LPM Pabelan

UMS, pabelan-online.com – Beberapa mahasiswa mengungkapkan pandangannya terkait rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, untuk tetap memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di perguruan tinggi meski tahap vaksinasi Covid-19 pada tenaga pengajar telah selesai.

Vaksinasi corona untuk mahasiswa dan dosen akan berlangsung pada Maret sampai Juni mendatang. Saat ini, pemerintah tengah mengkaji pembukaan perguruan tinggi usai pelaksanaan vaksinasi Covid-19 pada tenaga pendidik. Namun, Mendikbud menyebutkan opsi jika mahasiswa juga bisa tetap menjalankan kuliah daring meski kuliah tatap muka sudah digelar.

Adanya wacana tersebut rupanya menuai perdebatan dari para mahasiswa. Sementara itu, beberapa mahasiswa mengaku tidak setuju dengan rencana tersebut. Seperti, Farah Hamidah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengungkapkan pandangannya terkait rencana tersebut. Ia mengaku bahwa sangat disayangkan jika pembelajaran jarak jauh tetap dilaksanakan meskipun tenaga pendidik sudah selesai divaksinasi.

“Kegiatan daring ini sudah berjalan satu tahun, kalau bisa setelah dilakukan vaksinasi pembelajaran tatap muka bisa segera dibuka kembali,” ungkapnya, Jumat (19/3/2021).

Menurutnya, pembelajaran daring selama ini masih kurang efektif, karena terdapat beberapa kendala seperti jaringan internet yang tidak stabil dan sulitnya berkonsentrasi ketika pembelajaran berlangsung.

“Semoga pembelajaran offline dapat segera terlaksana. Tentunya dengan selalu menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” harapnya, Jumat (19/3/2021).

Baca JugaMahasiswa Akan Segera divaksin, Akankah Pembelajaran Tatap Muka dibuka Kembali?

Dilansir dari cnnindonesia.com, Mendikbud Nadiem Makarim akan memastikan tetap membuka sekolah tingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK setelah vaksinasi Covid-19 tenaga pengajar selesai. Menurutnya, hanya perguruan tinggi yang masih bisa melakukan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19.

Sementara itu, perkuliahan secara daring atau luring akan tetap menjadi keputusan rektor perguruan tinggi masing-masing.

“Ujung-ujungnya keputusan rektor untuk melakukan tatap muka. Karena mereka yang paling possible masih bisa melakukan PJJ,” kata Nadiem dalam rapat kerja bersama DPR Komisi X DPR, mengutip dari cnnindonesia.com.

Mendukung rencana Mendikbud, Viky Nur Vambudi, Fakultas Agama Islam (FAI) UMS ikut menanggapi isu tersebut. Menurutnya opsi yang ditawarkan Mendikbud tersebut sudah benar. Jika dosen sudah divaksin sedangkan mahasiswa belum menerima vaksin dikhawatirkan akan memunculkan cluster baru Covid-19.

“Saya kira sebelum Mendikbud mengeluarkan opsi tersebut, pastinya sudah mengkaji dengan pihak-pihak yang terkait seperti satgas covid,” ujarnya, Sabtu (20/3/2021).

Terkait pembelajaran tatap muka, kekhawatiran dari mahasiswa akan terus ada. Dikarenakan pandemi sudah satu tahun melanda dan masih ada beberapa orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Mahasiswa yang jumlahnya banyak akan sulit dilakukan pengawasan protokol kesehatan terhadap mahasiswa, apalagi ketika perkuliahan luring berlangsung.

Ia menambahkan, bahwa untuk pembelajaran tatap muka masih belum aman dikarenakan pandemi masih belum sepenuhnya terkendali. “Pembelajaran daring ini semoga tenaga pendidik mempunyai metode pembelajaran yang efektif dan tidak menyulitkan mahasiswa,” tambahnya, Sabtu (20/3/2021).

Rahmat Fauzi Hidayat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember juga sepakat dengan rencana tersebut. Menurutnya, perkuliahan saat ini lebih baik dilakukan secara online agar laju Covid-19 dapat segera terkendali.

Di akhir wawancara, Ia menuturkan,  jika perkuliahan dilakukan secara offline akan mengakibatkan terjadinya kenaikan jumlah kasus Covid-19, dikarenakan kekebalan tubuh setiap orang berbeda-beda.

“Aman dan tidaknya perkuliahan offline itu tergantung pada keadaan orang masing-masing, jika orang tersebut imunnya kuat maka tidak akan mudah terserang penyakit. Tetapi sebaliknya jika imunnya lemah maka akan mudah terkena Covid-19, Jadi di mana pun kita berada harus selalu mematuhi protokol kesehatan,” tambahnya, Sabtu (20/3/2021).

 

Reporter         : Jannah Arruum Sari

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja

 

 

Also Read

Tinggalkan komentar