LPM Pabelan

Meme: Pabelan Online/Syahda Ekayaniputri Anwarawati

Mahasiswa baru sebetulnya tak perlu kaget manakala menyaksikan kakak tingkatnya ada yang bisa seberani itu membantah dan mendebat dosennya ketika kuliah di kelas. Fenomena seperti ini menjadi tampak ganjil bahkan absurd dikarenakan kultur di kampus, fakultas, atau sirkel Anda memang sudah se-anti intelek itu. Membantah atau mendebat dosen sejatinya hanyalah sebuah wasilah dalam berdiskursus. Tidak lebih.

Dalam konteks yang lebih luas, mahasiswa, apalagi Anda yang sudah semester tua, tak usah pula terheran-heran dengan teman yang seberani itu mengkritik pemerintah, baik dalam perbincangan atau pun lewat tulisan dan media sosial mereka. Alih-alih tampak seperti kagum atau takjub, itu lebih mirip seperti penghinaan. 

Artinya, apatisme Anda terhadap politik memang sudah separah itu—sampai-sampai tak tahu jika setiap orang di negeri ini mempunyai hak kebebasan berpendapat, dan itu dijamin oleh konstitusi. Memangnya apa yang Anda peroleh dari berkuliah mahal dan berorganisasi siang-malam?  

Saat berbincang, misalnya, tak sedikit mahasiswa yang masih ketakutan ketika mendengar temannya menyebut-nyebut nama politikus dan instansi yang korup. Bahkan sekadar menyebut suatu kasus pun, teman-temannya akan ber-ssshhhh Stop, stop. Awas. Jangan, yaa!” yang entah apa pula itu maksudnya. 

Apakah Anda memang seapatis itu sampai tak tahu kalau mengkritik pemerintah dan instansi yang morak-marik bahkan bukanlah sebuah kesalahan? Sebuta itukah Anda terhadap politik? Mengapa harus takut membahas negara, politikus, dan instansi yang bobrok? Apakah memang sekhawatir itu dicokok aparat? Mengapa harus ikut-ikutan sok khawatir padahal Anda hanya tak tahu jika itu bahkan bukanlah tindak pidana?

Padahal, kemampuan dan keberanian berpendapat pada setiap orang sejatinya merupakan bare minimum yang harus dimiliki setiap masyarakat, apalagi mahasiswa. Gelisah dengan tindak-tanduk pemerintah adalah sekecil-kecilnya wujud kewarasan. Bisa-bisanya Anda malah bodo amat dengan politik, sementara setiap jengkal garis takdir Anda bahkan dipengaruhi oleh kebijakan dan tindak-tanduk pemerintah. 

Buta huruf terburuk adalah buta huruf politik. Ia tak mendengar, tak berbicara, dan tak berpartisipasi dalam politik. Ia tak tahu harga hidup, harga kacang, ikan, tepung, sewa, sepatu, dan obat-obatan, semuanya bergantung pada keputusan politik. Begitu bodohnya orang buta huruf politik hingga ia sombong dan membusungkan dada, mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, politisi buruk, koruptor, dan antek perusahaan nasional dan multinasional.” —Bertolt Brecht

Meskipun, kapasitas tersebut tentu modalnya tidak hanya mental yang tangguh atau keberanian semata. Sebab, konsekuensi dari menyuarakan pendapat adalah mendapat resistensi. Jika hanya punya modal keberanian, Anda akan rentan kehabisan argumen ketika dikritik dan didamprat oleh orang lain yang menentang pendapat Anda.

Inilah fungsinya mempunyai modal kekayaan wawasan, karena dengan itu, seseorang akan lebih siap menghadapi resistensi publik, bahkan menginginkan sebuah pertentangan dari orang banyak. Makin kontroversial suatu pendapat, makin intens pula diskursus yang tercipta dari sebuah perdebatan.

Sayangnya, wawasan hanya bisa dimiliki dengan meningkatkan literasi. Wajar jika seseorang, khususnya mahasiswa tak akan pernah mempunyai sikap, tak bisa berpendapat, dan tak tahu harus berkomentar apa dikarenakan minimnya wawasan yang mereka miliki. Maka amat wajar jika orang tak akan pernah bisa punya wawasan karena literasi yang memadai pun tidak. 

Dalam novel Cantik Itu Luka, Dewi Ayu bilang bahwa ketakutan itu lahir karena ketidaktahuan. Maka, sudah mentalnya lembek, jongkok pula literasinya. 

Faktor lain, sejumlah dosen di sejumlah fakultas kampus Muhammadiyah itu pun ditengarai memiliki antipati terhadap politik. Bagi dosen yang tersinggung membaca tulisan ini, bagus! Akui saja kalau Anda memang menjauhkan mahasiswa Anda dari apa pun yang berbau politik. Lewat perkuliahan, dosen secara perlahan menyublimkan doktrin agar tak usah membahas hal-hal yang menyangkut isu politik.

Sudah buta politik (atau bahkan buta segalanya), masih menutup mata pula adanya fakta bahwa mereka sangat dirugikan oleh pemerintah. Selamat, wahai dosen-dosen yang anti politik, Anda sukses menjadikan mahasiswa Anda benar-benar buta dan apatis terhadap masalah-masalah yang ada. Anda telah berkontribusi dalam agenda pembodohan massal mahasiswa terhadap politik.

Seorang dosen mungkin saja tidak buta politik. Sebaliknya, ia boleh jadi begitu melek dengan masalah-masalah yang ada. Namun, pikiran yang seperti itu sungguh terlalu dangkal, atau terlalu paranoid—takut dengan resistensi mahasiswa dan merasa lebih gampang mencegah pemahaman politik dengan otoritas yang dimiliki, ketimbang meladeni mereka untuk berdiskursus. 

Siapa pula mahasiswa yang tak takut diberi nilai D atau E hanya karena dosennya mengambek saat mahasiswa berani mendebat? Dosen yang mudah melibatkan emosi dan merajuk ketika mengajar adalah tindakan yang tidak bijaksana dan professional.

Padahal, ketimbang menjauhkan mahasiswa dari isu-isu politik dan menganggap hal-hal yang berkaitan dengan politik sebagai momok, dosen sangat bisa menjadikan isu itu sebagai kajian materi atau studi kasus dalam memberi tugas pada mahasiswa. Tak semestinya dosen memilih cara yang destruktif—mencegah mahasiswanya melek politik.

Lebih jauh, ini jelas tidak lepas dari rektor yang juga terkesan berjarak dengan hal ihwal politik; enggan menyatakan sikap kritis terhadap penyelenggara negara dan memilih “bermain aman” dalam membuat pernyataan sikap. Maka seperti inilah turunannya: dosen pun tinggal meneladan cara atasan bertindak. 

Di sisi lain, mahasiswa, baik yang baru maupun yang sudah semester tua juga tak mau ambil pusing. Lebih baik memilih “main aman” ketimbang menuruti hasrat idealisnya tetapi nilai IPK serta mimpi cumlaude-nya justru terancam sirna. Maka, sempurna sudah praktik pembodohan massal mahasiswa terhadap isu politik di UMS. 

Penulis: Orang Dekat Dosen

Also Read

Satu pemikiran pada “Pembodohan Politik Massal Mahasiswa UMS”

  1. Lah..
    terus kenapa penulis malah anonim ya, seolah takut berpendapat..
    Padahal yang ditulisnya “kritikan” yang baik..

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Aria Wibawa Batalkan balasan