Sumber: Canva

Telah gugur pahlawanku …

Tunai sudah janji bakti …

Gugur satu tumbuh seribu …

Sayup-sayup senandung lirih itu menelisik ke telingaku, lewat udara dari pintu kamar Ibu yang sedikit terbuka. Aku yang hendak ke dapur seketika termangu, berhenti melangkah. Detak jam dinding menunjukkan pukul setengah enam, matahari nyaris sempurna beranjak di sisi Barat.

Aku menghela nafas, panjang. Ini adalah kesekian kali Ibu melakukan ritualnya: menyanyikan lagu gugur bunga sehari menjelang perayaan kemerdekaan. Selalu di tanggal enam belas, selalu di sore hari sebelum maghrib, dan selalu dalam posisi menghadap ke luar jendela. Dan … Ibu selalu menitikkan air mata.

Dulu, sewaktu aku masih kecil, tak mengerti dengan sikap Ibu. Hanya melihat wajah sendu Ibu dengan tatapannya yang jauh. Semakin besar, pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul. 

Apa yang sebenarnya Ibu lakukan? 

Mengapa di tengah riuh-rendah orang-orang yang sibuk mempersiapkan lomba, Ibu justru menarik diri? 

Mengapa di tengah antusiasme, Ibu justru tenggelam dalam dunianya sendiri?

Bahkan aku sampai berpikir, apa Ibu sedih dengan tanggal kemerdekaan?

 Ibu tak suka merdeka?

Ah… pikiranku menjadi liar.

Aku memang tak ingin bertanya pada Ibu. Tidak mengingat beliau yang sesenggukan setiap kali menyanyikan lagu itu, dengan tangan kanan mengepal yang diletakkan di dada. Sepertinya Ibu tidak akan nyaman jika aku bertanya. Maka untuk menenangkan pikiran, aku berspekulasi bahwa Ibu menyanyikan lagu Gugur Bunga untuk para pahlawan.

Aku membujuk kepalaku, bahwa itulah kemungkinan terbesarnya. Ibu menyanyi untuk para pahlawan yang telah gugur. Namun, semua itu terkuak saat hari jadi negeri setahun yang lalu. Tatkala di hari-H aku menjadi ketua panitia lomba, dan kesulitan mencari tambahan bendera untuk panjat pinang. Lantas gudang belakang aku ubrak-abrik. Secarik foto kusam dengan bekas lipatan keluar dari tengah lembaran buku yang tak sengaja jatuh tersenggol. Foto seorang lelaki. Bukan Ayah, bukan Paman, apalagi Kakek.

Tanganku gemetar saat melihat bagian belakangnya. Di situ ada kalimat ‘Wo Ai Ni Wira’ dalam tulisan latin. Aku tahu apa artinya, karena Ibu sering mengucapkannya padaku sambil mencium ubun-ubunku. Aku mencintaimu. Lalu, siapa Wira?

Otakku merangkaikan semuanya dengan cepat. Apalagi buku yang tadi menjadi muasal foto ini adalah buku resep masakan tulis tangan Ibu yang tak pernah kubaca karena malas. Ibu tahu aku tidak akan membukanya, maka menaruh benda itu di sini. Orang ini … pastilah pahlawan yang Ibu maksud: pahlawan hatinya.

Kudorong pelan pintu kayu agar tak berderit. Lagu Ibu telah selesai, tapi beliau masih terdiam menatap ke atas. Semburat merah di langit sedang bertransformasi menuju gelap, jemari Ibu mencengkeram permukaan daun jendela bagian bawah yang masih terkunci.

“Ibu masih mencintai Wira?”

Sontak Ibu membalikkan badan, mata beliau yang berkaca memandangku penuh tanya. 

“Dari mana kau tahu?”

Aku menatap Ibu lamat-lamat, jika ada satu orang yang paling berhak tahu tentang Wira, itulah aku. Desau angin menggerakkan dedaunan, aku menutup jendela karena langit semakin gulita. Ibu masih menatapku yang membisu, meminta penjelasan.

“Bukankah harusnya Ibu yang seharusnya menjelaskan semuanya padaku?” Aku mengusap hidung.

“Ibu telah membuatku menyaksikan bahwa betapa Ibu mengenang lelaki itu. Siapa dia? Dan sebagai apa di hidup Ibu?”

