LPM Pabelan

Oleh : Eka Andy R*

Sabtu tanggal 30 Oktober 2015 tepatnya malam minggu, digelar sebuah acara meriah dikampus tercinta, UMS. Malam itu digelar sebuah acara oleh BEM UMS. Kegiatan yang bertemakan kebudayaan oleh organisasi Daerah (Orda) digelar sangat megah. Sekilas kegiatan ini sangatlah seru. Para mahasiswa menunjukkan kesenian masing-masing daerahnya. Tertawa lepas, bercerita, bernyanyi dan menari. Sungguh “menyenangkan”.

Tapi hal itu tidak bisa di rasakan M. Saleh Isqandar yang biasa dipangil Saleh. Saleh adalah seorang pemuda dari Kalimantan yang tak bisa tertawa, bercerita dan menari seperti mahasiswa UMS malam itu. Bagaimana tidak, kampung halamannya tengah dilanda bencana asap. Di kampungnya, masyarakat yang ingin bernapas lega saja susah. Apalagi tertawa terbahak-bahak seperti malam itu?

Melihat Saleh, ada sebuah pertanyaan kecil, patutkah kita bersenang-senang di saat saudara-saudra kita sedang terkena musibah? Saya kira mahasiswa, terutama Badan Esekusif Mahasisawa UMS sudah mengetahui brita yang booming ini. Lalu, bagaimana bisa, acara yang penuh dengan hiburan ini tetap di laksanakan?

Memang perlu acara yang demikian ini karena setidaknya untuk melestarian budaya daerah, tapi coba kita lihat yang terjadi saat ini. Dimana rasa solidaritas kita? Di dalam acara tersebut, seharusnya disisipi dengan kegiatan yang bersifat solidaritas, misal saja, menggalang dana untuk korban asap. Namun, itupun tidak terpikirkan oleh sang punya gawe. Akhirnya, malam itu saya berjalan dengan memasang wajah senang tapi hati ini menjerit meminta keadilan dalam keadaan ini. Mari kita renungkan !!!.

Tidak, tidak cukup dengan hanya merenung, kita sebagai mahasiswa butuh keadilan, untuk rakyat indonesia. Apakah adil jika bencana asap ini sekedar di anggap bencana semata, tanpa ada tindak lanjut dari pemerintah JOKOWI untuk menanganinya secara cepat sampai ke akar. Apakah adil jika kita bersenang-senang tapi saudara kita hampir mati terkena ISPA? Mari kita rubah cara pandang kita sehingga tidak terkuasai dengan media yang di kuasai oleh para kapitalis, karena media itu pasti akan berpihak pada kubunya.

Asap hanyalah dampak kecil dari perbuatan manusia yang merusak sistim alam. Jangan salahkan alam, jangan salahkan orang kecil yang di jadikan kelinci pembakaran untuk di jadikan kambing hitam. Tapi mari kita lihat siapa dalang di balik kejadian ini. Saya yakin ada dalang di balik ini semua, dalang itu masih sama dengan zaman dulu. Ya para kapitalis yang hanya mencari keuntungan di Indonesia tanpa memikirkan dampaknya dan mereka melakukannya di depan kita, na’asnya kita hanya terdiam.

Berdasarkan gambar satelit, Greenpeace mengklaim telah menemukan titik-titik api pada tanah yang dimiliki oleh 36 perusahaan kertas dan kelapa sawit dan dalam majalah TEMPO Sabtu, 31 Oktober 2015, mengatakan, Sampai Oktober 2015, ada dua juta hektare hutan dan lahan di Indonesia yang terbakar. Sebagian titik api berada di lahan konsesi perusahaan hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit. Ini dalah satu bukti bahwa pembakaran itu 99% di senaja untuk memperluas lahan mereka.

Di tengah pengerukan masif kekayaan alam atas nama pertumbuhan ekonomi, mengajukan orientasi politik ekologis dalam materialisme dialektika historis adalah upaya yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini menjadi sangat krusial di tengah membludaknya ilusi-ilusi ekologi yang diartikulasikan oleh ideologi kapitalisme, seperti, misalnya, ‘ekonomi hijau.’ ‘kebijakan hijau,’ atau bahkan ‘gaya hidup hijau’ yang pada dasarnya tidak lebih sebagai upaya menetralisir dimensi radikal dari problem ekologi sekarang yang berpotensi untuk membuka orientasi politik baru di luar kapitalisme,semua tipu daya kapitalis.

            Maka dari itu kita selaku mahasiswa yang gandrung terhadap keadilan dan peduli peradaban yang menggemborkan suara mahasiswa adalah suara rakyat. Sudah sewajibnya kita peka dan membuat perubahan,mendesak pemerintah mencabut Undang-undang yang membolehkan perluasan lahan, menghukum berat pelaku karena permasalahn ini termasuk kejahatan luar biasa dan mengusut masalah ini sampai tuntas. Sekecil apapun perubahan itu harus ada gerak sosial dari mahasiswa terutama mahasiswa UMS, bukannya malah berpesta dan menghabiskan dana tanpa ada tanggung jawab moral dan sosial kepada saudara kita di nusantara.

            Ini sebuah keritik yang saya kira membangun, tolong dengarkan dan pikirkan untuk suatu perubahan dan kepekaan sosial bagi masyarakat Indonesia. Setelah ada kritik ini akankah melakukan perubahan? atau malah membuat gawe yang sama? Kita lihat saja. Selaku penulis pun tidak luput dari hal di atas maka dengan tulisan kecil ini semoga dapat mewakili kepedulian dan memberi kesadaran mahasiswa lain. Ayo bergerak kawan untuk Indonesia yang sedang terjangkit penyakit komplikasi kronis ini, kalau bukan mahasiswa siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi.

Sebuah kalimat yang sangat menyadarkan, terutama untuk para aktifis: “Tempat tergelap di Neraka di cadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis Moral” ( Dante)

*Mahasiswa FAI UMS Semester Tiga

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar