
Judul : Noroi (the Curse)
Sutradara : Kôji Shiraishi
Produser : Takashige Ichise
Pemeran :
- Jin Muraki (Masafumi Kobayashi)
- Marika Matsumoto (Marika)
- Rio Kanno (Kana Yano)
- Tomono Kuga ( Junko ishii)
- Satoru Jitsunashi (Mitsuo Hori)
Penyunting : Nobuyuki Takahashi
Distributor : Cathay-keris Films
PMP Entertainment
Universe Laser & Video Co. Ltd.
Tanggal Rilis : 20 Agustus 2005
Negara : Jepang
Durasi : 1 jam 55 menit
Genre : Horor, found footage
Film bertema horor dengan kualitas video yang jernih ditambah adegan penampakan dan jumpscare yang membuat penonton ketakutan mungkin sudah biasa kita temui. Akan tetapi, apakah kalian pernah mendengar bahkan menonton film horor yang menggunakan gaya Mockumentary? Sederhananya, mokumenter ini merupakan jenis film fiksi yang diproduksi seolah-olah seperti film dokumenter. Ciri khas dari film ini memberikan kesan bahwa tayangan tersebut merupakan sesuatu yang nyata. Maka dari itu, film Noroi: The curse yang menggunakan perpaduan tema horor dan gaya film mockumentary memberikan pengalaman baru untuk penontonnya.
Film ini menceritakan seorang wartawan bidang supranatural, bernama Masafumi Kobayashi. Kobayashi telah menulis beberapa buku tentang fenomena supranatural sejak 1995. Ia mengumpulkan kejadian dan misteri mengerikan yang tak terpecahkan, hingga akhirnya Kobayashi memulai melakukan penelitian investigasinya dengan bentuk rekaman video. Kasus terakhirnya selesai pada tahun 2004 dengan judul Noroi (Red-kutukan), kisah penelitiannya akan dibahas dalam film ini.
Penelitian dimulai dengan mendatangi rumah seorang wanita bernama Ryoko Okui yang meminta bantuan karena kerap mendengar suara tangisan bayi dari rumah tetangganya. Padahal, tetangganya tersebut tidak memiliki anak bayi. Melainkan anak berusia enam dan sembilan tahun. Kobayashi dan kameramen bernama Miyajima pergi ke rumah tetangga Ryoko bernama Junko Ishii untuk menggali informasi tentang suara anak bayi tersebut. Bukannya disambut hangat, Kobayashi justru diusir. Beberapa hari setelahnya, Kobayashi kembali pergi ke rumah Ryoko dan mendapatkan kabar jika Junko Ishii telah pindah. Kobayashi mencoba memeriksa halaman rumah Junko Ishii dan mendapati hal mengejutkan, terdapat sekumpulan merpati yang sudah mati. Lima hari kemudian, Ryoko Okui beserta anaknya meninggal dalam kecelakaan mobil yang dikemudikan oleh Ryoko.
Penelitian berlanjut dengan mendatangi rumah Kana Yano, anak dengan kemampuan psikis yang sempat tampil di acara TV. Beberapa waktu setelahnya, Kana dinyatakan hilang secara misterius setelah seorang teman laki-laki dengan penampilan fisik tidak biasa beberapa kali mengunjunginya. Kemudian, kobayashi dipertemukan dengan seorang aktris yang memiliki indera keenam bernama Marika Matsumoto dalam sebuah acara TV. Program tersebut membahas mengenai pengalaman supranatural ketika Marika pergi kesebuah kuil. Selepas acara, Kobayashi bertemu kembali dengan Marika untuk menyampaikan temuan penampakan sosok yang tidak ditayangkan dari potongan video ketika Marika kerasukan saat syuting di kuil. Marika mengaku jika setelah kejadian itu, dirinya memiliki suatu kebiasaan menggambar pola aneh di buku catatan tanpa sadar.
Kebiasaan misterius itu berlanjut dan Marika sering membuat simpul rumit dengan menggunakan tali, kabel, dan sejenisnya pada saat ia sedang tidur. Selain itu, suara berisik benturan sering terdengar dari sekitar tempat tinggal Marika. Namun, saat bertanya pada salah satu tetangga yang tinggal satu gedung, tetangga itu mengaku tidak mendengar suara apapun.
Penelitan dilanjutkan dengan mencari tempat tinggal seseorang berdasarkan peta yang digambar oleh seorang paranormal eksentrik bernama Mitsuo Hori. Hori ditemui oleh Kobayashi sebelumya untuk meminta bantuan dalam penelitiannya, informasi dari Hori adalah kunci dari permasalahan kasus ini. Tapi karena disampaikan dengan kurang jelas dan hanya berupa petunjuk-petunjuk selayaknya puzzle. Pada akhirnya Kobayashi perlu usaha ekstra untuk mencari tahu sendiri fakta dibalik petunjuk itu.
Osawa adalah orang yang dimaksud dalam peta Hori. Kediamannya sering didatangi merpati, berdasarkan keterangan tetangganya, dari arah rumah Osawa sering terdengar suara benturan. Masalah dalam cerita ini semakin memanas dengan beredarnya berita bunuh diri massal yang dilakukan di taman komplek sebuah apartemen. Dua dari tujuh orang tersebut yaitu Osawa dan tetangga apartemen Marika, bernama Midori. Menurut berita yang beredar, mereka gantung diri di tiang ayunan. Tali sebagai media bunuh diri mereka mirip sekali dengan simpul rumit hasil tangan Marika.
Benang merah dari penelitian kasus misteri ini mulai terlihat, suara benturan dan simpul tersebut memiliki keterkaitan dengan sebuah ritual kuno pemanggil iblis yang diberi nama “Kagutaba”. Ritual ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh desa Shimokage dan terakhir kali dilakukan pada 1978 sebelum desa tersebut terendam akibat pembangunan bendungan Shikami. Ritual terakhir yang dilakukan tidak berjalan mulus, anak perempuan pendeta Ishii saat itu memerankan Kagutaba dalam ritual, mengalami kesurupan sehingga ritual dihentikan.
Anak pendeta Ishii ternyata adalah Junko Ishii. Junko telah mengambil Kana untuk dijadikan perantara dalam ritual memanggil Kagutaba. Pelaksanaan ritual ini memerlukan beberapa peran sebagai syarat pelaksanaan, yaitu orang yang memerankan Kagutaba (wadah) adalah anak laki-lakinya sendiri dan perantaranya yaitu Kana, sebagai tumbal (anak monyet yang diganti dengan janin bayi) yang dibawa dari tempat Junko bekerja ketika menjadi perawat, dan pendeta atau pemimpin ritual. Namun, kebenaran sesungguhnya tidak bisa diungkap karena Junko Ishii bunuh diri setelah selesai melakukan ritual.
Akhir dari cerita ini rumah Kobayashi hangus terbakar beberapa hari setelah hasil penelitian terakhirnya sampai ke penerbit, api juga menewaskan istrinya. Mitsuo Hori ditemukan tewas di saluran air, Kobayashi dinyatakan hilang dan belum dapat ditemukan. Kobayashi menunjukkan integritas tinggi terhadap setiap kasus yang ia usut. Tak perduli seberapa sulit dan menakutkan misteri tersebut, kebenarannya harus terus dicari.
Alur film ini bisa dikatakan lambat. Akan tetapi hal tersebut tak lantas membuat penonton merasa bosan, justru penonton semakin dibuat penasaran dengan setiap kepingan kasus yang mulai terkuak hingga akhirnya sadar bahwa setiap kasus tersebut memiliki keterkaitan dengan kutukan ritual Kagutaba. Film ini juga minim penampakan dan adegan mengejutkan secara tiba-tiba sebagaimana film horor kebanyakan. Kemungkinan disebabkan oleh gaya pengambilan adegan yang menyerupai film dokumenter.
Pada awalnya, saya sendiri menganggap kalau film ini dibuat berdasarkan kejadian nyata dari seorang wartawan yang melakukan investigasi dalam bentuk video. Hal itu disebabkan karena peran yang dibawakan oleh tiap aktor dan aktris terasa sangat natural. Belum lagi di beberapa bagian penghubung antara kasus satu dan lainnya ditampilkan video klip dari acara tv dan berita. Seperti menarik penonton untuk semakin percaya jika semua kejadian adalah nyata.
Baca juga: Ketiadaan Payung Hukum yang Kuat
Ide film yang mengangkat tradisi dan fenomena mistis semacam ini mewakili kepercayaan yang masih melekat pada masyarakat di sana. Sampai saat ini, tayangan acara TV yang membahas tentang investigasi dari suatu kasus misteri sangat diminati oleh masyarakat. Secara keseluruhan, film dengan gaya mockumentary semacam ini masih sangat jarang. Hal itu membuatnya spesial dan pantas untuk dijadikan list tontonan bagi siapapun yang mungkin menyenangi film horor, namun tidak ingin terdapat adegan mengejutkan dan efek suara yang menegangkan.
Penulis : Sarah Dwi Ardiningrum
Mahasiswa Aktif Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta
Editor : Ahmad Hafids Imaddudien






