
Tak ada yang menyangka jika malam itu adalah terakhir kalinya Dimas Kurniawan (Endy Arfian) melembur demi menulis berita di media tempatnya bekerja. Di malam itu pula, lewat sambungan telepon, untuk terakhir kalinya ia menelan mentah-mentah cacian dari Endy (Rio Dewanto), pemimpin redaksinya, karena tulisan yang porak-parik—sebelum atasannya itu berakhir mengenaskan.
Alih-alih menjadi saksi, Dimas justru dijebloskan ke penjara karena menanggung konsekuensi kasus pembunuhan yang tak pernah ia perbuat. Di dalam lapas, setiap tahanan harus mempunyai geng. Tanpa itu, ia tak akan bisa hidup lama di lapas. Di sanalah, ia bertemu dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), Pendi (Lukman Sardi), Six (Yoga Pratama), Wildan (Mike Lucock), dan Irfan (Dimas Danang), yang kelak akan menjadi komplotannya.
Nasib, Dimas malah ditempatkan satu lapas dengan Tokek (Aming Sugandhi) yang binal. Beruntung, mimpi buruk itu tak berlangsung lama karena Tokek juga berakhir tewas secara tak wajar. Situasi kian ganjil ketika kematian demi kematian terjadi secara mendadak, berdekatan, dan brutal. Para tahanan seolah hanya tinggal menunggu giliran.
Masalahnya, tak ada yang bisa dituduh atas penewasan yang sadis itu. Semua tahanan memiliki alibi yang kuat. Gengnya baru sadar akan keganjilan itu setelah Six—yang disebut-sebut indigo—mengaku mampu menerawang aura orang, tepat sebelum mereka yang diterawangnya berakhir tewas dengan cara yang sadis dan tak masuk akal. Teror itu pun makin terasa dekat ketika mereka menyadari satu hal: semuanya bermula sejak Dimas masuk lapas.
Menurut Six, ketika seseorang sedang marah atau kesal, ia akan memancarkan aura negatif berwarna merah atau pun merah tua. Jika tak segera diredam dengan melakukan kegiatan yang menenangkan atau menyenangkan, hantu itu akan segera mengeksekusinya saat itu juga, menyisakan “karya” mayat yang artistik bersimbah darah.
Kepedulian Joko Anwar terhadap penonton ditunjukkan lewat dua cara, yakni dengan menggeber kritik pemerintah Indonesia dan pemuasan fantasi sadistik atas kematian pelaku. Lewat dialog dan interaksi antartokoh, Joko Anwar menyisipkan berbagai isu di Indonesia, mulai dari perusakan lingkungan akibat tambang, kehidupan nyaman para narapidana korupsi di balik sel, hingga bisnis narkoba yang justru terus berjalan dari dalam penjara, meski gembongnya sudah menjadi narapidana.
Pendekatan ini bahkan diperkuat lewat strategi promosinya. Lewat media sosial, Come And See Pictures mengampanyekan Ghost in the Cell dengan cara yang tak biasa, yakni menggabungkan edukasi politik dengan kritik bar-bar terhadap pemerintah. Joko Anwar seakan meminjam mulut para karakter untuk melontarkan sumpah serapah kepada penguasaha (baca: penguasa dan/yang pengusaha).
Di sinilah film ini menemukan momentumnya. Boleh jadi, alasan mengapa model seperti ini cepat viral di Indonesia adalah karena kritik masih sering diposisikan sebagai sesuatu yang sensitif—bahkan berlebihan untuk ditakuti. Kita masih terlalu latah dalam memaknai bahwa kritik sebagai ikhtiar konstruktif agar—dalam hal ini pemerintah—bisa lekas berbenah. Padahal, kritik seharusnya menjadi cara paling sederhana bagi masyarakat untuk menunjukkan blind spot kekuasaan.
Selain isu-isu di atas, Joko Anwar juga mengkritik masalah-masalah keadilan yang kerap diabaikan seperti vonis orang tak bersalah, perselingkuhan pejabat, CCTV yang tiba-tiba mati atau hilang ketika dibutuhkan, hingga trajektori aktivis yang berpindah menjadi bagian dari kekuasaan bahkan malah menjadi koruptor. Digodok idenya sejak 2018, sungguh picik jika Ghost in the Cell dianggap sekadar mencari keuntungan (baca: eksposur) dari bencana alam akibat deforestasi. Mengingat, deforestasi saja sudah dilakukan sejak lama di Indonesia.
Sebagai alegori di Indonesia, penjara bisa dimaknai sebagai tempat yang identik dengan kesuraman dan ketidakadilan, tahanan sebagai WNI, dan hantu sebagai alat opresi—yang berarti berupa instansi, aparat, atau bahkan hukum itu sendiri. Penghuni di dalamnya dilarang keras untuk kesal, gusar, atau pun marah—dan barangsiapa yang nekat melakukannya, maka ia akan menjadi target opresi.
Singkatnya, seperti para tahanan, menjadi warga Indonesia berarti dipaksa “bahagia”, semata agar bisa menyelamatkan diri. Sudah menderita, dipaksa bahagia pula. Kita pun tergencet oleh sistem yang menindas dan tuntutan menjadi warga negara yang narima ing pandum.
Tentu tak mudah menjadikan karakter-karakter utama memiliki kekuatan komedi yang seimbang. Berbeda dengan film-film horor yang terbiasa melekatkan komedi pada salah satu karakter saja, Joko Anwar mampu menyeimbangkan unsur itu di dalam dialog-dialog antartokoh. Walhasil, kita bisa menyaksikan bagaimana para tokoh utama—dengan latar belakangnya masing-masing—sama-sama bisa menjadi karakter yang bisa membuat penonton mengocok perut.
Tak seperti film sebelumnya yang kerap menyisakan teka-teki sehingga penonton dibuat harus menebak-nebak dan berteori, kali ini Joko Anwar lebih pada mengajak penonton agar berefleksi—sambil mengumpat dan mencerca—tentang kondisi negara akibat tingkah laku pemerintah. Penonton tak perlu lagi menebak-nebak siapa politikus dan apa kasus yang dimaksud di setiap obrolan maupun adegan, toh, film ini sudah membeberkannya berdasarkan kasus riil yang terjadi di Indonesia.
Hanya, betapa pun banyak pujian yang diterima, film ini tak mungkin bisa dinikmati oleh mereka yang hanya ingin menyaksikan bagaimana cara Joko Anwar menumpahkan kekesalannya terhadap pemerintah semata dan pengidap tripofobia. Kalau pun nekat menonton, mereka harus bersiap menghadapi adegan-adegan sadistik yang bisa menyebabkan mual, muntah-muntah, bahkan trauma. Sebaliknya, penonton yang melek dengan isu-isu di Indonesia, khususnya para oposan, bisa dipastikan film ini bisa “mengenyangkan” mereka.
Penulis: Muhammad Farhan







