LPM Pabelan

Sumber: Canva.com

Nama Hantavirus mendadak ramai diperbincangkan setelah wabah yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius pada Mei 2026 dilaporkan menewaskan tiga orang dari delapan kasus yang dikonfirmasi oleh World Health Organization (WHO). Di Indonesia, meski kasus pertama sudah tercatat sejak 1991, virus ini masih kerap luput dari radar masyarakat. 

Gejalanya yang mirip flu biasa membuatnya mudah terlewat. Bahkan, Kementerian Kesehatan yang dikutip oleh Tempo.co menyebut ini sebagai “fenomena gunung es”: kasusnya ada, tapi banyak yang tidak terdeteksi. Lalu, seberapa besar ancaman Hantavirus bagi Indonesia? Dan sejauh mana kesiapan kita untuk menghadapinya? Pabelan-online.com mewawancarai dr. Listiana Masyita Dewi (dr. Syita), dosen sekaligus pengelola Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu

Apa sebenarnya Hantavirus?

Hantavirus sebenarnya bukan temuan baru di dunia kedokteran. Hantavirus pertama kali dikenali sebagai penyebab penyakit pada manusia saat terjadi wabah “Korean hemorrhagic fever” pada tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama Perang Korea tahun 1951–1954, dengan sekitar 3.200 kasus dilaporkan di dekat Sungai Hantan, Korea. Nama Sungai Hantan kemudian diabadikan sebagai nama virus penyebabnya. Di Indonesia sendiri, kasus Hantavirus pertama dilaporkan pada tahun 1991, berupa tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), dan seluruh kasus konfirmasi di Indonesia hingga kini didominasi oleh strain Seoul virus.

Hantavirus sendiri berasal dari kelompok virus Ribonucleic Acid (RNA), genus Orthohantavirus, yang secara alami hidup pada hewan pengerat (rodensia) sebagai reservoir utamanya. 

Hantavirus sedang trending kembali karena adanya wabah Hantavirus multinegara pada penumpang kapal pesiar MV Hondius pada Mei 2026 yang menyebabkan beberapa kematian. WHO melaporkan sedikitnya 8 kasus dengan 3 di antaranya berujung pada kematian. 

Seberapa berbahaya Hantavirus?

Ketika seseorang sudah positif terinfeksi Hantavirus, perkembangan penyakit tersebut memang dapat tergolong mengancam jiwa. Namun, tidak selalu seperti itu. Penderita Hantavirus juga dapat sembuh kembali. Yang perlu diperhatikan juga bahwa penularannya tidak cukup mudah dan perkembangan penyakit pada seseorang juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti tingkat imunitasnya ataupun  penanganan yang diberikan padanya. 

Kemenkes sendiri menyebut ini masih “fenomena gunung es” di Indonesia. Menurut Anda, seberapa mengkhawatirkan kondisi ini?

Kasus Hantavirus belum banyak dilaporkan di Indonesia, karena sebagaimana penyakit akibat infeksi virus pada umumnya, pada tahap awal perkembangan penyakitnya, gejala yang ditimbulkan relatif sama, yaitu demam tinggi, nyeri otot, penurunan nafsu makan, serta badan terasa lemah, atau biasa disebut juga sebagai “flu like syndrome” 

Selain itu, Hantavirus sendiri merupakan infeksi virus yang distribusinya bersifat global, tidak terkait iklim tertentu, sedangkan Indonesia sendiri adalah negara tropis yang saat ini juga sedang berjuang mengeliminasi sejumlah penyakit tropis, seperti demam berdarah, malaria, dan tuberkulosis, yang, sebagaimana kita tahu, kejadian kasus-kasus tersebut masih terpantau dari waktu ke waktu (belum bisa tereradikasi). Fokus surveilans nasional tidak terpusat pada kasus Hantavirus ini. 

Meskipun demikian, bukan berarti kita bisa mengabaikan kasus Hantavirus ini. Kewaspadaan tetap perlu dilakukan untuk mencegah penularan, apalagi sudah ada laporan kasus baru di Indonesia. Namun, kewaspadaan ini jangan sampai menimbulkan keresahan di masyarakat.

Bagaimana virus ini bisa sampai ke manusia? Apakah bisa menular seperti halnya COVID-19?

Pada dasarnya, Hantavirus ini secara alami hidup pada hewan pengerat, atau rodent, atau tikus. Dengan kata lain, rodent adalah reservoir alaminya, sehingga penularan utamanya adalah melalui kontak langsung terhadap produk dari si tikus itu, seperti urin, feses, maupun air liurnya. Penularan juga dapat terjadi melalui proses aerosolisasi, yaitu menghirup debu yang telah terkontaminasi urin/feses tikus sebelumnya (urin / feses tikus yang mengering).

Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Kasus penularan antarmanusia yang pernah dilaporkan yaitu terkait dengan infeksi Hantavirus dari jenis Andes virus. Namun, penularan antarmanusia tersebut diketahui harus melalui proses kontak erat dengan cairan tubuh atau droplet pasien pada fase awal penyakit, misalnya pada anggota keluarga atau tenaga kesehatan yang merawat pasien secara dekat.

Kekhawatiran yang terjadi saat ini sebenarnya lebih dikarenakan adanya pelacakan antarnegara pada penumpang kapal pesiar MV Hondius yang beberapa waktu lalu dilaporkan positif terinfeksi Hantavirus dan dicurigai menderita virus Andes. Pelacakan antarnegera inilah yang mengingatkan kita kembali pada apa yang terjadi saat wabah COVID-19 lalu. 

Pelacakan penumpang kapal pesiar MV Hondius tersebut ditujukan agar keluarga pasien maupun tenaga medis yang merawatnya juga dapat menerapkan kewaspadaan universal dalam pengelolaan pasien, sehingga dapat mencegah distribusi lebih lanjut. Namun, sekali lagi perlu ditekankan bahwa penularan Hantavirus antarmausia sangatlah minim jika dibandingkan dengan penularan COVID-19 yang sangat mudah menular lewat udara.

Apakah ini berpotensi lockdown lagi seperti saat COVID-19?

Potensi lockdown tentu saja ada, tapi bisa dikatakan tergolong sangat kecil. Penularan utama Hantavirus adalah melalui kontak dengan produk dari reservoir utamanya, yaitu tikus. Dengan demikian, dengan adanya pengelolaan yang baik terhadap keberadaan tikus serta kewaspadaan saat melakukan kontak dengan produk-produknya (misalnya saat membersihkan area yang kemungkinan ditinggali tikus, seperti kendang, atap rumah, dll.), potensi penularan Hantavirus dapat ditekan. 

Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan COVID-19 kemarin yang sangat mudah menular lewat udara. Bahkan hanya dengan berhadapan saja, tanpa adanya kontak fisik, risiko penularan cukup besar. Terlebih lagi, penularan COVID-19 juga dilaporkan dapat terjadi melalui kontak fisik, bahkan lewat fomites (kontak terhadap benda mati yang memungkinkan keberadaan virus).

Pemerintah bilang di Indonesia hanya ditemukan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), bukan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Apa bedanya dua tipe ini dan apakah tenaga kesehatan di lapangan sudah bisa membedakannya?

Secara sederhana, berdasarkan manifestasi klinis dan distribusinya, maka Hantavirus dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu :

  1. Old World Hantaviruses 
  • Banyak ditemukan di Asia dan Eropa
  • Terutama menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
  • Contohnya: Hantaan virus, Seoul virus, Puumala virus, Dobrava-Belgrade virus
  1. New World Hantaviruses
  • Banyak ditemukan di Amerika Utara dan Selatan
  • Terutama menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau HCPS
  • Contohnya: Sin Nombre virus, Andes virus, Laguna Negra virus, Black Creek Canal virus

Gejala awal keduanya sama, sehingga sering kali sulit dibedakan, bahkan dengan infeksi virus lain. Gejala lebih lanjut antara keduanya memang berbeda, di mana gejala HFRS lebih menonjol pada gangguan ginjal, seperti hipotensi, perdarahan, bahkan bisa terjadi syok; sedangkan gejala HPS lebih menonjol pada gangguan pernapasan, seperti sesak napas, edema paru, hingga gagal napas. 

Namun, gejala lanjut HFRS dan HPS tersebut juga dapat ditemukan pada sejumlah penyakit ginjal dan paru lainnya, sehingga jika hanya mengandalkan gejala yang ditimbulkan, maka akan cukup sulit untuk membedakannya. Peran anamnesis (wawancara) lebih lanjut, terutama terkait riwayat kontak dengan rodent, akan sangat membantu mengarahkan diagnosis. 

Gejala awalnya seperti apa? Kapan seseorang harus mulai curiga dan segera pergi ke dokter?

Masa inkubasi (waktu dari paparan hingga munculnya gejala) biasanya berkisar antara 1 hingga 8 minggu.  

