan nomor WhatsApp Nadira pun masih kaget saat melihat notifikasi pesan dari Nadira.
Nadira adalah seseorang yang ia kagumi semenjak masuk di Jurusan Hubungan Internasional (HI). “Ra, tugas analisis konflik Rusia dan Ukraina-mu, sudah?” begitu isi pesan Nadira yang terlihat di WhatsApp Aksara.
Aksara buru-buru membalas pesan itu “Udah kok, Na, kenapa?”
Jantung Aksara berdegup begitu kencang. Apa ini yang namanya jatuh cinta?
Sayangnya, upayanya fast response rupanya sia-sia saja. Ia tetap masih harus menunggu balasan dari Nadira cukup lama. Ternyata Nadira adalah perempuan yang sangat slow response.
Setengah jam berlalu, Nadira menanyakan lagi tentang tugas kuliah yang mereka dapat “Kamu baca referensi dari mana? Aku masih bingung deh.”
Pertanyaan yang Aksara nggak bingung-bingung amat untuk menjawab. “Aku ada buku bacaan nih yang bisa jadi referensi kalau kamu mau,” Aksara menawarkan. Sebuah tawaran yang sebenarnya adalah kedok agar ia bisa ketemuan dengannya setelah kelas politik luar negeri.
Keberuntungan, berpihaklah padaku. Aksara menahan napas.
Sejenak terdiam, Nadira sebetulnya juga masih bingung hendak menerima tawaran Aksara atau menolaknya. Tapi setelah lama bergelut dengan pikirannya, ujungnya Nadira pun menerima tawaran Aksara, “Mauuuuuuu!”
Aksara menghembuskan napasnya. Tanpa pikir panjang Aksara menjawab, “Okey, nanti siang ketemuan aja di kantin sekalian makan siang. Hehe”
Semoga mau, semoga mau. Do’a Aksara dalam hati. “Okey deh, Ra.”
Kelas siang sudah selesai. Mereka pun bertemu di kantin kampus. Rasa canggung menggelayuti benak Aksara. Sebab, ia tidak pernah makan berdua dengan perempuan. Nadira adalah orang pertama yang ia ajak makan bersama. “Kamu mau makan apa?” tanya Aksara sambil garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak tau. Emang apa yang enak di sini?” tanya Nadira.
“Enak semua, kok.”
“Aku ngikut deh.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Yaudah,” ujar Aksara memutuskan.
“Mas, Mi Ayam Motivasi-nya dua, sama Es Coklat Bahagia-nya dua juga, ya” panggil Aksara ke pemilik kantin.
“Emang Mi Ayam sama Es Coklatnya ada namanya gitu, ya?” Tanya Nadira.
“Iya dong biar yang beli semangat hidup.” Aksara teringat sesuatu. “Eh ini bukunya,” Aksara mengambil buku di tas dan menyodorkannya ke Nadira.
“Hahaha bisa aja. BTW, makasih ya udah dibawain bukunya,” ujar Nadira.
Selagi menunggu mi ayam dihidangkan, Aksara dan Nadira tidak terlalu banyak mengobrol. Rasa canggung mulai menggelayuti suasana mereka berdua. Tak lama kemudian, “Mi Ayam dua, Es Coklat dua,” ucap pemilik kantin.
“Iya mas, di sini” Aksara melambaikan tangannya.
Sejak ospek fakultas, mereka sebenarnya sudah saling mengenal. Bedanya, sejak pandangan pertama, Aksara yang sudah mengagumi Nadira, malah merasa canggung saat hendak mengajaknya berbincang.
Aksara tentu tidak salah orang. Seleranya bagus. Selain parasnya yang cantik jelita, Nadira terbilang pintar di kalangan mahasiswa HI. Hal itu membuat banyak laki-laki terpesona, tak terkecuali Aksara.
Hari ini, Aksara merasa seakan-akan perempuan primadona yang paripurna itu bisa ia gapai.
“Kamu sering makan Mi Ayam di sini?” tanya Nadira.
“Nggak sering juga sih, tapi kalau mau makan Mi Ayam pasti larinya ke sini,” jawab Aksara
“Oh.” kata Nadira pendek.
Obrolan-obrolan singkat semacam itulah kira-kira yang menemani makan mereka berdua. Namun di tengah obrolan, ada satu pertanyaan yang membuat Aksara tersedak dan kebingungan menjawabnya.
“Kenapa kamu terlihat canggung kalau sama aku, sedangkan sama anak HI yang lain perasaan enggak?” tanya Nadira dengan nada serius. Alisnya yang bergerak ke atas menunjukkan jika ia kebingungan.
“Hah?” kata pertama yang bisa keluar dari mulut Aksara setelah mendengar pertanyaan itu.
Gimana nggak canggung sementara kamulah yang aku kagumi selama ini justru menyebabkanku canggung?
Pikiran Aksara tiba-tiba dibawa ke momen di mana mereka bertemu pertama kali. Aksara berpikir, mungkin hari ini adalah hari yang tepat untuk mengungkap perasaannya selama ini.
Bibirnya seperti hendak berucap “Sebenarnya aku suka kamu” tapi urung. Rasa-rasanya berat sekali. Tak ada mendung tak ada hujan, andrenalin Aksara naik tiba-tiba “Sebenarnya aku………” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Aksara terbangun dari tidurnya.
Suara petir ditengah hujan lebat itu mengganggu mimpi Aksara yang amat indah. “Sialan! Cuma mimpi!” ujar Aksara menggerutu.
Manusia selamanya akan mengagumi kalau tidak ada usaha yang ia jalani untuk meluluhkan hati.
Penulis: Aqnansean