Ibu melangkah perlahan, duduk di kasur. Beliau menepuk-nepuk seprai, menyuruhku duduk di sampingnya.

“Waktu itu, usia kami dua puluh tujuh. Dia hanya sebulan lebih tua.” Suara Ibu amat lirih, nyaris kalah oleh embusan nafasku.

“Kami sudah bersama sejak kuliah. Dia… lelaki yang baik, dan penyayang. Katanya, Ibu adalah gadis sastra yang menjadi penyeimbang hidupnya.”

“Lalu?” Aku merengkuh jemari Ibu yang gemetar.

“Dia wartawan…” Ibu menyebut salah satu nama dari media yang familiar dan membuatku menelan ludah. 

“Waktu itu keadaan situasi negeri sedang chaos. Kau tahu? Itu seperti komorbiditas dan bahkan komplikasi. Penyakit-penyakit menahun yang bersarang dalam satu tubuh, dan perlahan tapi pasti, borok-borok itu keluar dengan sendirinya. Kau bisa bayangkan luka bernanah yang mengeluarkan bau amis? Sangat menyedihkan.”

Aku menyimak, menaruh dagu di pundak Ibu. Berusaha mencerna setiap kalimat beliau.

“Ia mendapat teror. Kantornya mendapat kiriman kepala babi tanpa telinga, ada secarik kertas yang menuliskan nama salah satu rekan perempuannya. Tak sampai seminggu, paket itu datang lagi. Kali ini dibungkus dengan kertas kado bermotif mawar merah. Kau tahu apa isinya?”

“Ehm… kali ini babi guling?” Aku menyeringai, berusaha tak menampakkan rasa ngeri.

Ibu tertawa pelan, menepuk dahiku. “Sayangnya tidak. Tikus mati yang kepalanya sudah terpenggal. Dan untuk yang ini, tertulis atas namanya.”

Hening sejenak, lantunan azan menggema dari musala yang jaraknya sepelemparan batu dari rumah. Ibu dan aku terdiam, menunggu hingga selesai. Baik, aku gentar mendengarnya. Aku bisa membayangkannya. Bulu kudukku bergidik mengingat pepatah Prancis yang mengatakan “L’Histoire se Répète” yakni sejarah mengulang dirinya sendiri. Bukankah di buku-buku yang kubaca, periode tahun 90-an sempat memiliki pola yang sama? Dimana kebebasan bersuara mahal sekali harganya.

“Ibu panik luar biasa, berkali-kali menelepon, berkali-kali bertanya. ‘Kau dimana?’, ‘Apa kau baik-baik saja?’, ‘Hubungi aku jika ada apa-apa’. Ibu adalah gadis sastra yang pencemas. Ibu lupa, bahwa lelaki yang Ibu cintai adalah manusia yang memiliki keberanian luar biasa. Api keberaniannya sungguh membara, bahkan lebih terang daripada rasa cintanya pada Ibu.”

Aku mencengkeram lengan Ibu lebih erat, tak ingin mendengarkan akhir yang sebenarnya sudah bisa kutebak.

“Hari itu, setelah beberapa minggu sulit dihubungi, ia mengajak Ibu pergi ke laut. Ibu pikir, ia mau mengatakan sesuatu, yang romantis tentunya, karena ia telah melamar Ibu dua bulan sebelumnya. Kami naik kereta selama sekitar satu jam untuk menuju garis pantai. Sore itu, ombak terlihat ganas. Pantai sepi, ditambah lagi gerimis. Siapa yang mau mengambil resiko?” Ibu menghela napas, suaranya mulai serak.

“Ia meminta cincin pemberiannya di jari manis Ibu. Lalu Ibu memberikannya tanpa berprasangka apa pun. Tiba-tiba, ia melemparkannya ke gulungan ombak yang tinggi. Ibu terkejut bukan main, dengan nada tinggi bertanya apa yang ia lakukan.”

Aku memejamkan mata.

“Ia… dengan rambut dan wajah dipenuhi butiran air, menatap mata Ibu dalam-dalam. ‘Aku mencintaimu, maka ini harga yang harus kubayar. Tolong… mari kita tuntaskan ini. Aku tidak ingin melibatkanmu.’ Sungguh, suaranya bagai guntur di telinga Ibu. Ibu seketika menangis, memahami arah pembicaraannya, bilang bahwa sungguh tidak apa-apa jika Ibu memang itu yang harus terjadi. Ia tidak harus menempuh semuanya sendirian.”

