LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Irsyada Al Mumtaz

Pabelan-online.com, UMS – Kabar mundurnya Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Nur Rizqi Febriandika dari jabatannya mencuat setelah ia berpamitan dan tidak bermukim lagi di Pondok Shabran per tanggal 5 Mei 2025. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak universitas maupun Pondok Shabran.

Pada Selasa, 22 April lalu, beredar pesan yang diteruskan berkali-kali di grup WhatsApp mahasantri Pondok Shabran yang menyatakan bahwa Direktur pondok itu, Nur Rizqi Febriandika berpamitan dan meminta maaf karena sudah tak lagi bermukim di pondok tersebut.

Namun, saat dikonfirmasi baik melalui WhatsApp maupun ditemui langsung, Rizqi enggan memberikan keterangan soal pengunduran dirinya saat ditemui oleh reporter Pabelan-online.com.

Em Sutrisna, selaku Wakil Rektor IV, membantah keterangan adanya kabar pergantian Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. Em menegaskan, saat ini posisi tersebut masih dijabat oleh Nur Rizqi Febriandika. “Kabar tidak benar. Tidak ada penggantian Direktur Shabran,” pesannya pendek via WhatsApp, Jumat (2/5/2025).

Seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan bahwa alasan utama Rizqi meninggalkan jabatan Direktur Shabran karena ia tengah dalam persiapan melanjutkan studinya ke Inggris, tepatnya di Kota Newcastle. Namun, dengan hilangnya kepemimpinan Rizqi sebagai Direktur Shabran tetap tidak mengubah suasana dan berjalannya kegiatan di dalam pondok.

“Menurut saya, suasananya (red– Pondok Shabran) masih biasa saja, baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan-kegiatan lain di Shabran,” ucapnya pada Selasa (06/05/2025).

Menurut kabar yang beredar dalam lingkungan pondok, muncul nama-nama calon yang bakal menggantikan Rizqi sebagai Direktur Pondok Shabran, seperti Yayuli dan Isman. Namun, proses pergantian ini akan dilaksanakan setelah jabatan direktur sebelumnya habis, yang berarti kisaran bulan Juli sampai Agustus. 

“Ustadz Andika yang awalnya itu selesai jabatannya di bulan Juli atau Agustus kalau tidak salah, beliau mengundurkan diri lebih awal,” ujarnya.

Selama masa kekosongan ini, tanggung jawab di lingkungan Pondok Shabran menjadi tanggung jawab para pembina yang telah bermukim sebelum Rizqi meninggalkan pondok.

Dalam pamitannya bersama para mahasantri Pondok Shabran, Rizqi mengungkapkan bahwa alasan lain ia meninggalkan Pondok Shabran berkenaan dengan proses penerimaan calon mahasantri baru Shabran yang telah dilaksanakan beberapa waktu kemarin. Hal ini dikarenakan ada hal yang tidak sesuai dengan idealismenya sebagai Direktur Pondok Shabran.

Dalam masa kekosongan kursi Direktur Pondok Shabran, mahasiswa tersebut mengingatkan agar calon direktur selanjutnya terus mengutamakan pengkaderan yang menjadi landasan kultural berdirinya Pondok Shabran oleh Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara peningkatan kemampuan kader dan keterlibatan sosial di masyarakat, karena ilmu yang tinggi akan sia-sia tanpa kemampuan berinteraksi dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Mungkin periode pak Andika jelas ada kurang dan lebihnya, semoga yang kurang dapat dievaluasi oleh para pembina dan menjadikan Shabran tahun kedepan menjadi lebih baik lagi, mulai dari segi kultural pengkaderannya, maupun kegiatan belajar mengajar dan bersosial masyarakatnya” harapnya.

Reporter: Edgar Ramadhan Fawwaz Rizqullah

Editor: Aqill Adhitya

Also Read

Tinggalkan komentar