Gejala Awal (1-5 hari pertama), disebut “Flu-like syndrome” karena menyerupai gejala infeksi virus pada umumnya, yaitu seperti yang terlihat saat awal terkena flu, antar lain 

  1. Demam tinggi dan menggigil
  2. Nyeri otot yang parah (terutama pada kelompok otot besar seperti paha, punggung, bahu, dan pinggul)
  3. Kelelahan yang ekstrem
  4. Sakit kepala, pusing, serta masalah pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut

Kita perlu curiga Hantavirus bila seseorang mengalami demam akut disertai nyeri otot hebat, sakit kepala, mual, atau sesak napas setelah memiliki riwayat paparan rodensia atau lingkungan yang terkontaminasi tikus, misalnya membersihkan gudang, rumah kosong, atau area banyak tikus dalam beberapa minggu sebelumnya. Kecurigaan semakin kuat bila muncul gejala fase lanjut seperti sesak napas progresif (mengarah ke HPS) atau penurunan jumlah urin dan tanda perdarahan (mengarah ke HFRS).

Siapa yang paling rentan terkena Hantavirus? Lingkungan seperti apa yang paling berisiko?

Mengingat bagaimana mekanisme penularannya, orang yang paling rentan terkena Hantavirus adalah mereka yang sering terpapar tikus atau lingkungan yang terkontaminasi urin, feses, dan saliva tikus. Kelompok berisiko tinggi ini antara lain petani, pekerja gudang, petugas kebersihan, pekerja konstruksi, tentara, peneliti lapangan, serta orang yang tinggal atau bekerja di tempat dengan infestasi tikus. 

Lingkungan yang paling berisiko biasanya berupa tempat tertutup dengan ventilasi buruk dan banyak debu, seperti gudang, lumbung, rumah kosong, kabin lama, atau area penyimpanan makanan. Penularan terutama terjadi ketika partikel debu yang mengandung kotoran atau urin tikus kering terhirup ke saluran napas saat membersihkan atau beraktivitas di tempat tersebut. Risiko juga meningkat pada lingkungan dengan sanitasi buruk, kepadatan rodensia tinggi, dan kondisi pascabanjir yang meningkatkan kontak manusia dengan tikus.

Apakah kelompok rentan sudah mendapat perlindungan dan edukasi yang cukup selama ini?

Secara umum, perlindungan dan edukasi terhadap kelompok rentan seperti pekerja pelabuhan dan petani di Indonesia bisa dikatakan masih belum optimal.

Jika pekerja tersebut berada di bawah naungan suatu perusahaan, maka biasanya perusahaan tersebut juga sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait kewaspadaan universal, seperti menggunakan masker ataupun sarung tangan. Namun terkadang, yang menjadi kendala adalah apakah SOP tersebut dikerjakan atau tidak.

Untuk kelompok petani, meskipun tidak berada di bawah naungan suatu perusahaan, sering kali edukasi terkait kewaspadaan universal juga diberikan oleh pemerintah desa atau petugas kesehatan dari puskesmas setempat. 

Namun demikian, edukasi yang diberikan masih sebatas kewaspadaan universal, belum spesifik terkait pencegahan terhadap Hantavirus, mengingat kejadian Hantavirus di Indonesia belum banyak dilaporkan.

Dari sisi sistem kesehatan, apakah Indonesia sudah cukup siap mendeteksi penyakit seperti ini sejak dini?

Dari sisi sistem kesehatan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki dasar surveilans dan respons terhadap penyakit menular yang cukup baik, terutama setelah pengalaman menghadapi COVID-19. Jaringan laboratorium, sistem pelaporan kewaspadaan dini, serta koordinasi antara Kemenkes, rumah sakit, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan sudah lebih siap dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Namun, untuk penyakit seperti Hantavirus, tantangannya masih cukup besar karena kasusnya jarang dikenali, gejalanya mirip dengan Dengue atau Leptospirosis, dan pemeriksaan spesifiknya belum tersedia luas di banyak daerah. Akibatnya, kemungkinan masih ada kasus yang tidak terdiagnosis atau tercatat sebagai penyakit lain.

Kesiapan Indonesia saat ini lebih kuat pada tahap deteksi awal terhadap adanya kejadian luar biasa atau klaster penyakit, tetapi belum sepenuhnya optimal untuk memastikan diagnosis Hantavirus secara cepat dan merata.

Kapasitas laboratorium molekuler memang meningkat pascapandemi, namun pemeriksaan Hantavirus masih terbatas di laboratorium rujukan tertentu. Selain itu, awareness tenaga kesehatan terhadap Hantavirus juga masih perlu ditingkatkan agar penyakit ini masuk dalam diagnosis banding pada pasien dengan demam, trombosit turun, gangguan ginjal, atau riwayat paparan tikus. Karena itu, penguatan surveilans zoonosis, edukasi tenaga kesehatan, serta integrasi pendekatan One Health antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan masih menjadi kebutuhan penting untuk deteksi dini penyakit seperti ini.

Standar diagnosisnya disebut pakai Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan  Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Apakah fasilitas ini sudah tersedia merata, termasuk di daerah-daerah terpencil?

