
Pembukaan sesi pertama pasar modal di hari Rabu, 28 Januari 2026 diawali cukup mencengangkan lantaran kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) atas kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai belum memenuhi standar. MSCI meminta agar ada peningkatan transparansi data kepemilikan saham publik atau free float, terkhusus klasifikasi investor. Hal ini memicu gejolak pasar saham hingga mengakibatkan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sempat mengalami trading halt (penghentian sementara aktivitas perdagangan suatu saham -red) dua kali.
Dunia pasar modal digemparkan kembali setelah adanya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan dan digantikan oleh Jeffrey Hendrik selaku Pejabat Sementara (PJS) Direktur Utama PT. BEI pada Jumat 30 Januari 2026. Adapun pengangkatan direksi baru akan dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan mekanisme yang ada pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (PJOK) Nomor 58 Tahun 2016. Iman Rachman menyebut pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab setelah terjadinya gejolak di perdagangan IHSG.
Selasa, 3 Februari 2026, melalui panggilan telepon, reporter Pabelan-online.com berkesempatan untuk melakukan sesi wawancara kepada Akbar Pratama Kartika selaku Direktur Galeri Investasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) untuk mengetahui tanggapannya terkait ambruknya IHSG dan mundurnya Direktur Utama BEI.
Bagaimana tanggapan anda dengan keadaan pasar modal yang anjlok?
Crash kemarin itu memang cukup mengejutkan banyak prediksi, banyak teori itu yang sudah tidak sesuai waktu crash kemarin itu terjadi. Jadi waktu crash kemarin itu tidak hanya di saham kita, tidak hanya di IHSG, Itu di semua market mengalami crash cypto crash, emas dan perak crash, Dow Jones (indeks saham -red) di Amerika juga crash, semuanya crash. Padahal kalau secara teoritis aset kelas investasi ini biasanya saling mengisi kalau satu ada yang turun, biasanya yang lain naik. contoh, biasanya kalau aset-aset investment seperti saham itu turun, emas naik, biasanya seperti itu nah, kemarin itu cukup anomali, tidak seperti biasanya.
Apa yang menjadi penyebab beberapa indeks global maupun indeks di Indonesia mengalami crash?
Paling besar pengaruhnya itu dampak dari ketidakpastian global seperti yang sudah kita tahu, banyak tensi persaingan antar negara ini sedang memanas kita bisa lihat sepak terjangnya Trump itu luar biasa, menculik presiden itu luar biasa sekali itu, apa yang dilakukan Trump. Terus China dengan Taiwan yang masih tarik-menarik untuk menguasai pasar semikonduktor. Jadi tensi di geopolitik di dunia ini itu salah satu faktor utama. Jadi orang ini semakin takut, mereka mau menaruh uangnya ke instrumen apapun itu takut. Jadi banyak keputusan akhirnya yang diambil oleh para investor-investor ini mereka menarik uangnya di seluruh instrumen.
Khusus untuk IHSG itu relatif ke kondisinya sedikit lebih parah dibandingkan market yang lain Itu salah satu driver-nya adalah dari press release-nya si MSCI. Seperti yang sudah kita tahu, MSCI itu lembaga yang sangat dipercaya. Jadi, tidak hanya perorangan, bahkan institusi maupun negara Itu banyak yang dalam tanda kutip mengimani gerakannya MSCI ini. Karena kredibilitas dia itu punya pengaruh yang besar. Jadi bisa dibayangkan kalau lembaga sebesar itu men-state kalau performa atau operasi, bentuk operasi di perusahaan kita itu kurang transparan. Bahkan mereka berencana untuk menurunkan grade dari market kita. Dari awalnya emerging market itu ke level yang lebih bawah Itu sentimen yang luar biasa. Jadi sudah tensi geopolitik lagi tegang ditambah lagi ada keputusan dari MSCI mengenai IHSG yang seperti itu, semakin memperparah kondisi dari indeks saham kita. Jadi bisa dilihat waktu crash itu asing banyak sekali yang keluar.
Bagaimana hasil negosiasi BEI dan OJK dengan MSCI?
Kalau dari hasil negosiasinya sudah cukup bagus bursa kita itu cukup kooperatif. Mereka menerima kritik, mereka memahami masalah transparansi, penentuan perhitungan free float dan sebagainya itu sudah tertulis dan disepakati di waktu negosiasi itu. Cuman yang perlu kita tindak lanjuti adalah tetap mengawal karena hasil itu kan masih di atas kertas. Jadi perlu ada aksi yang nyata, aksi yang beneran dilakukan untuk memperbaiki kualitas pengelolaan pasar saham kita.
Apakah BEI harus berkiblat kepada MSCI?
Sebenarnya kalau secara keharusan, ya kita tidak ada keharusan. Kita mengejar kriteria yang ditetapkan oleh MSCI itu juga tidak perlu sebenarnya. Cuma, kalau kita mengejar kriteria yang sudah ditentukan, ya standar-standarnya MSCI Itu keuntungannya banyak. Karena itu tadi, MSCI ini sudah sangat diakui. Jadi, banyak orang yang langkah investasinya itu mengiblat ke MSCI Itu flow money-nya luar biasa. Jadi ketika MSCI sudah menentukan mana yang masuk, mana yang keluar, itu flow-nya luar biasa, itu karena yang mengikuti dia banyak. Jadi apakah harus mengikuti? Ya tidak harus. Cuma, kalau mengikuti, keuntungannya banyak Itu, kenapa MSCI ini menjadi salah satu urgensi.
Lalu bagaimana pendapat anda terkait direktur utama yang mengundurkan diri?
Kita perlu apresiasi direktur utama dari BEI itu mengundurkan diri, merupakan salah satu “Ksatria” ketika dia gagal mengemban amanah yang sudah diberikan. Cuma yang lebih penting dari masalah itu adalah, apa strategi kedepannya, kita sudah punya hasil negosiasi kemarin, bahkan OJK juga terlibat. Lalu, apa rencana ke depan yang mau bursa kita lakukan. Kita tidak hanya bisa menggantungkan hasil-hasil itu yang di atas kertas saja, kita perlu target-target mereka mau menyelesaikan masalah ini selama berapa hari, strateginya bagaimana, langkah apa yang akan dilakukan. Harusnya bisa segera disusun dengan jelas supaya masyarakat juga tahu investor baik domestik maupun di luar negeri juga bisa melihat. Supaya sentimen investor melihat market kita itu jadi lebih baik.
Apa tujuan trading halt?
Sebagai langkah preventif ketika terjadi hal yang tidak diinginkan. Harga suatu emiten itu entah turun terlalu dalam atau naik terlalu tinggi akan dilakukan pembatasan. Motifnya bagus dari perusahaan kita ini untuk melindungi investor. Jadi policy trading halt itu cukup umum, banyak market yang menerapkan karena memang tujuannya bagus untuk melindungi investor-investor yang ada di dalam market.
Kapan mahasiswa bisa memulai investasi?
Pertama Kalian harus memahami dulu investasi itu bukan jalan pintas jadi kaya cepat, bukan seperti itu, itu yang harus dipahami terlebih dahulu. Lalu style investment itu juga macam-macam ada yang suka fundamental, ada yang suka teknikal. Silakan kalian pelajari semua dan tentukan style kalian yang mana. Saran saya, ada buku yang bagus Itu judulnya “Investor Intelligence” punyanya Benjamin Graham, masalah knowledge ini yang pertama. Kedua, yaitu membiasakan diri, itu yang susah. Pembiasaan ini butuh waktu kalau teman-teman mahasiswa sudah bisa mulai sejak dia masih kuliah, waktu nanti kerja udah enak, dia sudah terbiasa, jadi dia lebih tenang.
Di mana mahasiswa bisa mulai untuk berinvestasi?
Saya tidak bisa pendapat karena terkait brand. Jadi, silakan dipilih aja ada sekuritas yang menawarkan User Interface-nya yang lebih sederhana, lebih friendly, ada yang fiturnya lebih banyak, lebih advanced itu juga ada. Itu silakan dipilih sendiri, insyaallah kalau sudah beredar misal di App Store atau Play Store sudah tersedia, insyaallah itu sudah aman, sudah pasti legalitasnya jelas, sudah pasti diawasi dan insyaallah tidak akan ada masalah.
Apa harapan setelah adanya kejadian ini?
Harapannya kondisi ini hanya sebuah momen yang sementara, momen yang insidental, bukan menjadi faktor yang berat sehingga kita susah recover (pulih -red). Setelah kondisi ini tensi geopolitik bisa mereda, lalu dari BEI khususnya bursa efek itu bisa negosiasi ulang dengan MSCI. Mereka harus refleksi, menerima masukan, kritik dan kekurangan mereka dalam mengelola sistem saham kita, supaya sentimennya investor baik domestik dan internasional itu melihat market kita bagus. Jadi mereka masuk lagi, kalau sentimennya sudah bagus insyaallah recovery-nya juga akan semakin cepat dan crash-nya ini tidak berkepanjangan.
Reporter: Nizam Rifyal Aufa
Editor: Aqnan Syandi Syahsena








