
Di kampus, mahasiswa terbagi menjadi berbagai macam jenis. Dua di antara yang paling mencolok perbedaannya adalah mahasiswa organisasi dan non-organisasi. Perlu dicatat, dari keduanya tak ada yang lebih unggul maupun lebih buruk. Menjadi mahasiswa organisatoris atau normatif adalah soal pilihan, selera, dan preferensi. Silakan saja jika hendak memperdebatkannya. Saya tidak peduli.
Menjadi mahasiswa organisatoris pun masih terbagi lagi. Pertama, yakni mahasiswa yang entah memang sejak awal berencana atau tanpa rencana masuk ke dalam ekosistem organisasi, lalu berujung menikmati dan sulit melepaskannya. Biasanya, mahasiswa semacam ini memiliki gejala fanatisme terhadap organisasinya. Tapi, sekali lagi, ini bukan tentang salah benar atau baik dan buruk. Tolong kesampingkan dulu pemaknaan itu.
Kedua, yakni mahasiswa yang (mungkin) cenderung tak punya pilihan karena adanya tekanan dari lingkungan, entah Program Studi, kebutuhan, hingga mencari poin sebagai syarat kelulusan. Lazimnya, mahasiswa semacam ini hanya terpaksa berorganisasi, dan alasannya bergabung adalah mengisi waktu luang semata. Naifnya, setelah masuk organisasi, mereka malah kelimpungan mengatur waktu dan tak bisa menyesuaikan diri.
Selanjutnya, seperti yang sudah-sudah, organisasinya menjadi kambing hitam atas Indeks Prestasi (IP) semester yang kian melorot, hingga urusan perkuliahannya yang carut marut. Mereka menyalahkan organisasi yang telah membuatnya lelah dan urusan kuliah pun menjadi terbengkalai. Lebih jauh, kebencian terhadap organisasinya kian tumbuh secara perlahan dalam benak mereka bagai bara dalam sekam.
Mau nekat keluar pun, mereka tak enak hati dengan temannya yang masih mengajaknya bertahan. Kondisi itu membuatnya segan hendak keluar dari organisasi, aktif berkontribusi pun tak sudi. Saat diberi tugas atau dimintai tolong, mereka akan ogah-ogahan dalam melaksanakannya. Karena keseringan absen, perlahan, perasaan terasingkan dari teman-temannya pun mulai menggerayangi benaknya.
Saat berkumpul atau menjalankan tugas dengan rekan-rekannya, seolah-olah mereka tetap merasa sendirian. Padahal, teman-temannya tak pernah mempersoalkan keabsenannya karena sejatinya mereka tak ambil pusing soal itu.
Namun, mau bagaimanapun, hidup nyaris selalu berjalan mengikuti kecenderungan. Perasaan keterasingan yang awalnya samar, perlahan bergeser menjadi realitas. Pelan-pelan, suasana di lingkungan organisasinya berubah. Tatapan teman-teman yang dulunya akrab kini terasa asing—entah karena benar adanya, atau hanya bayangan yang diperbesar oleh asumsi dalam kepalanya.
Ada kalanya, kerusakan hubungan itu dipicu oleh adanya ketegangan yang muncul seperti perbedaan pendapat, perdebatan kecil, miskomunikasi, hingga kesalahpahaman yang tak sempat dijernihkan. Terkadang, tanpa disadari, pembicaraan tentang dirinya berlangsung di belakang. Bukan karena niat buruk, melainkan karena komunikasi yang tak lagi terbuka. Lingkungan organisasi pun terasa toksik.
Rangkaian dinamika inilah yang sering kali menjadi awal dari keputusan untuk hengkang—entah dengan pamit baik-baik atau sekadar menghilang begitu saja dari organisasi. Kiranya, mahasiswa semacam inilah yang membangun stigma-stigma negatif terhadap organisasi-organisasi di kampus, terlebih mereka, para mahasiswa organisatoris yang fanatik.
Perbedaan ini bahkan telah melahirkan semacam dikotomi yang membuat keduanya saling berseberangan dan menjauhkan satu sama lain—baik dalam ideologi, intelektualitas, arah tujuan hidup, hingga pilihan politik. Pandangan semacam ini mencerminkan kenaifan para mahasiswa yang amat mudah tergiring oleh narasi dikotomis: anti-organisatoris dan fanatisme organisasi yang memecah belah.
Padahal, menjadi mahasiswa organisatoris justru membawa banyak manfaat. Mereka yang berorganisasi lebih mudah memperoleh sertifikat atau pengalaman untuk dijadikan portofolio saat melamar pekerjaan, menggarap proyek, hingga diminta menjadi direktur bahkan mengubah dunia.
Potensinya pun lebih besar karena akses tersebut diakomodasi oleh organisasi—berbeda dengan mereka yang hanya berkuliah lalu pulang untuk tidur, atau sekadar menongkrong di kafe sambil membicarakan orang lain. Meskipun, sekali lagi, itu juga tidak ada salahnya.
Sebab, di organisasinya, mereka aktif berkontribusi—mulai dari menjadi panitia event sehingga mendapat pengalaman, meski hanya sebagai dokumentator yang belajar fotografi dan videografi, tukang angkut perlengkapan, hingga menjadi ketua panitia yang mampu mengorganisir anggota-anggotanya. Akses untuk menjalin hubungan dekat dengan dosen pun terbuka lebar bagi mahasiswa Ormawa karena mereka kerap berurusan langsung dengannya.
