Kapolresta Surakarta Catur Cahyono Wibowo menemui massa aksi yang mendesak klarifikasi terkait penangkapan dua mahasiswa. (12/6) Foto: LPM Pabelan/Aqnan Syandi Syahsena

Pabelan-online.com, UMS – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Solo Raya (SR) adakan Aksi Indonesia Darurat Reformasi pada Jumat, 12 Juni 2026 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surakarta. Bawakan beberapa tuntutan, dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sempat ditangkap oleh aparat kepolisian.

“Saya lagi pasang flyer, tiba-tiba seorang aparat merangkul kami berdua,” ungkap Angga—bukan nama sebenarnya, salah seorang yang sempat tertangkap di tengah aksi, Jumat (12/6/2026).

Angga menceritakan bahwa polisi tersebut menanyakan terkait identitasnya.

“Mahasiswa apa bukan?”, 

“Iya, pak. Mahasiswa UMS”,

“Ngapain? Almetnya mana?”,

“Ya, di kosan pak”,

“Terus ini mau ngapain? Bawa molotov ga?”,

“Ngga pak, bawa poster aja”,

“Mana posternya?”, 

Setelah menunjukkan flyer tersebut, polisi berpakaian “preman” langsung mengatakan “Kalian mau provokasi pakai poster ini, yaudah ikut dulu aja.”

Lalu ia bersama Dony—bukan nama sebenarnya, langsung dibawa menuju ke Polresta Surakarta menggunakan mobil. Namun, sebelum sampai tempat, ia dikembalikan ke depan DPRD Surakarta. Alasannya, menurut Angga, karena penangkapan tersebut ketahuan oleh massa aksi sehingga massa segera mendesak pihak kepolisian untuk membebaskannya. 

Angga menganggap polisi terlalu buru-buru dan mudah dalam menyimpulkan karena Polisi sama sekali belum membaca flyer yang ia tunjukkan, tapi sudah mewaspadainya sebagai provokator. 

“Hipotesisnya terlalu berlebihan menurut saya. Karena ini belum menjadi hal yang aktual, baru potensial, lalu ada hipotesis tersebut akhirnya kami diangkut,” jelasnya.

Kapolresta Surakarta Catur Cahyono Wibowo, sedang berkomunikasi lewat telepon didepan awak media. (12/6) Foto: LPM Pabelan/Aqnan Syandi Syahsena

Akhirnya, pihak kepolisian pun didesak untuk menghampiri massa aksi. Saat dimintai alasan penangkapan tersebut, Kapolresta Surakarta Catur Cahyono Wibowo, mengaku bahwa polisi hanya menanyakan terkait kegiatan yang berlangsung.

“Yang pasti tadi kita tidak menculik ataupun yang lain-lain, ya. Kita hanya menanyakan terkait kegiatan itu aja, ya,” ujar Catur saat menemui massa aksi, Jumat (12/6/2026).

Ketua DPRD Surakarta Budi Prasetyo juga turut memberikan jaminan terkait keamanan massa. Ia menyatakan bahwa pihak DPRD akan mengkoordinasikan jika terdapat massa yang ditangkap di kemudian hari. 

“Akan kami komunikasikan dengan kepolisian, akan kami bebaskan,” ucap Budi saat berdiskusi dengan massa, Jumat (12/6/2026).

Reporter: Fauziah Salma Anfihar
Editor: Aqnan Syandi Syahsena

Penulis

  • Mahasiswa S1 Sistem Informasi UMS yang sedang berusaha mencintai dan menjiwai dunia literatur. Berkontribusi dalam penyusunan Majalah 'Azima edisi 12 dan 13. Bergabung di LPM Pabelan sejak 2025.

Also Read

Tinggalkan komentar