Sumber: tangkapan layar unggahan akun @kemahasiswaan.ums

Pabelan-online.com, UMS – Sebanyak lima tim organisasi kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui program tersebut, mahasiswa akan menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa mitra sebagai bagian dari tahapan menuju Abdidaya Ormawa

Muhammad Al Fatih Hendrawan, Kasubdit Talenta, Inovasi, dan Prestasi Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS menjelaskan bahwa PPK Ormawa merupakan program yang bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan desa. Tahun ini, lima tim yang lolos pendanaan akan melaksanakan program pengabdian selama empat bulan sebelum memasuki tahapan seleksi menuju Abdidaya Ormawa.

“Jumlah yang lolos Abdidaya belum bisa diketahui pada saat ini. Tergantung nanti di dalam pelaksanaan setiap tim PPK Ormawa yang lima tim itu tadi. Pada bulan Oktober setiap tim harus mempresentasikan hasil pelaksanaan PPK Ormawa dan mempertanggungjawabkannya,” ujarnya ketika dihubungi secara daring pada Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, setiap progres pelaksanaan program akan dievaluasi selama tiga hingga empat bulan ke depan, sebelum akhirnya penentuan tim yang berhak mengikuti tahapan Abdidaya. Untuk mendukung pelaksanaan program, pihak universitas telah memberikan bimbingan teknis (bimtek), membentuk tim monitoring dan evaluasi (monev) internal, serta menyiapkan pendampingan berkala bagi seluruh tim.

“Setiap tim setidaknya tiga sampai empat kali akan menghadapi tim pemonev. Tidak hanya di kampus, tetapi juga sampai ke desa untuk melihat secara langsung pelaksanaan program dan bertemu dengan mitra desa,” jelas Fatih.

Selain pendampingan, UMS juga memberikan dana insentif pendamping sebesar Rp2 juta untuk setiap tim dan membuka peluang pengajuan Hibah Penelitian dan Pengabdian Ormawa (PPO) hingga Rp3 juta guna memperkuat implementasi program di lapangan.

“Setiap Ormawa yang mendapatkan hibah PPK Ormawa juga diharapkan mengajukan hibah PPO. Besarnya sampai Rp3 juta sehingga dana yang menjadi support pelaksanaan program menjadi semakin besar,” tambahnya.

Salah satu tim yang berhasil memperoleh pendanaan tahun ini berasal dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS. Melalui skema Desa Wirausaha, tim tersebut mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis pengolahan alpukat dan susu di Desa Musuk, Boyolali.

Fidelia, Ketua Tim IMM FIK UMS mengatakan bahwa program tersebut lahir setelah tim melakukan riset lapangan dan menemukan potensi alpukat serta susu yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat. Program ini menyasar ibu rumah tangga sebagai kelompok utama pemberdayaan.

“Program ini bertujuan mengatasi rendahnya nilai ekonomi komoditas alpukat dan susu yang selama ini dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul dengan harga yang relatif rendah,”  ujarnya saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp, Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa tim akan memberikan pelatihan pengolahan produk turunan alpukat, manajemen usaha, hingga pemasaran digital untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi pelatihan pembuatan produk inovatif berupa teh daun alpukat, yogurt alpukat, dan selai alpukat sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas alpukat,” jelasnya.

Selain IMM FIK, tim PPK Ormawa PRISMA juga berhasil memperoleh pendanaan tahun ini melalui program bertema Desa Sehat yang akan dilaksanakan di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Rengga, Ketua Tim PPK Ormawa PRISMA, menjelaskan bahwa desa tersebut dipilih karena memiliki angka prevalensi stunting yang tinggi serta kasus diare yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

“Program-program yang kami susun menjadi solusi atas permasalahan yang ada di desa tersebut,” ujarnya pada Kamis (4/6/2026).

Sebagai upaya menjawab persoalan tersebut, tim PRISMA menyiapkan sejumlah program, seperti Kelas Ibu Anti Stunting (KIAS), Kelas Ibu Atasi Diare (KIAD), B-SMART (Blimbing Sistem Akuaponik dan Ramuan Tradisional), serta program sanitasi lingkungan melalui kegiatan gotong royong dan Cuci Tangan Pakai Kaki (SEKAKI).

Saat ini, tim PRISMA masih berada pada tahap awal pelaksanaan program melalui audiensi dengan pemerintah desa dan pihak terkait. Menurut Rengga, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah memastikan seluruh kegiatan terdokumentasi dengan baik sekaligus menjaga koordinasi antar pihak yang terlibat.

“Tantangan terbesar dalam pelaksanaan program adalah penyusunan logbook yang sesuai dan detail, karena evaluasi tahun ini lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, kekompakan tim dan kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi hal yang harus diperhatikan,” ungkapnya.

Meski demikian, tim PRISMA tetap optimistis dapat menjalankan program secara maksimal dan melaju hingga tahap Abdidaya.

“Target kami tidak hanya lolos ke Abdidaya, tetapi juga mampu meraih prestasi pada berbagai kategori penghargaan yang tersedia,” tambah Rengga.

Reporter : Fara Himatul Ahya 

Editor: Baso Muh Wahidin

Also Read

Tinggalkan komentar