Selain itu, mahasiswa semacam ini juga kerap terpapar informasi lomba. Akses menuju peluang perlombaan terbentang di sana-sini. Mereka tak perlu susah payah berburu informasi lomba; begitu dapat, mala tinggal mendaftar dan langsung mengikuti. Menang lomba tentu bagus untuk portofolio, dan kalah pun tetap layak dicantumkan karena tak menghilangkan unsur pengalaman berkompetisi. Toh, kalah dalam perlombaan adalah hal yang wajar.
Menjadi bagian dari organisasi aktivis atau pergerakan—baik di lingkup eksekutif maupun tif-tif lainnya—bukan hanya perkara prestise semata. Itu akan membuka gerbang akses yang lebih luas, bukan sekadar menjalin kedekatan dengan dosen, tetapi juga membangun jaringan hingga ke jajaran rektorat, bahkan menjangkau relasi dengan pemerintah. Koneksi yang dimiliki terbentang dari ujung ke ujung.
Lewat acara-acara yang digelar dan peran sebagai pemantik diskusi, atau sekadar pemateri, eksistensi mereka mulai diperhitungkan. Menjadi koordinator aksi demonstrasi pun akan membuat namanya melambung dan tersohor karena diliput oleh media.
Pada akhirnya, entah itu berupa sertifikat, karya tulis, dokumentasi kegiatan, pengalaman, hingga keterlibatan dalam pengabdian masyarakat—semuanya tetap layak menjadi portofolio yang bernilai untuk dicantumkan ke dalam Curriculum Vitae (CV). Toh, di era kini, kita sama-sama mafhum bahwa pekerjaan dengan gaji layak sudah pasti menuntut tampilan CV yang gemilang dan paripurna. Lewat organisasi semacam itu, branding diri pun dapat segera terdongkrak; bukan hanya tampak aktif, tetapi juga kompeten.
Sayangnya, semua itu tak akan pernah terlintas dalam benak mereka yang telanjur memandang segala hal secara dikotomis, hitam-putih, dan biner. Sebab, mahasiswa organisatoris kerap dibuat jengkel karena saat diberi tugas, ia terpaksa menggendong teman kelompoknya yang plonga-plongo karena tak punya pengalaman, nihil kompetensi, dan semangat berikhtiar yang sama.
Mereka yang memiliki portofolio seabrek tak perlu risau, apalagi sampai harus pusing-pusing merekayasa CV. Tinggal cantumkan saja apa adanya, maka Human Resource Development (HRD) pun akan melirik, bahkan mungkin mengutamakan mereka untuk posisi yang dikehendaki. Stigma dan stereotipe yang gemar mendiskreditkan mahasiswa organisatoris sebagai kaum ‘kurang kerjaan’ adalah wujud dari betapa piciknya cara pandang mereka terhadap hidup dan masa depan.
Lagi pula, tak selamanya mereka yang berorganisasi itu berarti fanatik. Ada kalanya mereka tak punya pilihan selain melakukan ini dan itu demi membangun portofolio untuk diri sendiri. Sebab, mereka tahu betul, tanpa portofolio yang memadai, keterlambatan dalam mendapatkan pekerjaan atau kepercayaan orang lain setelah lulus hanya akan merepotkannya di masa mendatang.
Maka, bersusah payah dan pontang-panting menjabani segalanya lebih baik ditempuh sejak dini—demi masa depan yang kini tampak utopis dan begitu senjang dengan nasibnya hari ini, bisa menjadi masuk akal untuk digapai. Sayangnya, mereka malah kerap dituduh sebagai orang yang ambisius dan menggila karena tak bisa menikmati hidup.
Astaga, bagaimana ceritanya bisa menikmati hidup jika masa depannya di negara tempat tinggalnya saja tak jelas dan penuh dengan ancaman pengangguran sana-sini, terlebih jika harus hidup berdampingan di bawah pemerintah yang semacam itu. Di zaman ini, menggantungkan nasib baik pada pemerintah bahkan bisa disebut sebagai tindakan yang tolol.
Toh, menikmati hidup bukan berarti harus selalu dengan menghambur-hamburkan uang atau berleha-leha. Tak semua orang memiliki sumber kebahagiaan dan cara yang sama dalam menikmati hidup. Lagi pula, menjadi ambisius pun tak ada salahnya. Justru itu bagus karena di kampus adalah saatnya memaksimalkan dan mengeksploitasi setiap kesempatan dan peluang yang ada.
Saya tak bermasalah dengan mahasiswa organisatoris maupun mereka yang anti-organisasi. Sepanjang masing-masing merasa nyaman dengan pilihannya, silakan saja menempuh jalan hidup sesuai selera dan keyakinan. Yang saya kritik adalah langgengnya doktrin picik, kolot, dan sugsang yang telah menyublim dalam benak banyak mahasiswa saat ini.
Maka, ketimbang saling mencibir dan mencela pilihan hidup satu sama lain, alangkah baik jika menggantinya dengan mulai menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang punya latar belakang, tujuan, dan strateginya masing-masing berbeda menempuh jalan hidup. Di kampus, tak semua orang perlu menjadi organisatoris dan mahasiswa non-organisasi juga tak perlu merasa lebih unggul apalagi mendiskreditkan antara satu sama lain. Ujungnya, setiap pilihan akan menuntut tanggung jawab terhadap keputusan, juga hidup yang ditempuh untuk masa depan.