Fasilitas ELISA dan RT-PCR saat ini sudah cukup banyak tersedia di sejumlah daerah, setelah pengalaman COVID-19 kemarin, tetapi dapat dikatakan jumlahnya belum merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Fasilitas tersebut masih secara dominan tersedia di rumah sakit besar.

Menurut Anda, apakah pedoman resmi Kemenkes sudah cukup memadai dan realistis untuk diterapkan di lapangan?

Pedoman Kemenkes yang baru diterbitkan sebenarnya sudah cukup baik sebagai langkah awal karena isinya menekankan hal-hal yang memang paling penting dalam pengendalian Hantavirus, seperti surveilans, kewaspadaan dini, pengendalian tikus, penggunaan APD saat membersihkan area berisiko, serta koordinasi lintas sektor melalui pendekatan One Health

Pedoman ini juga realistis dalam arti tidak langsung mendorong tindakan ekstrem seperti saat pandemi COVID-19, karena hingga kini kasus di Indonesia masih didominasi oleh strain Seoul virus dengan pola penularan dari rodensia, bukan penularan antarmanusia seperti Andes virus

Namun, tantangan terbesarnya justru ada pada implementasi di lapangan. Banyak daerah masih memiliki keterbatasan, seperti akses pemeriksaan laboratorium spesifik, kapasitas surveilans zoonosis, pengendalian rodensia, serta edukasi masyarakat dan pekerja berisiko.

Sampai sekarang, sudah ada vaksin atau obat khusus untuk Hantavirus?

Saat ini belum ada vaksin Hantavirus yang digunakan secara luas secara global seperti vaksin COVID-19 atau influenza. Namun, beberapa negara memang sudah mengembangkan vaksin tertentu, terutama untuk tipe hantavirus penyebab Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Contohnya: Korea Selatan memiliki vaksin inaktif bernama Hantavax untuk Hantaan virus dan Seoul virus, namun masih belum disetujui penggunaannya secara luas oleh WHO 

Kalau belum ada, apa yang membuat pengembangan vaksin untuk virus seperti ini begitu sulit?

Kendala yang ditemui saat ini terutama karena banyaknya jenis Hantavirus yang berbeda antar wilayah di dunia, dengan angka kejadian yang masih relatif terbatas, serta respon imun protektif manusia terhadap Hantavirus yang belum sepenuhnya dipahami

WHO sudah bilang ini bukan pandemi baru. Tapi dari kacamata epidemiologi lokal, ancaman apa yang tetap perlu Indonesia waspadai ke depan?

Meski WHO menyatakan Hantavirus bukan pandemi baru, Indonesia tetap perlu waspada karena memiliki banyak faktor risiko zoonosis, seperti tingginya populasi tikus di permukiman, pelabuhan, pasar, gudang, dan area pertanian, ditambah kondisi sanitasi serta perubahan lingkungan yang dapat meningkatkan kontak manusia dengan rodensia. Ancaman terbesar ke depan kemungkinan bukan penularan antarmanusia secara luas, melainkan keterlambatan deteksi karena gejalanya mirip dengue atau leptospirosis sehingga kasus mudah terlewat. Selain itu, mobilitas internasional melalui pelabuhan dan bandara juga perlu diperhatikan, sehingga penguatan surveilans, kapasitas laboratorium, edukasi tenaga kesehatan, dan pendekatan One Health tetap penting untuk mendeteksi penyakit emerging sejak dini.

Seberapa besar peran edukasi kebersihan lingkungan dalam mencegah Hantavirus?

Edukasi kebersihan lingkungan memiliki peran yang sangat besar dalam pencegahan Hantavirus karena hingga saat ini belum ada terapi spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas, sehingga pencegahan utama bergantung pada pengurangan kontak manusia dengan tikus dan kotorannya.

Edukasi penting agar masyarakat memahami cara menyimpan makanan dengan aman, mengendalikan populasi tikus, menjaga ventilasi dan kebersihan rumah atau gudang, serta membersihkan area tercemar dengan cara yang benar tanpa menimbulkan debu yang dapat terhirup. 

Menurut anda, Apakah kesadaran masyarakat kita soal penyakit dari hewan ini sudah cukup baik?

Secara umum, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap penyakit zoonosis masih belum merata. Banyak orang masih menganggap tikus hanya sebagai hama biasa dan belum memahami bahwa hewan tersebut dapat membawa berbagai penyakit serius seperti Leptospirosis dan Hantavirus. 

Awareness masyarakat biasanya baru meningkat ketika muncul wabah besar atau pemberitaan media, sehingga edukasi yang berkelanjutan dan berbasis komunitas masih sangat diperlukan.

Reporter: Muhammad Syukron

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar