Ilustrasi: Shendyka Akmal Oktara

Aku sadar pendidikan dan wawasan tak kalah penting bagi perempuan. Seberapa penting? Sepenting asi kolostrum bagi bayi yang baru lahir.

***

Semburat jingga mewarnai langit sore. Wajahku diterpa angin sepoi-sepoi ketika sedang berjalan riang menjauhi warung kelontong dengan menenteng sebungkus es batu. Namun, tak lama saat melewati jalan depan rumah tetanggaku, Mbah Sahid, langkahku terhenti. Sayup-sayup telingaku mendengar suara jeritan perempuan, diikuti dengan bunyi bak! buk! bak! buk!

Aku terpaku. 

Aku tahu itu suara apa. Bukan aku saja yang tahu, seluruh desa bahkan juga mengetahui suara itu: Mbah Sahid sedang menghajar istrinya. Teriakan itu semakin nyaring, diiringi suara tangisan anak kecil. 

Aku menelan ludah. Haruskah aku melibatkan diri? Mbah Prapti, istri Mbah Sahid, membutuhkan pertolongan.

Aku hendak melangkah menuju rumah dengan daun kemangi berjejer di pekarangan itu, tapi urung karena tetesan es batu yang mengenai kaki. Ah, nanti kalau urusan ini menjadi lama—karena sudah pasti itu akan rumit—es batu ini akan meleleh dan aku tidak jadi minum es ketan hitam dengan adikku. Setelah berpikir sejenak, sepertinya tak perlu. 

Itu sudah biasa terjadi, bukan? Semua orang (di desaku) tahu itu. Aku melangkah menjauh dari tempat kejadian perkara.

***

Mbah Sahid berumur lima puluhan. Beberapa helai rambutnya sudah mulai

memutih dengan khas kulit gelapnya yang terbakar sinar matahari. Matanya tajam, rahangnya kokoh. Ia masih ada hubungan darah denganku lewat jalur paman dari ayah. Di sisi lain, sebetulnya dia belum terlalu sepuh. Jangan tanya soal cara berjalannya yang tegap. Ia masih kuat memukuli istrinya.

Bukan sekali-dua kali peristiwa itu terjadi. Mungkin sudah sejak aku belum lahir. Jika ada pertanyaan siapa wanita terkuat di bumi, salah satunya mungkin aku bisa menjawab: Mbah Prapti orangnya.

Mbah Prapti adalah perempuan paruh baya yang bermata sipit dengan badan kurus dan berperawakan tidak besar. Ia adalah pekerja keras yang ulet, perempuan yang amat sayang keluarga, tapi lupa menyayangi dirinya sendiri.

Keduanya dikaruniai dua orang anak lelaki. Sebut saja si Kakak Nakula dan si Adik Sadewa. Gurat muka mereka berdua mirip Mbah Prapti. Syukurlah. 

Mengapa syukurlah? Apa raut muka Mbah Sahid seburuk itu? 

Bukan, ini bukan tentang fisik. Aku bersyukur karena ketika memandang wajah dua bocah itu, aku tidak langsung teringat pada manusia paling menyebalkan yang pernah kutahu di dunia ini. Tapi, justru mengingatkanku pada perempuan paling malang yang pernah kutemui.

Andaikan Mbah Sahid adalah generasi Z, dia akan dijuluki lelaki black flag. Ya, bukan red flag lagi, tapi sudah derajat di atasnya. Kapan lagi da laki-laki dengan paket lengkap: kerap berjudi, minum, main tangan, berhutang tapi tidak mau bayar, sering bicara tidak sesuai fakta, suka menyombongkan diri, tidak mau mencari nafkah, dan ah… main wanita. Dan satu lagi, (sebenarnya ini bukan urusanku) tapi sudah menjadi rahasia umum kalau Mbah Sahid juga tidak pernah beribadah. Aku heran bukan main, bisa-bisanya semua kebiasaan buruk diborong?

Aku ingat sekali dulu waktu masih seumuran Sekolah Dasar pernah bermain bersama temanku di aliran sungai dekat rumah Mbah Sahid. Kulihat di samping rumah ada tumpukan botol yang kebanyakan berwarna gelap. Aku yang masih lugu bertanya-tanya dalam hati, itu tidak seperti botol sirup ataupun kecap. Lebih mirip botol-botol yang ada di berita TV yang berurusan dengan polisi. Tentu saja aku hanya melanjutkan bermain, tetapi bayangan botol dan rasa heran itu terpatri kuat dalam ingatanku.

Suatu waktu ada acara syukuran di rumah Mbah Sahid, seperti biasa asas gotong royong masih mengakar kuat. Tetangga-tetangga membantu persiapan acara, ibu-ibu menyiapkan makanan di dapur. Entah apa asal muasalnya, Mbah Sahid dan Mbah Prapti bertengkar. Lebih tepatnya, Mbah Sahid yang mengamuk, ia langsung menarik Mbah Prapti ke dalam kamar dan menutup pintu. Lantas terdengar bunyi bogem mentah yang dilepaskan disertai jeritan Mbah Prapti. Membuat semua orang yang di ruangan itu terkesiap, dan kejadian itu menjadi trending topic semua orang desa selama berminggu-minggu.

Semakin besar dan mulai memahami banyak hal, sering kudengar bisik-bisik tetangga saat berbelanja sayur bersama Bunda tentang Mbah Sahid. Orang-orang di desaku yang menyorotinya karena perilaku Mbah Sahid banyak yang dianggap menyimpang. Semua informasi yang kudapat memang tidak kulihat dengan mata kepalaku sendiri, tapi aku juga tak skeptis mengingat banyaknya saksi mata yang mengaku.

Jika aku tak habis pikir dengan Mbah Sahid, Mbah Prapti malah jauh lebih mengherankan lagi. Mungkin ini yang orang-orang bilang dengan kekuatan cinta, kesetiaan atau apalah itu. Yang jelas, jika ada nominasi tentang bertahan meski terus disakiti, pastilah Mbah Prapti pemenangnya.

Mbah Prapti memutuskan menjadi tenaga kerja di luar negeri, karena suaminya tidak bisa (atau lebih tepatnya tidak mau) menafkahi. Utang Mbah Sahid ada di

mana-mana. Belum termasuk biaya sekolah Nakula dan Sadewa beserta tetek bengeknya. Hidup harus terus berjalan. Tak ada pilihan lain, hanya pekerjaan itu yang Mbah Prapti tahu agar bisa mendapat gaji yang cukup besar. Maka berangkatlah ia ke negeri orang setelah menyapih si bungsu.

Namun, harapan untuk memperbaiki hidup itu bagai mengisi botol berlubang, sia-sia saja. Uang yang ditransfer Mbah Prapti tiap bulan dari seberang laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membayar utang rupanya disalahgunakan. Mbah Sahid menghambur-hamburkannya untuk berjudi dan menggaet perempuan lain.

Orang-orang yang dihutangi Mbah Sahid bertanya, “Mana utangmu? Katanya kau bayar setelah istrimu kerja di luar negeri?”

Mbah Sahid hanya menjawab ringan, “Tunggu dulu, antri dengan yang lain. Pasti kubayarkan.”

Jika Pak A menagih hutang, maka Mbah Sahid berkata sedang menyicil kepada Bu B dan menyuruh menunggu. Jika Bu B menagih hutang, maka Mbah Sahid mengaku sedang melunasi pak C dan menyuruh bersabar. Menciptakan urusan yang rumit dan berbelit-belit. Membuat hutang-hutang itu tak pernah selesai.

Jika berpikir Mbah Prapti sungguh kasihan karena dikhianati, anak-anaknya tak kalah kasihan! Membayangkan tinggal dengan sosok yang kasar dan tak segan memukul saja membuatku bergidik. Apalagi dengan segala image buruk Mbah Sahid yang sepertinya sudah mengakar dan sulit sekali tercerabut.

Aku libur kuliah dan pulang dari luar kota. Seperti biasa, Budhe (kakak perempuan Ayah) yang hobi memasak mengajakku membuat camilan di rumahnya. Saat kami sedang asyik mengobrol sambil mengaduk adonan, suara anak kecil memanggil terdengar dari depan. Aku beranjak dan menghampirinya. Oh, Sadewa. Kukira ia ingin membeli sesuatu di warung kelontong Budhe.

“Mau beli apa?” tanyaku.

“Mau pinjam uang.”

“Hah?” Aku memelotot pada wajah polos di depanku. 

Aku tidak salah dengar ucapan yang keluar dari mulut anak TK ini?

“Kenapa, Le?” Budhe muncul dari belakang. 

“Mau pinjam uang. Mau jajan tahu bulat.”

Tanpa banyak cakap, Budhe langsung mengeluarkan uang dari dalam kaleng kue bekas—tempat menyimpan kembalian uang toko. Lantas mengambil selembar dan memberikannya pada tangan mungil Sadewa. Bocah itu langsung pergi tanpa berterima kasih, menyisakanku yang masih melongo.

“Kamu dulu sewaktu TK pernah kepikiran berhutang? Kasihan, kan? Ini bukan hanya sekali-dua kali.” ujar Budhe pelan.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadaku. Tak terlihat, tapi rasanya sungguh sakit sekali. Mbah Prapti yang berada di luar negeri bukannya tak tahu hal itu. Ia tahu, tapi tetap bersikap seakan itu hal yang normal. Budheku kadang-kadang menelepon karena Mbah Sahid sering menyuruh anak-anaknya untuk berhutang rokok, gula, atau bahkan obat flu di warung Budhe. Mbah Prapti hanya mengiyakan dan menyuruh Budhe menghitung semuanya kemudian membayarkannya setiap awal bulan.

Budhe masih bertukar kabar dengan Mbah Prapti lewat aplikasi pesan. Mbah Prapti sering bertanya tentang kabar anak-anaknya, atau sekadar cerita bahwa ia masuk angin di negeri orang sana. Namun, Budhe tak pernah bercerita secara utuh tentang perilaku negatif Mbah Sahid. Bukannya tak mau, Budhe hanya merasa itu tak ada gunanya.

Beberapa orang pernah mengaku melihat Mbah Sahid membawa perempuan asing masuk ke dalam rumah. Orang-orang di desaku memandang hal itu tak elok dan

perlu ditindaklanjuti. Satu-dua yang mempunyai nomor telepon Mbah Prapti melapor padanya, berharap Mbah Prapti nun jauh di sana mengerti dan harus mengambil sikap.

Namun, apa yang terjadi? Mbah Prapti justru marah-marah dan menyangkal. Ia menuduh orang yang melapor telah mencari gara-gara dan mengadu domba dengan suaminya. “Mas Sahid tidak mungkin melakukan itu!”

Belum cukup, Mbah Prapti justru melapor pada suaminya. Alhasil, Mbah Sahid berang dan melabrak orang-orang yang mengadu pada istrinya. Padahal, seharusnya kemarahan itu ia simpan untuk dirinya sendiri. Orang-orang pun tak mau lagi melibatkan dirinya dengan hal menyangkut urusan Mbah Sahid. Kapok. 

Bagi Mbah Prapti, kepercayaan pada pasangan dalam pernikahan adalah segala-galanya. Mungkin itulah prinsipnya. Kepercayaan yang membabi buta dan membuatnya menutup mata dan telinga.

Begitu pun Ayahku, yang merupakan keponakannya. Ia juga kehabisan cara untuk berusaha menegur Mbah Sahid dan menyadarkan istrinya. Aku sering menguping (lebih tepatnya tak sengaja mendengar) bahwa Ayah, yang sebenarnya sebagai saudara malu, malah merasa ikut bertanggung jawab atas sikap Mbah Sahid. Tapi perangai Mbah Sahid benar-benar menggondokkan untuk sekadar diperbaiki. Salah satunya yakni suka melebih-lebihkan apapun tentang dirinya.

“Hari ini tadi aku beli bebek, digoreng dan diadu pakai lalapan dan sambal.” katanya tanpa ditanya.

Mbah Sahid sering bercerita tentang lauk-pauknya yang terasa mahal bagi sebagian orang di desaku, seolah ingin menekankan bahwa ia selalu makan enak dan berduit. Padahal, makan saja dari hasil kerja istrinya, tapi malah bangga dan menggembar-gemborkan seakan-akan ia sendiri yang banting tulang. Ia seperti hilang ingatan bahwa anaknya sering kelaparan dan meminjam uang ke Budhe untuk membeli makanan atau jajan.

Ya Tuhan… aku memang belum bekerja dan masih bergantung pada orang tua, sehingga merasa menjadi beban keluarga. Tapi, setidaknya aku bukan Mbah Sahid yang punya dobel tanggungan: keluarga dan sosial. Jika aku mulai bersedih, sepertinya aku harus membandingkan diri dengan Mbah Sahid yang menjadi beban semesta tanpa merasa bersalah.

Sungguh demi apapun, aku tak habis pikir. Apa yang membuat Mbah Prapti ingin menikah dengan Mbah Sahid dulu? Atau setidaknya, apa yang membuat ia merasa berdebar-debar dan yakin bahwa “Inilah lelaki yang aku ingin hidup bersamanya”?

Aku berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan seandainya menjadi Mbah Prapti, “Apa yang membuat ia bertahan?” dari yang masuk akal hingga yang paling nyeleneh. Jika ada perempuan yang memilih teguh dengan pasangan red flag, biasanya, paling tidak, mungkin ada satu atau dua alasan karena ketampanan, finansial, jabatan, kekuasaan, atau sekadar kenyamanan. Tapi, itu semua tak ada dalam diri Mbah Sahid.

Ketampanan? Jauh sekali. Kemampuan finansial, jabatan, kekuasaan? Jelas tidak. Kenyamanan? Bagaimana mungkin merasa nyaman hidup dengan orang yang bahasa cintanya physical attack?

Aku tak mau mati penasaran. Namun, juga kecil kemungkinanku bisa deeptalk dengan Mbah Prapti, maka aku hanya bisa mengimajinasikan alasan yang sekiranya cukup masuk akal dan kuat. Mbah Prapti terjebak dalam ilusi kesetiaan.

Jika orang-orang di desaku hanya menganggap Mbah Prapti cinta buta atau bahkan mengaitkannya dengan hal mistis (menduga Mbah Sahid mempunyai semacam jimat atau pelet untuk membuat Mbah Prapti terus di sisinya), kurasa tidak sesederhana itu. Ada faktor lain yang lebih kompleks yaitu ‘Rasa tanggung jawab’.

Mungkin Mbah Prapti merasa “terikat” karena sudah mempunyai anak dan menjalani rumah tangga bersama Mbah Sahid cukup lama. Jadi, dirinya merasa harus tetap menjalani semuanya meski pahit.

Namun, Mbah Prapti sepertinya lupa bahwa “dengan siapa bertahan” itu juga sangat penting. Mbah Sahid bukan hanya suami, melainkan juga seorang ayah dan kepala keluarga—posisi yang seharusnya menjadi pusat teladan, terutama bagi anak-anaknya.

Ah.. ada satu lagi kisah memilukan terkait ini. Nakula, si sulung itu teman sebaya yang merupakan cucu Pak Kades (kepala desa). Cucu Pak Kades mengajak Nakula bermain di rumah sang kakek. Seperti anak kecil pada umumnya, mereka bermain petak umpet.

Nahas, tepat setelah kejadian itu, ponsel Pak Kades menghilang. Dicari-cari di setiap sudut rumah tetap tidak ketemu. Siapa yang menyangka dan berpikiran bahwa ponsel itu dicuri oleh Nakula yang masih kelas lima SD? 

Namun, nyatanya hal itu terjadi. Berita ponsel pak Kades hilang itu dengan cepat menyebar, hingga salah satu pemilik counter handphone yang masih teman akrab Pak Kades mengatakan, sepertinya ia mengenali ciri-ciri telepon seluler tersebut. Rupanya ada di tokonya yang memang menerima ponsel bekas, dijual oleh Mbah Sahid beberapa hari setelah Nakula pulang bermain dari rumah Pak Kades.

Tentu saja, orang-orang dengan segera bisa merangkaikan dan menghubungkannya dengan mudah. Nakula mencuri-curi kesempatan mengambil ponsel milik Pak Kades sewaktu bermain, dan memberikannya pada ayahnya.

Orang tua yang waras dan normal tentu saja akan memarahi anaknya dan mengembalikan barang tersebut pada pemiliknya. 

Namun, seperti yang sudah kubilang, Mbah Sahid adalah manusia yang di luar nalar perilakunya: ia justru menjual ponsel itu. Lekas saja, lagi-lagi insiden itu menjadi buah bibir yang seru. Dibahas saat jual-beli sayur, di warung-warung kopi, atau saat jalan-jalan pagi. Lagi-lagi nama Mbah Sahid naik daun. Ah… buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Kembali lagi ke Mbah Prapti. Boleh jadi, selanjutnya barangkali Mbah Prapti merasa ada norma atau tekanan sosial yang harus dipatuhi. Ia berpikir, “Nanti kalau aku meminta cerai, pasti dijuluki istri durhaka.” atau takut menjadi buah bibir tetangga dan keluarga (padahal ini sudah terjadi juga). Mbah Prapti pasti tidak akan menyangka bahwa ada yang memberi gelar ‘black flag’ pada suaminya, yaitu aku. 

Kadang kala, seseorang tetap bertahan karena selalu berharap pasangannya bakal bisa berubah, meskipun realitanya tidak ada perubahan sama sekali. Mbah Prapti memiliki pemikiran “I can fix him”, atau “He will change one day”. Bisa jadi, dan lebih dapat dipahami lagi jika dulu, sewaktu akan menikah atau di awal pernikahan, Mbah Prapti adalah korban love bombing dari Mbah Sahid. Hal itu membuat Mbah Prapti ingin Mbah Sahid seperti dulu dan bersedia menanti, bahkan mungkin jika harus seumur hidup. “Ini bukan dirimu, tolong kembalilah seperti dulu.”

Padahal, kenyataannya bukan siapa yang berubah, hanya saja topengnya terlepas. Atau jangan-jangan ketakutan akan kesendirian yang menjadi penyebabnya? Ada orang yang lebih takut menjalani hidup sendirian atau kesepian ketimbang bertahan dalam hubungan yang menyiksa. Mungkin, Mbah Prapti tidak ingin kehilangan identitas sebagai “istri” atau “bagian dari seseorang”. Bisa juga, ia tumbuh dengan nilai bahwa seorang perempuan harus bertahan dalam pernikahan, bagaimanapun keadaannya.

Memang, menjadi lajang dan dipaksa kuat sendirian itu kadang menyesakkan. Namun, bukankah menikah itu salah satu esensinya adalah membagi beban? Yang tadinya dipikul sendiri akhirnya menjadi berdua, sehingga kehidupan terasa lebih mungkin untuk dijalani.

Ini? Beban Mbah Prapti malah rangkap dua. Bukankah lebih baik baik sendiri daripada bertahan dengan seseorang yang tak pernah benar-benar hadir? Tapi siapalah aku—yang masih muda dan belum menikah—untuk bicara seperti itu?

Yang tidak aku mengerti adalah bahwa Mbah Prapti-lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia yang mencari uang, dengan kata lain memiliki power secara finansial. Selama ini, yang kutahu para perempuan yang terpaksa bertahan dalam rumah tangga yang tak bahagia biasanya mereka dalam posisi inferior: masih bergantung pada suami terutama dari sisi ekonomi.

Ternyata perempuan belum tentu bisa lepas dari hubungan toksik meskipun memiliki kekuatan. Mungkin kembali lagi pada alasan-alasan milik Mbah Prapti yang kurangkai sendiri. Karena kesadaran, kemauan, dan kemampuan adalah hal yang berkelindan dan tak dapat dipisahkan untuk keluar dari lingkaran hitam tersebut.

***

Mbah Sahid jatuh sakit. Tubuh legamnya tergolek di ranjang rumah sakit. Kata dokter, ia terkena serangan jantung. Ada penyumbatan pada pembuluh darah koroner yang memasok darah ke jantungnya. Mbah Prapti tergopoh-gopoh pulang dari luar negeri mendengar berita itu. Majikannya amat baik hati. Ia diberi ongkos pesawat untuk menengok suami tercintanya dan dengan telaten merawat Mbah Sahid.

Aku ikut Ayah menjenguknya, meski sewaktu sehat, Mbah Sahid sempat berseteru dengan saudara-saudaranya perihal utang yang tak ingin ia bayar dan berkata kalau dirinya tak akan menghubungi siapapun lagi, bahkan saat sakit. Sebagai keponakannya, Ayah tetap saja tak tega. Mbah Sahid mengeluh bukan main. Berkali-kali bilang kalau dadanya nyeri. Lucunya, Mbah Sahid harus sering-sering sujud di atas kasur untuk mengurangi rasa sesak.

“Yah, itu mungkin tandanya Mbah Sahid disuruh ibadah.” bisikku, Ayah berusaha menahan tawa.

Selanjutnya, aku hanya diam menyaksikan Mbah Sahid meracau—menjadi saksi bagaimana Tuhan sedang menegur seorang hamba. Bukankah sakit adalah waktu kita untuk mengevaluasi diri, baik dari segi fisik maupun mental? Mungkin ada yang salah dengan pola hidup kita selama ini? Atau jika sudah benar pun, mungkin diri kita sedang diberi kesempatan untuk merenung dan memulai awal baru.

Aku harap, Mbah Sahid sadar dan mengerti. Sudah bagus nyawanya tidak dicabut secara mendadak.

***

Beberapa hari setelahnya, Mbah Sahid diperbolehkan pulang. Dari teras rumah, aku menyaksikan Mbah Sahid turun dari mobil milik salah satu tetangga dengan tuntunan Mbah Prapti. Seharusnya itu pemandangan yang romantis sekali, bukan?

“Kak Sekar sedang melihat apa?” tanya adik perempuanku yang tiba-tiba muncul. Aku tergagap, melanjutkan kegiatan menyapu yang terhenti. “Bukan apa-apa.” “Kak, Mama punya ketan hitam. Kita buat es, yuk!”

“Memangnya di kulkas ada es batu?” Tanyaku yang dibalas gelengan kepala olehnya.

“Kalau begitu Kakak beli dulu, ini kamu lanjutkan, ya.” Aku menyodorkan sapu pada adikku yang seketika memberengut disuruh menyapu.

Aku berjalan santai menuju tempat penjual es batu yang berarti harus melewati rumah Mbah Sahid yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumahku. Ah, pasti segar sekali sore-sore dengan cuaca cerah ini minum es ketan hitam. 

Aku menelan ludah.

Saat pulang dari membeli es batu, aku mendengar suara ribut-ribut dari rumah Mbah Sahid. Diiringi suara sesuatu yang dipukul dengan benda tumpul dan jeritan. Aku menghela napas panjang.

Entahlah. Duh… Semesta, aku bukannya bermaksud untuk tutup mata, aku hanya tak ingin menolong orang yang tak ingin ditolong. Baik Mbah Prapti maupun Mbah Sahid, mereka berdua sama-sama memiliki pilihan. Ya, itu pilihan mereka: tetap terjebak pada kebiasaan lama.

Aku mempercepat langkah, adikku menunggu. Angin senja bertiup sepoi. Membawa pemahaman yang seolah langsung ditancapkan di kepalaku. Pendidikan dan wawasan tak kalah penting bagi perempuan. Karena dengan dua hal itu perempuan memiliki kesempatan untuk berpikir lebih luas, dan menyadari bahwa ia memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Dirinya juga penting untuk dicintai.

Seringkali, perempuan merasa bahwa dunia seakan kiamat jika ia berusaha melawan, atau ketika ia berusaha keluar dari siklus, atau takut memulai sesuatu yang baru. Padahal, bisa jadi itulah keputusan yang lebih baik. Tiup lilin itu sebelum meleburkan dirinya sendiri hanya untuk menerangi ruang-ruang gelap yang bahkan belum tentu pantas untuk dipertahankan.

Untuk Mbah Prapti lain di luar sana, tolong pikirkan… seumur hidup itu terlalu lama.

Penulis: Abril Nabila Taufik

Penulis

  • Saya mahasisiwi kelahiran 21 April 2004 yang sedang menempuh pendidikan semester 6 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Saat ini saya menjabat sebagai Redaksi Pelaksana Buletin di LPM Locus UIN Raden Mas Said Surakarta.

Also Read

Tinggalkan komentar