Ibu menoleh padaku, menyeka pipinya yang basah. “Kau tahu? Apa yang selanjutnya ia katakan? Ibu masih ingat, ia mengusap matanya yang memerah. ‘Menjadi perempuan di negara patriarki ini tak mudah. Aku tahu dengan semua keresahanmu. Terlebih, jika periode sebelum reformasi itu datang kembali. Perempuan … yang akan pertama merasakan getahnya, bertubi-tubi. Kau jangan lupa bahwa gertakan yang datang mula-mula di kantor redaksi ditujukan pada temanku yang perempuan. Aku tidak mau hidupmu menjadi terlampau berat, beban itu akan berlapis-lapis.’ Suaranya bergetar, membuat Ibu tak bisa menyanggah. Meski dalam hati ingin sekali berteriak, memintanya agar sedikit saja mengalah, tetapi mulut ini serasa terkunci.”

Iqamat mulai bersahut-sahutan dari musala dan masjid-masjid di desa sebelah. Aku meremas daster Ibu, ayo teruskan! Sebentar saja.

Ibu mengangguk kecil. “Beberapa hari setelahnya,  media itu merilis pernyataan ‘Kami tidak takut’. Ibu cemas luar biasa. Lebih cemas lagi, ternyata ia sudah membatalkan pesanan undangan di percetakan, menelepon Kakek dan Nenek, bilang bahwa ia sangat meminta maaf dan harus mundur. Kali ini, ia benar-benar tidak meminta pertimbangan dari Ibu. Kali ini, ia melakukan semuanya sendiri tanpa memberi kesempatan pada Ibu untuk memberikan pendapat. Karena ia tahu reaksi Ibu akan seperti apa.”

“Lalu… lalu?” Aku berseru tak sabaran.

Ibu justru hanya tersenyum, melepaskan rengkuhan tanganku. “Sudah maghrib, ayo waktunya salat.”

“Ibu…” Aku memberengut kecewa.

Ibu mengabaikanku, dan melangkah menuju kran belakang dekat dapur. Aku masih mengikuti langkah beliau, sambil berdecak dalam hati. Mulut Ibu berkomat-kamit, membaca doa sebelum wudhu, lantas membasuh kedua tangannya. Hingga selesai wudhu, Ibu masih belum mau membuka mulut. Malah melangkah menuju bilik tempat kami biasa salat.

Sepuluh menit, kami selesai. Masih dengan wajah dibalut mukena, Ibu tiba-tiba mengelus kepalaku dari belakang. Sontak aku memalingkan muka.

“Kau tahu… kau sudah tahu. Namun cukup sampai disitu saja. Boleh Ibu memohon sesuatu?”

Aku ragu-ragu mengangguk.

“Jangan minta Ibu untuk meneruskan kisah itu.”

Aku mengulum bibir, hendak menyela. Tetapi separuh hatiku mencegahnya. Mungkin itu terlalu sakit bagi Ibu, dan aku tak boleh memaksa. Aku seharusnya menyadari, bahwa sedari tadi Ibu bercerita tak sekalipun menyebut namanya.

“Tapi, berarti benar … lagu Gugur Bunga yang Ibu nyanyikan untuk Wira?”

Anggukan lemah Ibu membuat air mataku keluar dari bendungannya. Serta merta aku mencondongkan badan dan memeluk Ibu.

“Apa Ibu masih mencintainya?”

“Ibu sudah menjadi Ibumu, Gayatri. Cinta Ibu untuk keluarga ini.” bisik Ibu.

“Aku bertanya pada Wulan. Wulan yang dulu sangat mencintai Wira, apakah perasaan itu masih sama?”

Ujung dagu Ibu yang mengenai pundakku menjawab semuanya.

Penulis: Abril Nabila T.

Penulis

  • Saya mahasisiwi kelahiran 21 April 2004 yang sedang menempuh pendidikan semester 6 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Saat ini saya menjabat sebagai Redaksi Pelaksana Buletin di LPM Locus UIN Raden Mas Said Surakarta.

Also Read

Tinggalkan komentar