
Dari berton-ton sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, di Mojosongo, Kec. Jebres, Kota Surakarta, cuma beberapa kilogram saja yang bisa disortir dan diuangkan. Setiap harinya, para pemulung membawa pulang sampah-sampah nonorganik mulai dari plastik, kaleng, hingga kertas-kertas. Hidung mereka sudah terbiasa dengan aroma busuk yang menyeruak dari gundukan sampah-sampah itu.
Seperti Darono, misalnya. Setibanya di rumah, ia masih menyortir lebih dulu sampah-sampah pulungan berharga yang ia bawa pulang. Beres menyortir, ia tak langsung membawa ke pengepul. Sampah-sampah itu masih ia endapkan selama 5-7 haridi rumahnya, baru kemudian ia akan menelepon pengepul untuk diangkut ke gudang dan ditimbang.
Setiap jenis sampah nonorganik itu memiliki harga yang berbeda-beda. Untuk plastik air minum gelas kemasan, pengepul akan membayar senilai 2.500 rupiah per kilogramnya, 2.000 rupiah untuk kaleng bekas, dan 600 rupiah untuk sampah kertas. Paling mahal, Darono menuturkan, pengepul membayar 4.000 rupiah untuk sampah plastik cup bening yang biasa dipakai untuk kemasan es teh jumbo.
“Kalau plastik kresek hitam itu ga laku, paling 500 (rupiah per kilogram -red),” kata Darono usai aksi makan sego kucing di TPA Putri Cempo, Jumat (1/5/2026).
Setiap harinya, Darono bersama ratusan pemulung lainnya mengais-ngais sampah yang dibuang oleh truk-truk di sana. Dalam sehari, Darono dan beberapa pemulung lain, biasanya mulai memulung dari pukul 6 pagi hingga 12 siang. Kapasitas sampah yang dibawa pulang pun tak menentu karena itu tergantung kapan sampah tersebut disetorkan. Dalam sekali setor, rata-rata ia bisa mengumpulkan paling tidak 40 kilogram hingga satu kuintal sampah gelas plastik.
“Minimal duitnya ya minimal 700-800 ribu satu pekan,” ungkapnya.
Berbeda dengan pemulung lain, di umurnya yang ke-59, ia terhitung belum terlalu lama menekuni pemulung. Darono mengaku pernah bekerja di DLHK sebelumnya. Namun, karena kontrak outsourching atau alih dayanya tak diperpanjang, mau tak mau ia pun terjun menjadi pemulung. Hingga hari ini, kurang lebih, Darono sudah setahun menjadi pemulung.
“Kan dulu rumahnya sini ya nganggur, cari-cari (kerjaan -red) gitu,” ucapnya.

Berbeda dari Darono, Rukini yang kini berusia 51, ⅘ hidupnya bahkan menjadi seorang pemulung. Meski tidak mengawali hidupnya sebagai pemulung, ia adalah saksi bagaimana luasnya hamparan sawah dan perkebunan di wilayah Putri Cempo, Mojosongo, berubah menjadi gunungan sampah seperti sekarang.
Di lahan yang pernah menjadi sumber penghidupan para petani itu, kini Rukini menggantungkan hidupnya dengan memilah plastik, ember bekas, dan barang rongsokan lain dari tumpukan sampah yang tak pernah habis. Lebih dari 40 tahun, perempuan itu bertahan di tengah bau menyengat dan ancaman gas metana demi menyambung hidup keluarganya.
“Dulu kan kita petani sini. Lahan petani dibuangi sampah, mau nggak mau kita terjun ke sini,” ungkap Rukini, Jumat (1/5/2026).
Perubahan fungsi lahan itu bukan sekadar mengubah bentang alam, tetapi juga memaksanya mengubah nasib. Saat sawah dan perkebunan hilang tertutup sampah, pilihan pekerjaan pun menyempit. Bersama suaminya, Rukini turun langsung menjadi pemulung karena tak ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan.
Setiap pagi, sekitar pukul 8, Rukini mulai bekerja. Di bawah terik matahari, ia mengais tumpukan sampah hingga siang bolong, kadang berlanjut sampai sore jika kondisi tubuhnya memungkinkan. Rutinitas itu ia jalani tanpa kepastian penghasilan besar. Dalam sehari, pendapatannya rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu, bahkan tak jarang kurang dari itu. Barang yang paling bernilai baginya adalah plastik dan barang-barang rumah tangga bekas berbahan serupa.
Hasil pulungannya dikumpulkan di rumah sebelum pengepul datang mengambil. Sistem itu memudahkannya, meski harga jual barang bekas tetap bergantung pada jenis dan jumlah temuan hari itu. Bekerja di TPA bukan tanpa risiko. Selain benda tajam seperti paku dan pecahan kaca, ancaman lain datang dari gas metana yang muncul dari bawah timbunan sampah. Rukini paham betul akan bahaya itu. “Itu kan ada gas metana juga, beracun ya bahaya,” ujarnya.
Meski demikian, perempuan tiga anak itu memilih menjalani hidupnya tanpa rasa malu. Di tengah stigma masyarakat terhadap profesi pemulung, ia menegaskan bahwa pekerjaannya adalah kenyataan hidup yang harus dijalani.
“Ya gimana, orang itu kenyataannya kerjanya di situ, ngapain kita malu,” tegas Rukini.
Di lingkungan kerja, persaingan antarpemulung nyaris tak ia rasakan. Baginya, sesama pemulung justru saling mendukung. Solidaritas itu menjadi salah satu penopang di tengah kerasnya hidup dari sampah. Ia juga mengaku menjadi penerima bantuan sosial dari pemerintah seperti beras dan uang tunai.
Namun, pelatihan keterampilan kerja alternatif belum pernah benar-benar hadir. Padahal, jika suatu saat aktivitas memulung dihentikan, keterampilan lain bisa menjadi jalan bertahan. Meski begitu, di sisi lain Rukini juga mempertanyakan ke mana sampah-sampah kota akan berakhir jika tak ada yang memilah.
Bagi Rukini, Putri Cempo bukan sekadar tempat sampah kota dibuang. Di sanalah sisa-sisa yang tak lagi dianggap berguna oleh orang lain berubah menjadi penopang hidup. Dari lahan yang dulu sawah, kini ia memanen harapan dari tumpukan sampah.
“Harapannya kita bisa terus beraktivitas di sini, bisa mencari nafkah di sini supaya anak kita nanti nggak kelaparan.” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Farhan, Muhammad Nurul Afif dan Argo Sulistyo
Editor: Fauziah Salma Anfihar







